Berita

Anggota Komisi III DPR RI Fraksi PKS, Adang Daradjatun. ((Foto: Dok. F-PKS)

Politik

Penggerebekan Ponpes Putri, PKS Minta Penegakan Hukum Lindungi Santri

SELASA, 03 NOVEMBER 2026 | 09:53 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Penggerebekan Pondok Pesantren Hamalatul Qur’an di Mojolaban, Sukoharjo, Jawa Tengah, menuai keluhan dan kecaman dari berbagai pihak.

Anggota Komisi III DPR RI Fraksi PKS, Adang Daradjatun, meminta evaluasi agar penegakan hukum tetap memperhatikan perlindungan anak dan lingkungan pendidikan.

Penggeledahan tersebut merupakan bagian dari pengembangan penyidikan kasus pembakaran dan perusakan warung di Sukoharjo pada September 2026. Polda Jawa Tengah menyatakan tindakan itu dilakukan berdasarkan izin pengadilan untuk mencari pihak yang masuk daftar pencarian orang (DPO).


“Penegakan hukum harus tegas, tetapi juga harus profesional dan proporsional. Ketika tindakan dilakukan di lingkungan pendidikan yang dihuni anak-anak, aspek perlindungan, keselamatan, dan kondisi psikologis mereka harus menjadi perhatian utama,” tegas Adang kepada wartawan, Selasa, 3 November 2026.

Legislator PKS ini meminta keluhan terkait penggeledahan, pemeriksaan penghuni, dan barang-barang yang dibawa petugas diperiksa secara objektif. Ia juga mengapresiasi langkah Polri mendalami persoalan tersebut melalui mekanisme pengawasan internal, termasuk Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam).

“Kalau ada dugaan pelanggaran prosedur, harus diperiksa secara terbuka dan objektif. Jangan berhenti pada klarifikasi semata. Evaluasi perlu dilakukan untuk memastikan tindakan aparat dapat dipertanggungjawabkan dan menjadi pembelajaran agar kejadian serupa tidak terulang,” tegasnya.

Adang mengingatkan agar penanganan perkara tidak menimbulkan stigma terhadap pesantren maupun santri. Dugaan keterlibatan seseorang dalam tindak pidana, menurutnya, harus dibuktikan melalui proses hukum tanpa menggeneralisasi lembaga pendidikan tempatnya berada.

Mantan Wakapolri ini juga meminta perhatian terhadap kondisi psikologis santri yang mungkin mengalami ketakutan atau trauma serta pengembalian barang yang tidak berkaitan dengan pembuktian perkara sesuai ketentuan hukum.

“Prinsipnya, hukum harus ditegakkan, tetapi hak masyarakat juga harus dilindungi. Kita ingin proses hukum berjalan tuntas, prosedur diperiksa secara objektif, dan anak-anak serta lingkungan pendidikan tetap mendapatkan perlindungan,” demikian Adang.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

UPDATE

Gibran Mundur Saja

Selasa, 03 November 2026 | 04:20

Investasi Jakarta Tembus Rp249,3 Triliun

Selasa, 03 November 2026 | 04:08

MUI Apresiasi Pencopotan Kapolres Sukoharjo

Selasa, 03 November 2026 | 03:17

DJP Buka-bukaan soal Pajak Digital yang Disebut Hashim

Selasa, 03 November 2026 | 03:05

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Putusan MA soal Suket Gibran Jadi Momentum Akhiri Bayang-Bayang Jokowi

Selasa, 03 November 2026 | 02:13

Sikap Responsif Kapolri Pulihkan Kepercayaan Masyarakat

Selasa, 03 November 2026 | 02:05

RI Pamer Latihan Militer Gabungan Tiga Bidang di Forum Pertahanan ASEAN

Selasa, 03 November 2026 | 01:40

Anies Temui Seniman Iman Soleh di Bandung, Ini Kisahnya

Selasa, 03 November 2026 | 01:29

PAM Jaya Sumbang Dividen Rp257 Miliar

Selasa, 03 November 2026 | 01:07

Selengkapnya