Berita

Ilustrasi Cancel Culture (Sumber: Gemini Generated Image)

Entertainment

Apa Itu Cancel Culture? Fenomena Boikot Massal di Media Sosial dan Dampaknya

RABU, 04 NOVEMBER 2026 | 05:14 WIB | OLEH: TIFANI

Cancel culture merupakan fenomena sosial ketika seseorang atau kelompok mendapat penolakan, boikot, hingga kehilangan dukungan publik akibat tindakan atau pernyataan yang dianggap bermasalah. Fenomena ini semakin mudah ditemukan di media sosial, terutama ketika unggahan, komentar, atau perilaku seseorang menjadi viral dan memicu reaksi warganet.

Dalam praktiknya, cancel culture tidak hanya menyasar figur publik atau selebritas. Individu biasa, perusahaan, merek, hingga kelompok tertentu juga bisa menjadi sasaran penolakan massal. 

Bentuknya beragam, mulai dari ajakan berhenti mengikuti akun media sosial, memboikot produk, hingga menarik dukungan terhadap karya seseorang. Istilah cancel culture pun kerap muncul dalam perdebatan di ruang digital. 


Sebagian masyarakat menganggapnya sebagai bentuk kontrol sosial untuk meminta pertanggungjawaban seseorang atas kesalahan yang dilakukan. Namun, tidak sedikit pula yang menilai fenomena ini berpotensi berubah menjadi perundungan massal.

Lantas, apa itu cancel culture, bagaimana fenomena ini muncul, dan apa saja dampaknya?

Apa Itu Cancel Culture?

Secara harfiah, cancel culture dapat diartikan sebagai budaya membatalkan. Namun, istilah ini memiliki makna lebih luas daripada sekadar membatalkan sesuatu.

Cancel culture merujuk pada perilaku memboikot, menolak, atau menghukum seseorang maupun kelompok karena tindakan yang dianggap salah atau bertentangan dengan norma masyarakat. Sementara itu, dalam konteks media sosial, cancel culture biasanya dilakukan secara kolektif oleh warganet. 

Mereka menarik dukungan, menyampaikan kritik, atau mengajak orang lain berhenti memberikan perhatian kepada individu maupun merek yang dinilai melakukan pelanggaran. Sasaran cancel culture bisa berupa selebritas, influencer, perusahaan, merek dagang, hingga karya hiburan seperti film dan acara televisi.

Fenomena ini tidak selalu berhenti pada kritik. Dalam sejumlah kasus, orang yang menjadi sasaran cancel culture juga menghadapi hujatan, pengucilan, intimidasi, hingga penyebaran informasi pribadi di internet.

Penyebab Munculnya Cancel Culture

Perkembangan media sosial menjadi salah satu faktor yang membuat cancel culture semakin mudah menyebar. Informasi mengenai tindakan atau pernyataan seseorang dapat tersebar dalam waktu singkat dan menjangkau jutaan pengguna.

Ada beberapa hal yang dapat memicu munculnya cancel culture, di antaranya:

1. Tindakan atau pernyataan kontroversial

Perilaku yang dianggap melanggar norma sosial, seperti diskriminasi, pelecehan, ujaran kebencian, atau tindakan tidak etis, dapat memicu kecaman publik. Ketika tindakan tersebut diketahui masyarakat luas, warganet bisa menyuarakan kritik sekaligus mengajak orang lain menarik dukungan terhadap pihak yang bersangkutan.

2. Penyebaran informasi di media sosial

Media sosial memungkinkan sebuah unggahan, video, atau tangkapan layar menyebar dengan cepat. Informasi yang awalnya hanya diketahui oleh kelompok kecil dapat berubah menjadi perbincangan publik setelah dibagikan berulang kali.

Kondisi tersebut membuat respons masyarakat terhadap suatu kontroversi bisa berkembang menjadi penolakan massal.

3. Solidaritas dan tekanan kelompok

Cancel culture juga dapat muncul ketika masyarakat merasa perlu membela pihak yang dirugikan oleh tindakan seseorang atau kelompok tertentu. Dukungan yang diberikan secara kolektif kemudian berkembang menjadi ajakan memboikot atau menghentikan dukungan terhadap pihak yang dianggap bertanggung jawab.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

UPDATE

Investasi Jakarta Tertinggi Nasional, Tumbuh 22,1 Persen

Rabu, 04 November 2026 | 00:34

Pemerintah Optimis Polri Bakal Bongkar Aktor Intelektual Penyadapan Presiden

Rabu, 04 November 2026 | 00:20

Geledah Pukul 03.20

Rabu, 04 November 2026 | 00:04

Peduli Karhutla, PKSS Salurkan Ribuan Masker dan Susu Steril

Selasa, 03 November 2026 | 23:43

Listyo Sigit Cs Salah Pilih Lawan, Akhirnya Masuk Penjara

Selasa, 03 November 2026 | 23:22

WNA China Praperadilkan BNN di PN Jaktim terkait Narkoba

Selasa, 03 November 2026 | 23:00

Ditanya soal Gibran Ikut Disadap, Yusril: Wallahu A'lam bish-Shawab

Selasa, 03 November 2026 | 22:45

TEI 2026 jadi Pintu Ekspor Produk Sawit dan Pangan Indonesia

Selasa, 03 November 2026 | 22:32

Ini Kronologi Penyadapan Prabowo oleh Listyo Sigit Dkk

Selasa, 03 November 2026 | 22:29

Prabowo Bekali 400 Calon Pemimpin BUMN dengan Nilai Integritas dan Nasionalisme

Selasa, 03 November 2026 | 22:13

Selengkapnya