Sosiolog dari Universitas Ibnu Chaldun (UIC), Musni Umar. (Foto: Istimewa)
Momentum peringatan Hari Sumpah Pemuda sejatinya menjadi wadah untuk memperkokoh persatuan dan kolaborasi lintas profesi maupun latar belakang. Namun, kemunculan aksi boikot terhadap sejumlah figur publik dinilai telah mencoreng semangat tersebut.
Sosiolog dari Universitas Ibnu Chaldun (UIC), Musni Umar, menyoroti secara khusus aksi boikot yang menyasar Raffi Ahmad (Rans) dan kreator konten Willie Salim pasca-acara Deklarasi Sumpah Pemuda di Bundaran Hotel Indonesia pada 29 Oktober 2026 lalu.
Menurut Musni, tindakan pemboikotan oleh kalangan pemuda justru mengancam fondasi kebangsaan dan mencederai iklim demokrasi di Tanah Air.
"Sekadar mengingatkan, keruntuhan dan kehancuran berbagai negara dan imperium di dunia, sumber utamanya bukan dari eksternal, tetapi dari internal. Tidak ada kolaborasi dan saling percaya di antara sesama anak bangsa," ujar dia kepada Kantor Berita Ekonomi dan Politik RMOL, Selasa, 3 November 2026.
Ia menyayangkan sikap intoleran terhadap perbedaan yang masih ditunjukkan oleh sebagian kelompok pemuda, padahal mereka adalah pewaris sekaligus pelanjut masa depan Indonesia.
Di alam demokrasi, terang Musni, setiap warga negara sah-sah saja memiliki perbedaan pandangan maupun kepentingan. Namun, hal tersebut tidak boleh berujung pada aksi saling jegal atau boikot.
"Perbedaan pandangan dan bahkan beda kepentingan, hendaknya dihargai dan dihormati. Konsekuensinya, tidak boleh ada aksi boikot karena perbedaan tersebut," tegasnya.
Lebih lanjut, Musni mengingatkan bahwa kehadiran figur publik seperti Raffi Ahmad dalam peringatan Sumpah Pemuda sebenarnya membawa dampak positif, khususnya bagi roda perekonomian kerakyatan.
"Apalagi yang dilakukan berkaitan peringatan Sumpah Pemuda yang bisa menyemarakkan kegiatan bisnis untuk pemberdayaan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM)," imbuhnya.
Musni Umar pun mengimbau kepada seluruh elemen pemuda untuk menyingkirkan ego sektoral dan atribut masing-masing demi kepentingan bangsa yang lebih besar.
"Kita bisa berbeda profesi, latar belakang, asal-usul, suku dan agama, tetapi pada momentum peringatan Sumpah Pemuda yang sangat bersejarah, segala perbedaan pandangan mesti dikesampingkan untuk mengukuhkan kebersamaan," demikian Musni mengakhiri.