Menurutnya, tuduhan tersebut berlebihan dan mencerminkan kecenderungan para pemimpin Eropa untuk menyalahkan pihak luar atas gejolak yang terjadi di negara mereka.
Dalam wawancara dengan stasiun televisi pemerintah Rusia, VGTRK, Putin mengaku terkejut karena sejumlah pejabat Eropa awalnya mengaitkan demonstrasi tersebut dengan kebijakan pemerintahan Amerika Serikat dan dukungannya terhadap kelompok sayap kanan.
"Segera muncul klaim bahwa peristiwa yang terjadi di Eropa adalah akibat dari aktivitas pemerintahan Amerika saat ini dan dukungannya terhadap partai dan gerakan sayap kanan," kata Putin, dikutip Senin, 26 Oktober 2026.
Putin kemudian menjadi lebih terkejut ketika para pemimpin Eropa kembali mengarahkan tuduhan kepada Rusia.
"Namun mereka dengan cepat tersadar dan beralih ke tuduhan tradisional mereka terhadap Federasi Rusia," ujarnya.
Menurutnya, tudingan bahwa Rusia menggerakkan demonstrasi di kota-kota besar Eropa tidak masuk akal.
"Reaksi pertama saya ketika melihat ini adalah terkejut, karena mengatakan bahwa kita memprovokasi protes massal di kota-kota besar Eropa adalah tindakan yang berlebihan, yang menurut saya sudah jelas bagi warga biasa di negara-negara Eropa," tuturnya.
Dia menyebut tuduhan tersebut menunjukkan keengganan sebagian pemimpin Eropa untuk mengidentifikasi akar persoalan yang memicu ketidakpuasan masyarakat.
"Ini buruk. Mengapa? Karena itu berarti mereka tidak menganalisis peristiwa, tidak mencari penyebab dari apa yang terjadi, tetapi hanya mengalihkan kesalahan kepada seseorang, pertama AS, sekarang Rusia," tegas Putin.
Pernyataan Putin muncul di tengah demonstrasi yang dipimpin mahasiswa di Prancis dan gejolak di sejumlah negara Eropa lainnya.
Pada 21 Oktober 2026, Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot menuding para demonstran memanfaatkan narasi bermusuhan yang berasal dari Rusia, Tiongkok, Iran, serta gerakan MAGA di Amerika Serikat.
Kremlin berulang kali membantah keterlibatan Moskow. Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov pada 19 Oktober bahkan menyebut tuduhan tersebut "absurd", sementara Presiden AS Donald Trump mengaitkan gejolak di Eropa dengan dampak migrasi massal.
BERITA TERKAIT: