Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria mengatakan pembahasan dalam rapat tersebut tidak hanya berfokus pada Karhutla, tetapi juga menyangkut pemanfaatan lahan gambut secara berkelanjutan.
"Pertama tentu masalah Karhutla yang harus kita selesaikan. Yang kedua adalah bagaimana sustainable use dari gambut. Karena kalau kita lihat kawasan hidrologis gambut itu kan 24 juta hektare. Dan berbasis pada peraturan pemerintah, pemanfaatan itu kan maksimum 70 persen. Dan fungsi lindung minimum 30 persen," ungkapnya saat tiba di Istana.
Arif mengatakan pengelolaan gambut perlu dirancang secara tepat dengan mempertimbangkan aspek keberlanjutan. Hal tersebut penting mengingat kawasan hidrologis gambut juga menjadi ruang hidup bagi puluhan juta penduduk.
"Karena itu saya yakin hari ini Pak Presiden mengundang para ahli, para pakar untuk membahas masalah pengolahan gambut ini," kata dia.
Menurut Arif, akademisi yang diundang berasal dari berbagai perguruan tinggi seperti IPB, UI, ITB, Universitas Tanjungpura, serta beberapa kampus lainnya.
"Akademisinya ada dari BRIN. Kemudian dari IPB, dari UI, dari ITB. Kemudian juga ada beberapa dari Universitas Tanjung Pura dan beberapa kampus. Tadi saya melihat daftar yang ada," pungkasnya.
BERITA TERKAIT: