Forum Ekonomi RMOL
Forum Ekonomi Politik RMOL Mobile

Trump Sesumbar AS Bisa Duduki Iran dan Kuasai Selat Hormuz

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/hani-fatunnisa-1'>HANI FATUNNISA</a>
LAPORAN: HANI FATUNNISA
  • Minggu, 08 November 2026, 11:35 WIB
Trump Sesumbar AS Bisa Duduki Iran dan Kuasai Selat Hormuz
Presiden AS Donald Trump (Foto: White House)
Kecil Besar
rmol news logo Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sesumbar negaranya berpotensi menjadi penguasa atau pihak yang menduduki Iran di tengah konflik militer yang telah berlangsung selama sembilan bulan. 

"Kita mungkin hanyalah seorang penjajah. (Kita) bisa jadi seorang penjajah," ujar Trump saat berpidato di fasilitas NASA, Florida, dikutip dari Anadolu News, Minggu, 8 November 2026. 

Trump juga mengklaim Washington telah menguasai Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi salah satu pintu utama distribusi energi dunia.

AS disebut kini mengendalikan Selat Hormuz sekaligus mengambil minyak dalam jumlah yang diklaim melampaui catatan sejarah sebelumnya.

"Kami mengendalikan Selat Hormuz. Kami sekarang mengambil lebih banyak minyak daripada kapan pun dalam sejarah Selat Hormuz," tegasnya.

Trump kemudian membandingkan konflik AS dengan Iran dengan perang Rusia-Ukraina. Ia mengklaim pertempuran antara Moskow dan Kyiv telah menewaskan 25.000 orang sepanjang Oktober. 

Menurutnya, konflik tersebut lebih layak disebut perang karena menimbulkan banyak korban jiwa, berbeda dengan situasi di Iran yang diklaim tidak menyebabkan korban luka selama beberapa bulan terakhir.

""Itu namanya perang," ujar Trump merujuk pada pertempuran Rusia-Ukraina. 

Dalam kesempatan itu, Trump turut mengakui adanya operasi militer terbatas di sekitar Pulau Qeshm, Iran, pada Jumat. Meski sempat enggan membicarakannya, ia menyebut pasukan AS melakukan serangan kecil terhadap instalasi pertahanan udara Iran. 

Pernyataan tersebut menyusul konfirmasi Trump beberapa hari sebelumnya mengenai serangan AS terhadap fasilitas pertahanan udara Iran di Pulau Qeshm. Saat itu, ia menyebut operasi tersebut sebagai serangan kecil dan bukan dimulainya kembali perang skala penuh. 

Namun, Iran membantah klaim Washington mengenai penguasaan Selat Hormuz. Teheran menegaskan masih memegang kendali strategis atas jalur perairan tersebut dan tidak akan membukanya kembali sebelum tuntutannya dipenuhi.

AS dan Israel melancarkan serangan militer terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Gencatan senjata tercapai pada April, kemudian dilanjutkan dengan nota kesepahaman pada Juni yang ditujukan untuk mengamankan kesepakatan damai. 

Namun, hingga kini berbagai upaya perundingan belum berhasil menghasilkan penyelesaian final.rmol news logo article
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA