Berita

Morgan Stanley Capital International (MSCI). (Foto: Istimewa)

Politik

PKS Desak Pemerintah Bersikap Proporsional Terkait MSCI

KAMIS, 29 OKTOBER 2026 | 03:25 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Ide pembentukan sistem pemeringkatan pasar modal nasional sebagai respons terhadap ancaman penurunan status bursa Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) perlu dipertimbangkan secara cermat. 

Politisi senior Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Mulyanto, mengapresiasi ide tersebut sebagai upaya meningkatkan semangat kemandirian pasar modal nasional. Tapi ia mengatakan implementasi ide tersebut bukan perkara mudah. 

Anggota DPR RI periode 2014-2019 itu mengingatkan bahwa kemandirian ekonomi harus dibangun di atas fondasi tata kelola yang sehat, transparan, dan kredibel.


“Kita tentu menghargai semangat kemandirian tersebut. Indonesia dapat membuat indeks atau sistem pemeringkatan sendiri. Tetapi kita harus menyadari, bahwa kepercayaan investor dunia tidak bisa kita tentukan sendiri. Kepercayaan itu diperoleh melalui transparansi, integritas, dan penegakan hukum yang konsisten dalam bursa nasional,” ujar Mulyanto dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Rabu malam, 28 Oktober 2026.

Dia menilai bahwa persoalan MSCI pada dasarnya merupakan masalah teknokratis dan tata kelola (governance) pasar modal, bukan persoalan geopolitik ataupun kedaulatan negara. Karena itu, masalah ini sebaiknya tidak dibawa terlalu jauh ke ranah politik dan nasionalisme yang justru berpotensi memperumit penyelesaiannya. 

"Jangan sampai persoalan teknis tata kelola bursa berubah menjadi polemik politik tentang kedaulatan negara. Kita perlu menempatkan masalah ini secara proporsional agar penyelesaiannya menjadi lebih objektif, rasional, dan efektif,” jelasnya.

Menurut Mulyanto, MSCI merupakan penyedia indeks investasi global yang menjadi rujukan investor internasional. Karena itu, perhatian MSCI terhadap transparansi kepemilikan saham, keakuratan free float, dan dugaan praktik perdagangan terkoordinasi perlu dijawab melalui perbaikan nyata. 

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) merupakan lembaga yang memiliki kewenangan, kompetensi, dan kapasitas teknis untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Pemerintah dan DPR diharapkan memberikan dukungan politik dan organisasional, agar kedua otoritas itu dapat bekerja secara profesional, independen, dan efektif.

Mulyanto mengingatkan agar reformasi bursa tidak kehilangan fokus. Pembenahan harus diarahkan pada transparansi, integritas transaksi, perlindungan investor, dan penegakan hukum terhadap praktik manipulatif. Seluruh proses perbaikan juga perlu dikomunikasikan secara terbuka dan konstruktif kepada MSCI serta lembaga indeks internasional lainnya. 

"Kita tidak perlu alergi terhadap kritik. Kritik yang objektif justru harus menjadi cermin untuk memperbaiki diri. Jangan sampai kita sibuk membuat cermin sendiri, sementara wajah tata kelola bursa kita tidak kunjung diperbaiki,” tegasnya.

Mulyanto menambahkan bahwa membangun pasar modal yang sehat merupakan bagian penting dari upaya memperkuat ekonomi nasional. Jangan sampai kerja keras bangsa membangun sektor investasi justru dirusak oleh segelintir oknum pengusaha yang melakukan praktik curang dan manipulatif. 

"Pada akhirnya, ukuran keberhasilan reformasi bursa nasional bukanlah seberapa tinggi kita menilai diri sendiri, melainkan seberapa besar kepercayaan investor yang berhasil kita bangun. Persoalan teknokratis harus diselesaikan secara teknokratis. Jangan dipolitisasi sehingga masalah sederhana menjadi semakin rumit. Biarkan OJK dan BEI bekerja secara profesional dengan dukungan penuh negara,” pungkas dia. 

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

Mantan Kadivhubinter Polri Napoleon Bonaparte Meninggal Dunia

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:30

UPDATE

Ketua KNPI Merauke Ajak Generasi Muda Berkontribusi bagi Kemajuan Daerah

Kamis, 29 Oktober 2026 | 04:19

Kedaulatan Teknologi Faktor Penting Pertumbuhan Ekonomi Digital Indonesia

Kamis, 29 Oktober 2026 | 03:55

PKS Desak Pemerintah Bersikap Proporsional Terkait MSCI

Kamis, 29 Oktober 2026 | 03:25

Solusi Kasus Business Judgement Rule Sektor Perumahan

Kamis, 29 Oktober 2026 | 02:57

Waka BRIN Pimpin Delegasi RI Perjuangkan Space Economic di Konferensi PBB

Kamis, 29 Oktober 2026 | 02:32

Pertamina Didorong Ambil Alih Proyek Migas Mangkrak Demi Genjot Produktivitas

Kamis, 29 Oktober 2026 | 02:12

KPK Endus Ada Kickback Vendor kepada Pejabat BNPB

Kamis, 29 Oktober 2026 | 01:59

Presiden PKS Wanti-wanti Bahaya AI sebagai Senjata Fitnah

Kamis, 29 Oktober 2026 | 01:34

Masih Atur Waktu, KPK Bantah Ada Kendala dalam Pemanggilan Nusron

Kamis, 29 Oktober 2026 | 01:04

Polri Utamakan Pendekatan Humanis dan Edukatif Selama Operasi Patuh 2026

Kamis, 29 Oktober 2026 | 00:42

Selengkapnya