Berita

Wasekjen Partai Demokrat, Didik Mukrianto. (Foto; istimewa)

Keamanan

Penyadapan Bikin Rakyat Tidak Nyaman di Rumahnya Sendiri

RABU, 04 NOVEMBER 2026 | 15:56 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Penetapan status tersangka dan penahanan terhadap mantan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo (LSP) dalam kasus dugaan penyadapan tanpa prosedural terhadap Presiden Prabowo Subianto menghebohkan publik.

Wasekjen Partai Demokrat, Didik Mukrianto menyebut kasus ini lebih dari sekadar skandal hukum. Kejadian ini  mencerminkan kondisi politik yang semakin kehilangan batas. 

"Ketika instrumen negara yang seharusnya menjaga keamanan justru diduga digunakan untuk mengintai kekuasaan itu sendiri, pertanyaan yang muncul bukan hanya “siapa yang memerintahkan?”, melainkan pertanyaan yang lebih mendasar, ke mana arah politik kita?" kata Didik lewat akun X resminya, Rabu, 4 November 2026.


Menurutnya, gejala yang lebih mengkhawatirkan adalah semakin lunturnya batasan moral dalam perebutan dan pemeliharaan kekuasaan. Seolah-olah untuk mendapatkan atau mempertahankan political power, segala cara menjadi sah. 

Ketika penyadapan ilegal bisa menyasar kepala negara hingga aktivis dan pengusaha, artinya rakyat pun mudah dijangkau. Hal ini akan membuat rakyat tidak aman di rumahnya sendiri

Situasi ini menuntut koreksi yang lebih mendasar daripada sekadar penanganan kasus per kasus. Yang dibutuhkan adalah pengembalian politik ke jalur yang berkeadaban, politik yang tetap kompetitif, tetapi tidak menghalalkan segala cara.

"Penanganan kasus penyadapan ini akan menjadi ujian penting. Apakah penegakan hukum berjalan transparan dan tanpa tebang pilih? Apakah ada upaya sistemik untuk memperbaiki pengawasan terhadap alat-alat negara agar tidak mudah disalahgunakan?" tegasnya.

Didik menambahkan, rakyat berhak hidup tenteram di negeri sendiri. Mereka berhak tidak merasa diawasi secara ilegal, tidak merasa bahwa negara bisa menjadi ancaman, dan tidak merasa bahwa moralitas telah dikesampingkan sepenuhnya dalam perebutan kekuasaan. 

"Jika politik terus dibiarkan liar, yang akan tumbuh bukan hanya skandal baru, melainkan rasa asing rakyat terhadap negaranya sendiri. Itu adalah harga yang terlalu mahal untuk dibayar," pungkasnya.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

UPDATE

Diam-diam Nusron Wahid Datang ke KPK Tanpa Penjadwalan Pemeriksaan

Rabu, 04 November 2026 | 10:26

Harga Minyak Dunia Turun ke 103 Dolar AS

Rabu, 04 November 2026 | 10:17

Skandal Listyo Sigit jadi Pintu Masuk Seret Jokowi-Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 10:13

Kapolri Terlama yang Sukses Tanam Jagung jadi Tersangka Penyadapan Presiden, Mahfud MD: Gila!

Rabu, 04 November 2026 | 09:51

Laporan Keuangan Danantara Ditarget Rampung November 2026

Rabu, 04 November 2026 | 09:45

PT Djarum Bayar Cukai Tak Semestinya, Negara Rugi Triliunan Rupiah

Rabu, 04 November 2026 | 09:45

Prabowo Saja Bisa Disadap Apalagi Rakyat Jelata

Rabu, 04 November 2026 | 09:41

Perkuat Hilirisasi, NTB Berpeluang Jadi Sentra Industri Kelapa

Rabu, 04 November 2026 | 09:33

Listyo Sigit Lakukan Kejahatan Paling Jahat

Rabu, 04 November 2026 | 09:30

IHSG Merah, Mayoritas Saham Berguguran

Rabu, 04 November 2026 | 09:20

Selengkapnya