Berita

Ilustrasi. (Foto: Dokumentasi Penulis)

Publika

Busuk dengan Bocelli

SENIN, 02 NOVEMBER 2026 | 01:00 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

LUAR biasa. Kali ini kritik terhadap  pemerintahan Prabowo datang dari seorang ulama senior, Buya Anwar Abbas, Wakil Ketua Umum MUI.

Ia menyebut keputusan para pembantu presiden yang memberi jalan bagi konser Andrea Bocelli sebagai bentuk “pembusukan” terhadap nama baik Prabowo sendiri.

Tulisan Buya Anwar yang dimuat Kumparan pada 28 Oktober 2026 itu patut mendapat perhatian serius. Ia melihat paradoks dalam pemerintahan: Prabowo ingin menegakkan konstitusi, tetapi pembantunya justru mengambil keputusan yang dinilai bertentangan dengan jiwa konstitusi.


Persoalannya memang jauh melampaui urusan  musik. Ini menyangkut konsistensi sikap negara terhadap penjajahan, terutama ketika Indonesia selama ini berdiri di belakang perjuangan kemerdekaan Palestina.

Ulama sudah mengingatkan, pembukaan UUD 1945 dengan tegas menyatakan bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena bertentangan dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Prinsip itu menjadi bagian penting dari identitas  politik bangsa Indonesia.

MUI sudah menyampaikan penolakan resmi terhadap konser Andrea Bocelli. Mereka menyoroti keterlibatan penyanyi tenor Italia itu dalam acara penggalangan dana Friends of the Israel Defense Forces di Los Angeles pada 2010 serta penampilannya di Tel Aviv pada 2022.Beli Tiket Konser

Kita tidak membenci musik. Kita juga tidak mempersoalkan konser musisi asing hanya karena mereka datang dari negara tertentu. Namun, ketika seorang tokoh seni diduga ikut mendukung penggalangan dana bagi militer Israel, persoalannya memasuki wilayah moral dan politik kemanusiaan.

MUI sudah mengingatkan pemerintah. Bahkan Kementerian Agama menyatakan dukungan terhadap sikap MUI, sementara Kementerian Pariwisata sebelumnya menyampaikan komitmen untuk menghormati keputusan lembaga ulama tersebut.

Lantas, mengapa persoalan ini masih menimbulkan kegaduhan? Di sinilah kritik Buya Anwar menjadi relevan: jangan sampai orang-orang di sekitar presiden justru merusak kepercayaan publik terhadap pemimpinnya.

Ketika suara ulama tak didengar, lihat apa yang kemudian terjadi. Front Persaudaraan Islam (FPI), yang selama pemerintahan Prabowo relatif jarang tampil dalam aksi demonstrasi besar, kini turun ke jalan menolak konser Bocelli. Pada 30 Oktober, mereka menggelar aksi di Balai Kota Jakarta dengan membawa mobil komando dan pengeras suara.Cari Buku Islam

Pemandangan itu semestinya menjadi bahan renungan pemerintah. Ketika suara ulama tak memperoleh perhatian yang semestinya, aspirasi masyarakat bisa berpindah dari ruang dialog ke jalan raya.

Jangan meremehkan gejala semacam ini. Persoalan yang semula bisa diselesaikan melalui komunikasi antar lembaga dapat berkembang menjadi kegaduhan politik yang lebih luas.

Buya Anwar Abbas menangkap persoalan yang lebih mendasar. Prabowo bisa saja sibuk menjalankan agenda ekonomi, investasi, dan pembangunan, tetapi masyarakat juga menilai pemerintah dari konsistensinya menjaga prinsip kebangsaan.

Siapa sebenarnya yang merugikan presiden?

Di sinilah istilah “pembusukan” itu terasa tajam. Jika presiden menyatakan komitmen membela Palestina, tetapi pembantunya mengambil kebijakan yang bertolak belakang dengan semangat tersebut, publik tentu akan mempertanyakan kesungguhan pemerintah.

Seorang presiden memang tidak mungkin mengawasi setiap keputusan pembantunya. Namun, ia bertanggung jawab memastikan seluruh jajaran pemerintah bergerak dalam garis kebijakan yang sama.Cek Layanan

Masalahnya, pembusukan politik sering berlangsung dari dalam. Orang-orang yang seharusnya menjaga reputasi pemimpin justru bisa menjadi sumber kerusakan reputasinya.

Tentu, kita perlu membedakan penilaian politik dan pelanggaran hukum. Konstitusi memberikan prinsip antikolonialisme, sedangkan penilaian terhadap kelayakan seorang artis tampil di Indonesia membutuhkan pertimbangan kebijakan yang transparan dan konsisten.

Pemerintah sebaiknya segera mengevaluasi persoalan ini secara terbuka. Jangan biarkan perbedaan sikap antar kementerian, aparat, dan lembaga negara terus membingungkan masyarakat.Cek Layanan

Prabowo perlu mendengar kritik Buya Anwar. Sebab, seorang pemimpin bisa menghadapi oposisi dari luar, tetapi jauh lebih berbahaya jika kepercayaan rakyat terkikis oleh keputusan orang-orang di dalam lingkaran kekuasaannya sendiri.

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Rencana Insentif MBG Rp1 Triliun Tuai Kritik dari DPR

Kamis, 29 Oktober 2026 | 15:47

UPDATE

Kapolri Resmi Larang Seluruh Polisi Pakai Vape

Minggu, 01 November 2026 | 21:51

Ketidakpuasan terhadap Kinerja Pemerintah

Minggu, 01 November 2026 | 21:33

Gaduh Penggeledahan Pesantren, Polri Libatkan Propam

Minggu, 01 November 2026 | 20:41

Dua Nasabah Gugat AIA Financial ke PN Jaksel

Minggu, 01 November 2026 | 20:18

Mantra Mahasiswa dan Mengapa Rakyat Sering Kali Dikalahkan?

Minggu, 01 November 2026 | 19:36

KB Bank Syariah Digugat ke Pengadilan

Minggu, 01 November 2026 | 18:39

Pakar Tata Negara Bongkar Efek Putusan MA Terhadap Nasib Gibran

Minggu, 01 November 2026 | 18:15

Cancel Culture RANS-Willie Salim Contoh Kemarahan Publik

Minggu, 01 November 2026 | 17:41

Lulusan Trisakti Didorong Jadi Generasi Inovatif dan Berjiwa Wirausaha

Minggu, 01 November 2026 | 17:23

Elemen Umat Islam Harus Bersatu Perkuat Ekonomi melalui Koperasi

Minggu, 01 November 2026 | 17:00

Selengkapnya