"Ini adalah kegilaan seorang pria yang sudah tidak layak lagi memimpin negara," kata Eisenkot melalui unggahan di X, Senin, 26 Oktober 2026.
Eisenkot memperingatkan bahwa rencana ekonomi Netanyahu untuk mengantisipasi kemungkinan sanksi internasional justru berpotensi merusak perekonomian Israel dan mengancam keamanan nasional.
"Netanyahu kini beralih pada upaya membongkar perekonomian Israel untuk generasi mendatang setelah membongkar masyarakat Israel dan melemahkan tentara," tegasnya.
Kritik tersebut muncul menjelang pemilihan Knesset pada Selasa, 27 Oktober 2026, di mana Netanyahu dan Eisenkot akan bersaing memperebutkan kepemimpinan pemerintahan berikutnya.
Sehari sebelumnya, Netanyahu mengungkapkan telah meminta penyusunan rencana ekonomi yang mencakup penggunaan metode pembayaran alternatif, termasuk mata uang kripto dan teknologi blockchain, untuk mengantisipasi kemungkinan sanksi ekonomi dan perbankan internasional.
Netanyahu juga memperingatkan bahwa bantuan militer Amerika Serikat tidak akan berlangsung selamanya, sehingga Israel perlu memperkuat kemandirian militernya.
Eisenkot menyindir gagasan tersebut dengan istilah “Bibicoin”, gabungan nama panggilan Netanyahu, Bibi, dan konsep mata uang digital.
Dia mempertanyakan bagaimana perusahaan teknologi Israel dapat menerima pembayaran dari klien asing atau menarik investasi luar negeri jika transaksi harus menghindari sistem perbankan internasional.
Menurutnya, arah kebijakan tersebut berisiko mendorong perusahaan Israel memindahkan operasinya ke luar negeri, memicu kerugian investasi, serta membuat lebih banyak warga meninggalkan negara itu.
Eisenkot memperingatkan bahwa dampak kebijakan tersebut dapat meluas hingga berkurangnya lapangan kerja dan sumber daya untuk sektor kesehatan serta pendidikan, yang pada akhirnya melemahkan keamanan nasional.
“Ini adalah peringatan nyata. Israel tidak akan mampu bertahan empat tahun lagi seperti ini," tegasnya.
BERITA TERKAIT: