Penunjukan pada Jumat, 6 November 2026, waktu AS, ini dinilai sebagai sinyal bahwa Trump tetap mempertahankan pendekatan politik kontroversialnya, meskipun Partai Republik baru saja mengalami kekalahan dalam pemilihan paruh waktu. Partai Demokrat diperkirakan akan menguasai DPR dan Senat AS mulai Januari mendatang.
Dikutip dari
Al-Jazeera, Miller, 41 tahun, bukan orang baru dalam lingkaran kekuasaan Trump. Ia telah menjadi penasihat dekat presiden sejak kampanye Pilpres 2016 dan dikenal sebagai salah satu tokoh paling vokal dalam membela kebijakan pemerintahannya.
Dalam unggahan di media sosial Truth Social, Trump menyebut Miller sebagai "salah satu penasihat saya yang paling tepercaya". Ia dijadwalkan mulai menjalankan tugas barunya pada Senin, waktu setempat.
Sebelum bergabung dengan tim Trump, Miller sudah dikenal sebagai aktivis konservatif. Saat kuliah di Universitas Duke, ia memimpin organisasi mahasiswa konservatif Duke Conservative Union. Setelah lulus, ia bekerja sebagai asisten anggota Kongres dari Partai Republik dan Senator Jeff Sessions.
Karier politiknya semakin menanjak setelah bergabung dengan kampanye presiden Trump pada Januari 2016. Miller berperan dalam menyusun pesan politik dan pidato Trump. Mantan penasihat Trump, Steve Bannon, pernah mengatakan bahwa Miller membantu Trump menemukan karakter politiknya.
Setelah Trump memenangkan pemilu 2016, Miller dipercaya menjadi penasihat senior sekaligus penulis pidato presiden. Pengaruhnya terlihat jelas dalam kebijakan imigrasi, termasuk program deportasi dan pembatasan masuknya warga negara asing ke AS.
Salah satu kebijakan yang dikaitkan dengan perannya adalah Zero Tolerance pada 2018. Kebijakan ini mendorong penuntutan terhadap hampir setiap orang dewasa yang memasuki AS tanpa dokumen resmi melalui perbatasan.
Dampaknya, ribuan keluarga migran terpisah karena anak-anak tidak boleh ditempatkan bersama orang tua mereka di fasilitas penahanan kriminal. Kebijakan tersebut akhirnya diubah Trump setelah menuai kecaman luas.
Miller juga mendorong penghentian program Deferred Action for Childhood Arrivals (DACA), yang memberikan perlindungan hukum bagi orang-orang yang dibawa ke AS secara ilegal ketika masih anak-anak. Ia turut mendukung pembatasan perjalanan bagi warga sejumlah negara mayoritas Muslim pada 2017.
Ketika Trump kembali berkuasa pada Januari 2025, Miller mendapat posisi wakil kepala staf bidang kebijakan sekaligus penasihat keamanan dalam negeri.
Ia kemudian menjadi salah satu tokoh utama di balik program deportasi massal pemerintahan Trump. Pada Mei 2025, Miller mengatakan kepada Fox News bahwa pemerintah menetapkan target minimal 3.000 penangkapan oleh badan imigrasi AS (ICE) setiap hari.
"Presiden Trump akan terus mendorong untuk meningkatkan angka itu lebih tinggi setiap harinya," kata Miller.
Ia juga membela tindakan keras aparat imigrasi, termasuk dalam sejumlah operasi yang menimbulkan korban jiwa. Pernyataannya mengenai Renee Good dan Alex Pretti, yang tewas dalam operasi di Minneapolis pada Januari 2026, menuai kontroversi.
Selain itu, Miller turut menjadi sorotan terkait kebijakan pemerintah terhadap warga asing yang mendukung perjuangan Palestina dan mengkritik tindakan Israel di Gaza serta Tepi Barat. Pemerintahan Trump beralasan pandangan tersebut bertentangan dengan kepentingan kebijakan luar negeri AS.
Pada Juli 2026, mantan mahasiswa pascasarjana Universitas Columbia, Mahmoud Khalil, menggugat sejumlah pejabat pemerintahan Trump, termasuk Miller. Khalil menuduh mereka terlibat dalam konspirasi untuk menargetkan dirinya dan warga Palestina non-AS lainnya.
Pengaruh Miller tidak hanya terlihat dalam urusan imigrasi. Ia juga mendukung pendekatan Trump yang semakin agresif dalam kebijakan luar negeri.
Miller mendukung operasi AS yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Ia juga pernah mengatakan kepada CNN bahwa AS memiliki hak untuk mengambil alih Greenland dengan kekuatan militer.
Dalam wawancara tersebut, Miller menyampaikan pandangannya mengenai hubungan internasional.
"Kita hidup di dunia nyata yang diatur oleh kekuatan, paksaan, dan kekuasaan," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa aturan tersebut merupakan hukum yang telah berlaku sejak awal sejarah dunia.
Penunjukan Miller menjadi kepala staf memberinya posisi yang sangat strategis dalam pemerintahan Trump. Kepala staf bertanggung jawab mengawasi pegawai Gedung Putih, mengatur agenda presiden, mengoordinasikan pekerjaan internal, serta memberikan masukan mengenai kebijakan.
Posisi ini juga kerap disebut sebagai gatekeeper atau penjaga gerbang kepresidenan karena pemegangnya memiliki pengaruh besar terhadap arus informasi dan siapa saja yang dapat bertemu dengan presiden.
Dengan kedekatannya selama bertahun-tahun dengan Trump, Miller kini berpeluang memperkuat pengaruhnya dalam pengambilan keputusan pemerintahan AS, terutama terkait imigrasi, keamanan nasional, dan kebijakan luar negeri.
BERITA TERKAIT: