Badan Gizi Nasional (BGN) mencatat jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Indonesia mencapai 27.485 unit yang beroperasi secara resmi.
Program MBG juga menyerap tenaga kerja langsung sebanyak 1,29 juta orang, dan di antaranya adalah disabilitas dan kaum perempuan. Sedangkan jumlah UMKM Bumdes Koperasi yang terlibat 412.275 sebagai pemasok bahan baku makanan sekitar dapur SPPG.
Juru bicara 98 Resolution Network, Supriyanto memastikan bahwa
framing melalui media sosial yang menuding MBG sebagai penyebab naiknya harga pangan kebutuhan pokok sehari-hari masyarakat adalah tidak benar.
"Yang benar, permintaan (demand) meningkat tetapi penawaran (supply) tetap sehingga terjadi ketidakseimbangan harga di pasar," kata Supriyanto melalui keterangan tertulis di Jakarta, Senin 26 Oktober 2026.
Meski demikian, dari diluncurkannya program MBG, kata Supriyanto, terkuak fakta bahwa selama ini banyak anak sekolah, balita, ibu hamil dan ibu menyusui yang tidak mampu membeli makanan sesuai kadar gizi minimalnya.
"Ketika negara hadir membelanjakan makanan bergizi, terjadi peningkatan konsumsi secara siginifikan yang mengakibatkan lonjakan permintaan bahan pangan," kata Supriyanto.
Pemerintah dalam hal ini kementerian terkait dan pemerintah daerah diharapkan segera melakukan peningkatan produksi di setiap daerah.
Data BGN mencatat dengan adanya MBG terjadi penurunan siswa lapar. Angka siswa yang datang dalam kondisi lapar berkurang signifikan dari 56 persen ke level 16 persen.
"Peningkatan konsumsi protein hewani pada anak-anak juga meningkat dari sekitar 26 persen menjadi 84 persen," kata Supriyanto.
Lewat program MBG, lanjut Supriyanto, Presiden Prabowo Subianto telah berhasil mengentaskan kemiskinan, kelaparan dan membuka lapangan kerja.
BERITA TERKAIT: