Direktur Cikarang Listrindo, Christanto Pranata (Foto: RMOL/Reni Erina)
Pemanfaatan energi terbarukan di sektor industri manufaktur dinilai menjadi salah satu langkah penting untuk menekan emisi gas rumah kaca.
Salah satunya melalui pengoperasian Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap berkapasitas 1,4 megawatt peak (MWp) di fasilitas produksi Coca-Cola Europacific Partners Indonesia (CCEP Indonesia), Bekasi 2 Plant.
PLTS Atap tersebut diperkirakan mampu menghasilkan listrik bersih sekitar 1,76 gigawatt hour (GWh) per tahun. Produksi energi terbarukan itu setara dengan pengurangan emisi gas rumah kaca sekitar 1.180 ton karbon dioksida (CO2) setiap tahunnya.
Besaran pengurangan emisi tersebut juga diibaratkan setara dengan jumlah karbon yang diserap hampir 20.000 pohon selama 10 tahun.
Direktur Cikarang Listrindo, Christanto Pranata, mengatakan angka tersebut menunjukkan besarnya kontribusi pemanfaatan energi surya dalam mendukung pengurangan emisi, khususnya di sektor manufaktur.
"Angka ini merupakan kontribusi yang sangat positif dalam upaya pengurangan emisi dan pemanfaatan energi terbarukan di sektor industri manufaktur," ujar Christanto dalam peresmian PLTS Atap CCEP Indonesia Bekasi 2 Plant, Rabu 4 November 2026..
Menurutnya, kebutuhan industri terhadap energi yang lebih bersih terus meningkat seiring dengan semakin pentingnya agenda keberlanjutan bagi dunia usaha. Kondisi tersebut mendorong penyedia energi untuk tidak hanya menjamin pasokan listrik, tetapi juga menghadirkan solusi energi bersih bagi pelanggan.
Christanto menegaskan, keberlanjutan bukan lagi sekadar pilihan, melainkan agenda utama yang perlu menjadi perhatian seluruh organisasi, baik di Indonesia maupun dunia.
"Keberlanjutan sekarang ini bukan lagi menjadi sebuah pilihan, tetapi menjadi sebuah tema sentral daripada seluruh organisasi, tidak hanya di Indonesia tapi juga di seluruh dunia," katanya.
Dia menambahkan, transisi menuju energi bersih membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Kolaborasi antara penyedia energi, pengguna energi, pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya menjadi kunci agar upaya pengurangan emisi dapat berjalan lebih luas dan berkelanjutan.
Menurut Christanto, kerja sama Cikarang Listrindo dengan CCEP Indonesia juga menjadi bagian dari dukungan terhadap target pemerintah mencapai Net Zero Emission pada 2060.
Pencapaian target tersebut, kata dia, membutuhkan langkah konsisten, antara lain melalui pengembangan energi terbarukan dan penguatan kemitraan lintas sektor.
Cikarang Listrindo pun berharap pengoperasian PLTS Atap di Bekasi 2 Plant tidak hanya memberikan manfaat bagi operasional perusahaan, tetapi juga menjadi awal bagi pengembangan berbagai program keberlanjutan lainnya.
Kolaborasi tersebut diharapkan membuktikan bahwa transisi energi di sektor industri dapat menghasilkan manfaat nyata, baik dari sisi pemenuhan kebutuhan listrik maupun pengurangan dampak lingkungan.