Saham Apple anjlok lebih dari 2 persen setelah proyeksi margin laba perusahaan untuk kuartal berikutnya mengecewakan investor, meski pendapatan kuartalannya berhasil melampaui ekspektasi analis.
Dikutip dari CNBC International, Selasa 3 November 2026, saham Apple turun 2,57 persen menjadi 329,63 dolar AS dalam perdagangan setelah jam bursa. Sebelumnya, saham perusahaan juga sudah melemah 1,83 persen hingga penutupan perdagangan reguler di level 338,32 Dolar AS.
Dalam laporan keuangan kuartal IV tahun fiskal 2026, Apple membukukan pendapatan 114,48 miliar dolar AS, meningkat 12 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 102,5 miliar Dolar AS. Capaian tersebut melampaui perkiraan analis sebesar 113,39 miliar Dolar AS. Laba per saham (EPS) juga mencapai 2,10 dolar AS, lebih tinggi dari estimasi 1,99 dolar AS.
Dari sejumlah lini bisnisnya, iPhone masih menjadi penyumbang pendapatan terbesar dengan penjualan 57,58 miliar Dolar AS, melampaui perkiraan analis sebesar 56,54 miliar dolar AS. Bisnis Mac juga mencatatkan pertumbuhan kuat, dengan pendapatan melonjak hampir 24 persen secara tahunan menjadi 10,79 miliar Dolar AS.
Namun, tidak semua lini produk menunjukkan kinerja positif. Pendapatan iPad turun lebih dari 10 persen secara tahunan menjadi sekitar 6,23 miliar Dolar AS, di bawah perkiraan analis sebesar 6,7 miliar Dolar AS. Penjualan perangkat wearable, produk rumah tangga, dan aksesori juga hanya mencapai 8,3 miliar Dolar AS, lebih rendah dari estimasi 9,06 miliar Dolar AS.
Perhatian investor kemudian tertuju pada proyeksi kinerja Apple untuk kuartal Desember. Direktur Keuangan Apple, Kevan Parekh, memperkirakan pendapatan perusahaan tumbuh 7 hingga 10 persen secara tahunan. Proyeksi tersebut sebenarnya lebih tinggi dari perkiraan analis yang sebesar 6,1 persen.
Namun, perkiraan margin laba kotor justru menjadi sumber kekhawatiran. Apple memproyeksikan margin laba kotor berada di kisaran 45 hingga 46 persen, lebih rendah dari perkiraan analis sebesar 46,3 persen. Proyeksi ini mengindikasikan tekanan terhadap keuntungan perusahaan akibat kenaikan biaya komponen.
CEO Apple John Ternus mengatakan biaya memori pada kuartal September lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya. Kenaikan tersebut sebagian tertahan oleh persediaan komponen yang telah dimiliki perusahaan serta penurunan biaya sejumlah komponen nonmemori.
Ternus, yang menggantikan Tim Cook sejak 1 September lalu, mengatakan Apple terpaksa menaikkan harga sejumlah produknya untuk mengimbangi kenaikan biaya komponen. Pada Juni lalu, perusahaan menaikkan harga iPhone sebesar 100 dolar AS.
Meski menghadapi tekanan biaya dan tantangan pasokan, Ternus menyebut Apple baru saja menutup tahun fiskal terbaik sepanjang sejarah perusahaan. Ia juga tetap optimistis terhadap prospek bisnis Apple di tengah berbagai tantangan industri.
"Kami belum pernah merasa seyakin ini bahwa masa terbaik masih ada di depan," kata Ternus.
Di sisi lain, bisnis layanan Apple yang selama ini menjadi salah satu sumber keuntungan utama mulai menunjukkan perlambatan. Pendapatannya tumbuh kurang dari 10 persen pada kuartal September, menjadi pertumbuhan paling lambat sejak 2022.
Sementara itu, bisnis Apple di China Raya mencatatkan pertumbuhan kuat sebesar 21 persen menjadi 17,53 miliar Dolar AS, ditopang penjualan iPhone dan Mac. Kinerja tersebut menjadi salah satu penopang pertumbuhan perusahaan di tengah tekanan biaya dan pelemahan sejumlah lini produk lainnya.