Berita

Ilustrasi Cara Cek Sebaran Asap Karhutla (Sumber: Gemini Generated Image)

Nusantara

Cara Cek Sebaran Asap Karhutla lewat Website BMKG dan NASA

SABTU, 24 OKTOBER 2026 | 12:02 WIB | OLEH: TIFANI

Cara cek sebaran asap karhutla lewat website BMKG dan NASA dapat dilakukan untuk memantau wilayah yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia. Melalui layanan pemantauan satelit, masyarakat dapat melihat informasi titik panas (hotspot), aktivitas kebakaran aktif, hingga citra satelit yang membantu mengidentifikasi indikasi sebaran asap dan potensi kabut asap.

Informasi sebaran asap karhutla penting diketahui untuk memantau kondisi lingkungan dan potensi penurunan kualitas udara, terutama ketika kebakaran hutan dan lahan meluas hingga mendekati permukiman. BMKG menyediakan informasi meteorologi dan citra satelit, sedangkan NASA melalui layanan Fire Information for Resource Management System (FIRMS) menyajikan data kebakaran aktif berdasarkan pengamatan satelit.

Lantas, bagaimana cara melihat peta sebaran asap karhutla melalui website BMKG dan NASA FIRMS? Berikut langkah-langkah untuk memantau titik panas, aktivitas kebakaran hutan, dan indikasi sebaran asap melalui layanan satelit.


Cara Cek Sebaran Asap Karhutla

Masyarakat dapat memanfaatkan website resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta layanan NASA FIRMS untuk memperoleh informasi terkait kebakaran hutan dan lahan. Kedua layanan tersebut memiliki fungsi berbeda sehingga perlu digunakan sesuai jenis data yang ingin diketahui.

1. Melalui Website BMKG

Website BMKG menyediakan informasi cuaca, kondisi atmosfer, dan pemantauan terkait kebakaran hutan dan lahan. Masyarakat dapat memeriksa ketersediaan citra satelit untuk mengetahui indikasi sebaran asap karhutla di sejumlah wilayah Indonesia.

Berikut cara cek sebaran asap karhutla melalui website BMKG:
  1. Buka website resmi BMKG di https://www.bmkg.go.id/.
  2. Cari menu atau layanan informasi terkait kebakaran hutan dan lahan.
  3. Jika tersedia, buka fitur Citra Sebaran Asap atau informasi pemantauan karhutla.
  4. Perhatikan citra satelit yang ditampilkan untuk mengidentifikasi indikasi sebaran asap di wilayah yang dipantau.
  5. Periksa waktu pengamatan dan keterangan pada citra agar informasi yang diperoleh sesuai dengan periode pemantauan.
Susunan menu dan ketersediaan fitur pada website BMKG dapat berubah sewaktu-waktu. Jika menu Citra Sebaran Asap tidak ditemukan, masyarakat dapat memeriksa kanal resmi BMKG lainnya untuk mencari informasi citra satelit, titik panas, dan perkembangan karhutla.

2. Melalui Website NASA FIRMS

Selain BMKG, masyarakat dapat memanfaatkan NASA FIRMS untuk memantau titik kebakaran aktif di berbagai wilayah dunia, termasuk Indonesia. Layanan ini menyediakan data kebakaran berdasarkan pengamatan satelit yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi lokasi aktivitas kebakaran hutan dan lahan.

Berikut langkah-langkah cek titik panas karhutla melalui NASA FIRMS: Data MODIS dan VIIRS dapat membantu masyarakat memantau titik panas karhutla berdasarkan deteksi satelit. Namun, titik panas tidak selalu berarti kebakaran hutan yang telah terkonfirmasi karena objek panas lain juga dapat terdeteksi oleh sensor satelit.

Untuk melihat indikasi sebaran asap, pengguna dapat memeriksa citra satelit dengan tampilan warna alami (true color) apabila tersedia. Asap terkadang terlihat sebagai lapisan tipis di atmosfer, tetapi tidak selalu mudah dibedakan dari awan, kabut, atau kondisi atmosfer lainnya.

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Dede Indra: Polri Serius Perangi Narkoba!

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 14:26

Grup Salim Guyur Rp2,25 Triliun untuk Buyback Saham, Ini Efeknya bagi LSIP, INDF, dan ICBP

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 14:13

Fokus Penuhi Kebutuhan Domestik, RI Mulai Rem Ekspor Gas ke Singapura

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 13:35

98 Resolution Network Soroti Tata Kelola SDA dan Ekonomi Kerakyatan di Dua Tahun Prabowo-Gibran

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 13:07

TRUK dan PNSE Rajai Daftar Saham Top Gainers Sepekan

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:46

Harga iPhone Duo di Indonesia, Mulai Rp 45 Juta hingga Rp 75 Juta

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:30

Tanpa Suara, BYD Atto 1 Seruduk Mobil dan Lindas Pengemudi Ojol

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:26

5 Gunung di Pulau Jawa Dilanda Karhutla Pekan Ini

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:23

Cara Cek Sebaran Asap Karhutla lewat Website BMKG dan NASA

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:02

Mengenal Virus Shamonda yang Ditemukan pada Pasien Meninggal di Prancis

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 11:59

Selengkapnya