Ilustrasi (Artificial Intelligence)
Peretasan terhadap Binance yang menyebabkan pencurian aset kripto senilai 6,34 miliar Dolar AS ternyata telah dipersiapkan selama berbulan-bulan.
Para pelaku disebut menggunakan berbagai cara untuk menyusup ke sistem keamanan perusahaan, mulai dari wawancara kerja palsu, perangkat lunak berbahaya, hingga pemanfaatan alat kecerdasan buatan (AI) internal yang berhasil mereka bobol.
Salah satu CEO Binance, Richard Teng, mengatakan para peretas mulai membangun akses ke sistem perusahaan sejak Juni 2026. Mereka awalnya menyebarkan versi palsu dari perangkat pengembang untuk memancing seorang insinyur Binance agar mengunduh dan memasangnya. Pada September, para pelaku kembali menjalankan aksinya dengan menyamar sebagai perekrut tenaga kerja dan menggelar serangkaian wawancara kerja dengan insinyur lainnya.
Dalam proses tersebut, korban diminta mengerjakan tes pemrograman yang ternyata disusupi malware atau perangkat lunak berbahaya. Dari celah itu, peretas kemudian bergerak masuk ke berbagai perangkat dan alat AI internal Binance hingga berhasil mengakses sistem yang digunakan untuk mengotorisasi transaksi dompet kripto.
"Mereka menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk membangun jalan masuk," kata Teng, dikutip dari CNBC International, Rabu, 4 November 2026.
Ia menegaskan, serangan tersebut bukan disebabkan oleh satu titik kelemahan, seperti laptop milik seorang karyawan, melainkan melalui rangkaian upaya penyusupan yang terencana.
Binance menyebut serangan siber pada 29 Oktober tersebut menyebabkan aset senilai 6,34 miliar Dolar AS terdampak. Teng mengatakan perusahaan telah mengganti sekitar 98 persen aset yang terdampak dan masih berupaya membeli kembali aset yang tersisa, terutama yang peredarannya terbatas dan lebih sulit diperoleh. Binance juga menggunakan cadangan dananya sendiri untuk menanggung kerugian pelanggan.
Upaya pemulihan turut melibatkan sejumlah mitra industri, termasuk Tether dan Circle. Sementara itu, Coinbase dan Ripple dilaporkan telah membekukan aset sekitar 3 miliar Dolar AS yang berkaitan dengan pencurian tersebut. Meski demikian, sebagian dana hasil peretasan masih bergerak melalui berbagai jalur pencucian uang.
Teng tidak secara langsung menuding Korea Utara sebagai dalang serangan. Namun, ia mengakui FBI telah mengaitkan insiden tersebut dengan kelompok peretas Korea Utara yang berhubungan dengan jaringan TraderTraitor.
Binance kini telah membangun kembali sistem dompet dan perangkat AI internal yang terdampak, mengganti perangkat yang diretas, serta menonaktifkan kredensial dan token akses milik para insinyur terkait. Perusahaan juga akan meminta pakar keamanan independen untuk mengevaluasi langkah penanganan insiden tersebut.
"Kami akan terus memperkuat pertahanan seiring berlanjutnya investigasi," ujar Teng.