Virus yang selama ini dikenal menyerang hewan ternak tersebut diduga menginfeksi pasien melalui gigitan serangga. Meski demikian, otoritas kesehatan menyatakan kasus ini belum menimbulkan risiko bagi masyarakat umum.
Dikutip dari
Forbes, Sabtu, 24 Oktober 2026, pasien pria berusia 60-an tahun itu sebelumnya dirawat di rumah sakit di Lyon karena penyakit serius yang tidak berkaitan dengan infeksi Shamonda. Menurut keterangan otoritas Prancis, ia diketahui memiliki sistem kekebalan tubuh yang sangat lemah dan meninggal pada awal Oktober.
Kepala Direktorat Kesehatan Prancis, Gregory Emery, menyebut kasus tersebut sebagai kejadian yang belum pernah ditemukan sebelumnya dari sisi ilmiah dan virologi. Ia menilai kondisi kekebalan tubuh pasien menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan dalam penyelidikan kasus ini.
“Dari sudut pandang medis dan kesehatan masyarakat, tidak ada peringatan dan tidak ada krisis,” kata Emery.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menilai kemungkinan penyebaran virus ini secara luas masih rendah. WHO telah berkoordinasi dengan otoritas Prancis untuk menyelidiki kasus tersebut dan memantau potensi risikonya.
“Berdasarkan informasi dan pengetahuan terkini tentang penularan virus yang berkerabat dekat, ini adalah kasus manusia yang terisolasi dan kecil kemungkinannya untuk menyebabkan penyebaran yang lebih luas saat ini,” kata WHO dalam pernyataannya.
Dugaan sementara, pasien terinfeksi setelah digigit serangga pembawa virus di wilayah timur Prancis. Daerah tersebut diketahui menjadi lokasi peredaran virus pada hewan ternak selama musim semi dan panas tahun ini. Meski begitu, jalur penularan dalam kasus ini masih perlu dipastikan.
Menurut Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (WOAH), virus Shamonda terutama ditemukan pada sapi, tetapi juga pernah terdeteksi pada kuda, alpaka, domba, dan kambing. Virus ini menyebar melalui gigitan lalat pengisap darah. Otoritas Prancis menegaskan belum ada laporan penularan virus tersebut dari sapi ke manusia maupun antarmanusia.
Pakar virus dari Universitas Glasgow, Ben Brennan, mengatakan kasus-kasus yang melibatkan virus serupa sebelumnya menunjukkan risiko terbatas bagi kesehatan manusia. Ia mencontohkan virus Schmallenberg yang menyerang ternak di Eropa lebih dari satu dekade lalu tanpa menimbulkan kasus pada manusia. Ia juga menyebut virus Cristoli, yang pernah dikaitkan dengan kematian seorang pasien dengan sistem kekebalan tubuh lemah di Prancis, tetapi tidak diikuti laporan kasus lain.
Virus Shamonda pertama kali diidentifikasi di Nigeria pada pertengahan 1960-an. Virus ini baru dikonfirmasi ditemukan di Eropa pada akhir Juli 2026, setelah pengujian genomik terhadap sapi yang sakit di Jerman selatan, Swiss, dan Prancis timur. Pengawasan kesehatan hewan Prancis selanjutnya melaporkan temuan virus tersebut di sejumlah negara Eropa lainnya.
Infeksi Shamonda dapat menimbulkan gangguan pada hewan ternak. Pada sapi, gejalanya antara lain diare, tubuh lemah, kehilangan nafsu makan, dan terkadang demam. Sebuah penelitian terhadap sembilan peternakan sapi perah di Prancis bahkan menemukan produksi susu turun hingga 75 persen.
Meski kasus pada manusia ini menjadi temuan penting bagi dunia medis, Shamonda belum diklasifikasikan sebagai penyakit yang wajib dikendalikan berdasarkan Undang-Undang Kesehatan Hewan Uni Eropa. Otoritas kesehatan dan lembaga Eropa kini terus memantau perkembangan kasus untuk memastikan apakah ada risiko tambahan bagi manusia.
BERITA TERKAIT: