Beberpa armada Blue Bird di wilayah Jakarta Pusat (Foto: Dokumen RMOL/Reni Erina)
Mobilitas masyarakat yang semakin beragam membuka peluang bagi bisnis transportasi untuk terus berkembang. Kebutuhan perjalanan tidak lagi terbatas pada taksi, tetapi juga mencakup penyewaan kendaraan, perjalanan antarkota, hingga transportasi rombongan.
Kondisi tersebut turut tercermin dalam kinerja PT Blue Bird Tbk (BIRD). Perusahaan transportasi ini membukukan pendapatan Rp4,57 triliun sepanjang Januari–September 2026, meningkat 10,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan pendapatan berasal dari dua lini usaha utama, yakni taksi dan non-taksi. Meski layanan taksi masih mendominasi, bisnis non-taksi yang mencakup penyewaan mobil, bus, dan shuttle juga memberikan kontribusi terhadap peningkatan kinerja perusahaan.
Dalam laporan kinerja yang dikutip redaksi Selasa 3 November 2026, EBITDA Bluebird Group pada kuartal III 2026 tercatat Rp377,5 miliar, naik sekitar 16 persen secara tahunan. Secara kumulatif, EBITDA hingga September mencapai Rp1,09 triliun atau tumbuh 9,8 persen. Adapun laba bersih perusahaan tercatat Rp474 miliar.
Direktur Utama PT Blue Bird Tbk Andre Djokosoetono mengatakan, pertumbuhan pendapatan perlu diimbangi dengan produktivitas operasional dan konsistensi layanan.
“Bagi kami, pertumbuhan bisnis harus berjalan seiring dengan kemampuan mengelola operasional secara produktif dan menjaga kualitas layanan. Karena itu, kami terus mengoptimalkan pemanfaatan armada, menyesuaikan ketersediaannya dengan kebutuhan pelanggan, serta mengembangkan pilihan layanan yang relevan. Dengan pendekatan ini, kami ingin memastikan pertumbuhan yang dicapai dapat menjadi fondasi bisnis yang sehat dan berkelanjutan,” ujar Andre.
Dari total pendapatan perusahaan, segmen taksi memberikan kontribusi sekitar 70 persen dengan pertumbuhan 11,1 persen selama sembilan bulan pertama 2026. Sementara itu, segmen non-taksi menyumbang sekitar 30 persen dan mencatat kenaikan pendapatan 10,1 persen secara tahunan.
Pada segmen taksi, perusahaan menambah pilihan layanan melalui Bluebird Prime yang diperkenalkan pada Juli 2026. Hingga kini, layanan tersebut telah beroperasi di enam wilayah, yakni Jadetabek, Bandung, Surabaya, Medan, Bali, dan Semarang.
Adapun pada bisnis non-taksi, Cititrans mencatat peningkatan pendapatan pada kuartal III 2026. Kinerja tersebut ditopang pengaturan jadwal keberangkatan, peningkatan pemanfaatan armada, dan efisiensi operasional. Bigbird juga mencatat perkembangan permintaan dari pelanggan korporasi maupun perjalanan rombongan.
Di sisi lain, perubahan pola pemesanan turut mendorong perusahaan memperluas saluran akses layanan. Selain melalui aplikasi MyBluebird, pemesanan juga dilakukan lewat mitra platform digital dan jaringan pangkalan. Beragam saluran tersebut sekaligus membantu perusahaan menyesuaikan distribusi armada dengan permintaan di setiap wilayah.
Pengelolaan armada juga menjadi bagian dari upaya menjaga efisiensi. Perusahaan mengatur siklus hidup kendaraan, termasuk melalui penjualan aset tetap. Hingga kuartal III 2026, keuntungan dari penjualan aset tetap meningkat 38,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Memasuki kuartal IV 2026, perusahaan memperhitungkan sejumlah faktor yang berpotensi memengaruhi permintaan transportasi, mulai dari perjalanan akhir tahun hingga normalisasi aktivitas pendidikan. Penambahan armada juga menjadi bagian dari persiapan kapasitas operasional untuk menghadapi periode tersebut.
Andre mengatakan, perusahaan akan melanjutkan penyesuaian operasional dan layanan mengikuti perkembangan kebutuhan pasar.
“Ke depan, kami akan terus memperkuat kemampuan operasional dan mengembangkan layanan sesuai kebutuhan pelanggan. Dengan dukungan pengemudi profesional, armada yang terawat, dan sistem mobilitas yang terintegrasi, kami berkomitmen menjaga kepercayaan pelanggan sekaligus membangun pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan,” ujarnya.