Peluncuran poster berlangsung dalam Konferensi Pers di Roemah Umara, Bintaro, Jakarta Selatan. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi awal rangkaian promosi film produksi Matta Cinema Production bersama Ruang Basbeth Bercerita.
"Kami yakini bahwa ini adalah salah satu bentuk dari keinginan kami untuk membuat film-film yang berkualitas, yang bagus secara sinematografi, ceritanya menarik, gambar-gambarnya juga menarik, tetapi juga sekaligus bisa komersial, bisa diterima oleh penonton di Indonesia," kata produser Nugroho Dewanto, dikutip Sabtu 7 Oktober 2026.
Selain merilis poster, Nugroho menyampaikan bahwa pihak produksi telah menyiapkan sejumlah kegiatan promosi untuk menjangkau penonton di berbagai daerah. Film ini juga terpilih sebagai Official Selection Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) dan dijadwalkan kembali ke Yogyakarta pada 30 November 2026, kota tempat film tersebut diproduksi.
Sutradara Ismail Basbeth mengungkap bahwa film ini berangkat dari keinginannya menyuarakan pengalaman komunitas Tionghoa-Indonesia yang kerap menjadi objek pertentangan dalam politik identitas dan wacana publik. Namun, Ismail memilih untuk tidak menjadikan politik identitas sebagai fokus utama, melainkan mengangkat hak paling mendasar setiap manusia, yaitu hak untuk hidup tanpa diskriminasi.
"Bagi saya, pembuatan film ini menjadi sebuah tanggung jawab untuk menyuarakan komunitas Tionghoa-Indonesia, yang kulit, tubuh, budaya, dan suaranya begitu sering menjadi objek pertentangan dalam politik identitas dan wacana publik," kata Ismail.
Gagasan tersebut diwujudkan melalui karakter Encek yang diperankan Ferry Salim. Encek merupakan seorang duda keturunan Tionghoa-Indonesia berusia 76 tahun yang merasa kesepian dan kehilangan arah setelah istrinya meninggal dunia 16 tahun lalu.
Dalam cerita, Encek memutuskan menyiapkan makan malam terakhir bersama anak-anaknya. Saat mempersiapkan pertemuan tersebut, ingatannya kembali pada masa muda dan pertemuan pertamanya dengan sang istri, sebelum kenangan itu membawanya pada trauma kerusuhan Mei 1998.
Ingatan tersebut kemudian membuka kembali pengalaman pahit masa kecil Encek di sebuah panti asuhan Islam. Ia pernah mengalami diskriminasi dan kekerasan di tempat itu sebelum melarikan diri pada usia 15 tahun dan bertahan hidup sebagai kuli angkut di pasar tradisional.
Menjelang akhir hidupnya, Encek memutuskan kembali mengunjungi panti asuhan tempat ia dibesarkan sebagai upaya untuk berdamai dengan masa lalu. Perjalanan tersebut menjadi bagian dari kisah seorang pria yang berusaha menghentikan trauma agar tidak terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Ferry Salim melihat Encek bukan sekadar sosok lelaki tua yang mudah marah atau bersikap egois. Menurutnya, karakter tersebut merupakan seseorang yang telah lama memikul beban kehidupan dan dibentuk oleh berbagai luka yang dialaminya.
"Tokoh Encek ini bukan tokoh seorang laki-laki tua yang selalu marah-marah, egois, tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya. Bukan, tapi bagi saya dia adalah seorang laki-laki yang sudah cukup lama dan berat memikul beban hidupnya di dunia ini," kata Ferry.
BERITA TERKAIT: