Persoalan tersebut menjadi salah satu sorotan dalam Festival Manglayang 2026 yang digelar Pentahelix Center di Sumedang, Jawa Barat belum lama ini.
Ketua Pentahelix Center, Alip Purnomo mengatakan, koperasi seharusnya menjadi jalan masyarakat untuk membangun kekuatan ekonomi bersama, bukan sekadar badan usaha yang sulit dijangkau rakyat.
“Banyak persoalan koperasi ternyata bukan semata-mata terletak pada koperasinya, melainkan pada cara pandang yang selama ini keliru. Koperasi terus dipersepsikan sebagai bisnis rumit hingga membentuk semacam lingkaran setan yang membuat masyarakat semakin menjauhinya. Ada semacam upaya mengelabui masyarakat tentang hakikat koperasi,” kata Alip dikutip Senin, 19 Oktober 2026.
Menurutnya, koperasi merupakan instrumen konstitusional untuk mendorong demokratisasi ekonomi dan mewujudkan kesejahteraan rakyat. Karena itu, pemahaman mengenai prinsip dan tujuan koperasi perlu diperkuat agar masyarakat dapat mengambil peran lebih besar dalam menentukan arah kegiatan ekonominya.
Digelar pada 17 Oktober 2026, Festival Manglayang mempertemukan seni, kebudayaan lokal, pengalaman petani, dan pendidikan koperasi dalam satu ruang dialog.
Salah satu penampilan yang menarik perhatian adalah pembacaan puisi berjudul “Maling” oleh penyair Malaysia, Moh Diani alias Bung Kancil. Melalui satire, puisi tersebut mengangkat persoalan kekuasaan, keadilan, serta batas antara pencurian dan tindakan yang berlindung di balik jabatan maupun kewenangan.
Meski tidak secara langsung membahas koperasi, puisi tersebut membuka refleksi tentang siapa yang menguasai sumber daya ekonomi dan siapa yang menikmati hasilnya.
Resmikan Sekolah Penggerak Koperasi
Festival Manglayang juga menandai peresmian Spektra atau Sekolah Penggerak Koperasi Nusantara. Pembukaan dilakukan melalui penandatanganan para peserta, dengan kelas perdana menghadirkan Amrul Hakim, aktivis koperasi asal Kendal yang juga wartawan, produser, sutradara, dan salah satu penggagas Koperasi Film Indonesia.
Spektra diarahkan untuk memperkuat pemahaman ideologi koperasi, memperluas pengetahuan mengenai kebijakan perkoperasian nasional, serta mendorong koperasi sebagai instrumen perjuangan ekonomi rakyat.
Forum festival turut mempertemukan petani pangan, petani kopi, nelayan, mahasiswa, dosen, aktivis petani, dan pegiat koperasi. Petani dari Perkumpulan Petani Tanggap Perubahan Iklim (PPTPI) Sumedang dan Indramayu berbagi pengalaman sekaligus berdiskusi mengenai peran koperasi dalam memperkuat ekonomi masyarakat.
Nuansa kebudayaan lokal hadir melalui pertunjukan musik bambu Songah dari Desa Citengah, Sumedang. Kesenian tersebut berakar dari songsong, alat tradisional berbahan bambu yang biasa digunakan untuk meniup api tungku, sebelum berkembang menjadi instrumen musik.
Pada malam hari, festival dilanjutkan dengan pemutaran film “
Seribu Bayang Purnama” yang mengangkat kemandirian petani, efisiensi biaya produksi, dan kesejahteraan. Pembuat film Yahdi Jamhur turut hadir, sementara sesi refleksi dipandu praktisi koperasi internasional Suroto dan dilanjutkan aktivis petani Putro Santoso, akademisi, serta peserta lainnya.
Festival Manglayang 2026 terselenggara bersama Jala Bhumi Kultura (JBK), Universitas MH Thamrin, Koperasi Petani Kopi Manglayang Timur (SIKOMAT), Kelompok Tani Berdikari, dan Sekolah Relasi Iklim (SRI).
Bagi Pentahelix Center, berakhirnya festival bukan berarti perdebatan mengenai koperasi selesai. Pertanyaan mengenai siapa yang menguasai sumber daya ekonomi, bagaimana hasilnya dibagikan, dan sejauh mana rakyat terlibat dalam pengambilan keputusan tetap menjadi pekerjaan bersama.
Alip menegaskan, koperasi perlu kembali dipahami sebagai jalan bagi rakyat untuk membangun kekuatan ekonomi kolektif dan menentukan arah kesejahteraannya sendiri.
BERITA TERKAIT: