Bertemu Trump, Xi Jinping Ingatkan Bahaya Jebakan Thucydides

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/reni-erina-1'>RENI ERINA</a>
LAPORAN: RENI ERINA
  • Jumat, 25 September 2026, 09:00 WIB
Bertemu Trump, Xi Jinping Ingatkan Bahaya Jebakan Thucydides
Presiden China Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump pada Kamis, 24 September 2026 (Tangkapan layar RMOL dari siaran YouTube White House)
Kecil Besar
rmol news logo Persaingan Amerika Serikat (AS) dan China semakin ketat, tetapi Presiden Xi Jinping ingin hubungan kedua negara tidak berakhir di medan konflik. 

Dalam pertemuan dengan Donald Trump di Gedung Putih, Kamis, 24 September 2026, waktu setempat, Xi menyerukan komunikasi dan kerja sama yang lebih luas untuk mencegah bentrokan militer antara dua kekuatan besar dunia.

Ia mengatakan kedua negara perlu memperkuat dialog untuk membangun kepercayaan, meski memiliki perbedaan kepentingan. Menurut Xi, Washington dan Beijing harus mencari titik temu sambil mengelola perbedaan yang ada.

“Kita harus hidup berdampingan secara damai. China dan Amerika Serikat, sebagai dua negara besar, akan memperoleh keuntungan dari kerja sama dan akan sama-sama dirugikan jika terjadi konfrontasi,” kata Xi, dikutip dari The Guardian, Jumat, 25 September 2026.

Ia juga menyerukan agar militer kedua negara menjaga komunikasi rutin dan memperkuat mekanisme pencegahan krisis.

Xi menyebut pendekatan tersebut diperlukan untuk menghindari apa yang dikenal sebagai “jebakan Thucydides”, yakni risiko konflik ketika kekuatan yang sedang berkembang menantang kekuatan yang telah mapan. 

“Jebakan Thucydides dapat diatasi,” ujar Xi.

Seruan itu muncul ketika hubungan AS-China masih dibayangi persaingan di sejumlah bidang, terutama perdagangan, teknologi, kecerdasan buatan (AI), dan Taiwan. Amerika Serikat juga memberlakukan pembatasan ekspor sejumlah teknologi semikonduktor ke China sebagai bagian dari persaingan teknologi kedua negara.

Di sisi lain, Trump menekankan hubungan personalnya dengan Xi. Presiden AS itu mengatakan keduanya telah membangun “persahabatan yang sangat baik” dan menyebut pembicaraan mereka mencakup perdagangan, keamanan, teknologi, serta AI yang ia sebut sebagai “super intelligence”. Xi pun mengatakan bahwa dirinya dan Trump saling menghormati serta telah membangun hubungan personal.

Xi juga menawarkan langkah untuk mempererat hubungan antarmasyarakat. China mengundang hingga 100.000 anak muda Amerika untuk mengikuti program pertukaran pelajar dan berkunjung ke China dalam lima tahun mendatang.

Meski kedua pemimpin menggunakan bahasa yang relatif harmonis, persoalan utama dalam hubungan AS-China belum hilang. Perdagangan, teknologi dan keamanan tetap menjadi titik persaingan, sehingga pertemuan di Gedung Putih menjadi bagian dari upaya menjaga hubungan dua negara tetap terkendali di tengah kepentingan yang kerap bertabrakan.rmol news logo article
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
EDITOR: RENI ERINA

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA