“Saya sampai pada kesimpulan bahwa supreme power saat ini berada di tangan Prabowo. Prabowolah yang memegang sarung pelindung sekaligus mata penghancur, bisa menaungi, bisa pula menghunus,” kata Nurul Fatta kepada RMOL, Kamis, 15 Oktober 2026.
Ia mengibaratkan pergeseran pusat kekuasaan dari Joko Widodo kepada Prabowo seperti perpindahan Keris Empu Gandring. Jika sebelumnya keris tersebut berada dalam genggaman Jokowi, kini kendalinya dinilai telah berpindah kepada Prabowo.
Fatta menjelaskan, pada masa kepemimpinan Jokowi, keris itu diibaratkan dapat digunakan untuk menghadapi lawan politik maupun partai yang berseberangan. Namun, dalam situasi politik saat ini, Prabowo dinilai menjadi sosok yang memegang kendali tersebut.
Meski demikian, Fatta mengingatkan bahwa kisah Keris Empu Gandring juga menyimpan peringatan tentang bahaya kekuasaan yang mengandalkan kemampuan untuk menghunus kekuatan.
Dalam legenda tersebut, keris Empu Gandring dikutuk hingga menelan korban dari tangan ke tangan, termasuk pembuatnya sendiri dan Ken Arok.
“Artinya yang dapat kita pahami adalah bagi siapa pun yang memegangnya, bahwa kuasa yang bertumpu pada kemampuan menghunus selalu menyimpan risiko, dan pemegang keris harus waspada agar bilahnya tidak berbalik arah,” ujarnya.
Nurul Fatta juga menyinggung masa awal pemerintahan Prabowo. Menurutnya, dalam masa transisi kekuasaan, keris tersebut beberapa kali diibaratkan berbalik menghunus pemegangnya sendiri.
Analogi itu menjadi pengingat bahwa kekuasaan yang besar tidak hanya memberi kemampuan untuk mengendalikan pihak lain, tetapi juga menyimpan risiko bagi orang yang menggenggamnya.
BERITA TERKAIT: