Pengamat pertahanan dan intelijen Susaningtyas Nefo Kertopati mengatakan momentum HUT ke-81 TNI harus menjadi kesempatan untuk melakukan pembenahan internal maupun eksternal secara menyeluruh.
“Pada momentum ini agenda TNI, baik pembenahan internal maupun eksternal, harus bertransformasi menjadi kekuatan pertahanan yang profesional, modern, dan tetap selaras dengan prinsip demokrasi,” ujar Susaningtyas kepada wartawan di Jakarta, Senin, 5 Oktober 2026.
Efektivitas TNI juga perlu ditopang kemampuan Alutsista yang sesuai dengan kebutuhan pertahanan. Modernisasi harus dilakukan secara transparan dan adaptif terhadap perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), sistem nirawak atau drone, serta kemampuan siber.
Kondisi geografis Indonesia yang luas, khususnya di wilayah laut dan udara, menjadi tantangan bagi kemampuan pengawasan dan pertahanan TNI. Karena itu, pengadaan Alutsista harus dilakukan secara akuntabel dengan mempertimbangkan kebutuhan dan kemampuan anggaran.
Keterbatasan anggaran serta ketersediaan produk dari negara produsen membuat pemenuhan Alutsista baru tidak selalu mudah. Alutsista baru juga membutuhkan biaya besar dan waktu konstruksi sekitar empat sampai lima tahun.
“Alutsista yang baru memiliki harga yang sangat mahal dan proses konstruksi bisa empat sampai lima tahun. Itulah mengapa kita terpaksa membeli Alutsista bekas,” jelasnya.
Di saat yang sama, penguatan TNI tidak hanya bergantung pada pengadaan Alutsista. Kemandirian industri pertahanan melalui riset dan inovasi diperlukan agar Indonesia mampu menghasilkan Alutsista yang sesuai dengan kebutuhan pertahanan nasional.
“Kemandirian produksi Alutsista merupakan elemen vital dalam mencapai efektivitas Sishankamrata. Dibutuhkan riset yang berkelanjutan untuk inovasi produk Alutsista di masa mendatang,” pungkasnya.
BERITA TERKAIT: