Ilustrasi (Artificial Intelligence)
Keraguan investor terhadap besarnya belanja kecerdasan buatan (AI) mulai membayangi optimisme pasar saham Amerika Serikat (AS).
Sejumlah perusahaan teknologi besar memang mencatatkan hasil positif, tetapi kebutuhan modal yang terus membengkak memicu kekhawatiran baru dan mendorong investor melepas saham-saham teknologi.
Pada penutupan perdagangan Kamis, 22 Oktober 2026, waktu setempat, indeks Nasdaq Composite merosot 2,60 persen atau 694 poin ke 26.008,86. Indeks S&P 500 juga melemah 1,21 persen atau 93,74 poin ke 7.663,43. Sebaliknya, Dow Jones Industrial Average masih mampu naik tipis 0,02 persen atau 11,89 poin ke 52.867,98.
Tekanan paling besar datang dari sektor semikonduktor. Indeks Philadelphia Semiconductor anjlok 6,7 persen, mencatatkan penurunan harian terbesar sejak 23 Juni. Saham sejumlah produsen chip, termasuk Intel, AMD, SanDisk, dan Marvell, masing-masing merosot lebih dari 8 persen di tengah aksi jual saham teknologi.
Penurunan tersebut memperlihatkan perubahan sikap investor terhadap sektor yang sebelumnya menjadi salah satu pendorong utama kenaikan bursa. Sejak mencapai rekor penutupan tertinggi pada 22 Juni, indeks semikonduktor telah terkoreksi lebih dari 26 persen. Meski demikian, indeks itu masih mencatatkan kenaikan 51,5 persen sepanjang tahun ini, sementara S&P 500 naik 11,9 persen.
Saham Meta Platforms merosot 7 persen meskipun perusahaan induk Facebook itu melaporkan hasil yang melampaui ekspektasi analis. Investor mencermati besarnya pengeluaran untuk AI yang membuat Meta mencatatkan arus kas keluar untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade. Perusahaan juga mengumumkan rencana penerbitan saham tanpa hak suara melalui pemecahan saham dua banding satu untuk menghimpun modal bagi pengembangan teknologi tersebut.
Tesla juga melemah 3,1 persen, meskipun berhasil mencatatkan arus kas bebas positif pada kuartal tersebut dan memangkas rencana belanja modal untuk 2026. Perkembangan ini menunjukkan bahwa pengurangan belanja belum cukup untuk meredakan kekhawatiran investor mengenai kebutuhan investasi perusahaan di bidang AI dan teknologi terkait.
Di tengah pelemahan saham teknologi, sejumlah emiten dari sektor lain justru menguat setelah merilis laporan keuangan. Saham Spotify melonjak 11,1 persen setelah perusahaan memperkirakan laba kuartal IV melampaui ekspektasi Wall Street, didukung fitur berbasis AI. Blackstone naik 8,4 persen, Lockheed Martin menguat 7 persen, Procter & Gamble bertambah 5,6 persen, sedangkan Union Pacific naik 3,6 persen.
Musim laporan keuangan kuartal III masih berlangsung. Dari 111 perusahaan dalam indeks S&P 500 yang telah melaporkan kinerja, sebanyak 83 persen mencatatkan hasil di atas perkiraan analis, berdasarkan data terbaru LSEG. Namun, capaian tersebut belum cukup untuk menahan tekanan di sektor teknologi.
Sentimen pasar juga dibayangi kenaikan harga minyak mentah yang menyentuh level tertinggi dalam lima bulan setelah kelompok Houthi yang didukung Iran melancarkan serangan baru terhadap target di Arab Saudi. Lonjakan harga energi memicu kekhawatiran bahwa inflasi AS akan bertahan tinggi dan membuat Federal Reserve mempertahankan kebijakan suku bunga ketat, bahkan menaikkan suku bunga acuannya lagi sebelum akhir tahun.
Data klaim awal tunjangan pengangguran AS yang masih berada di dekat level terendah dalam beberapa dekade turut menunjukkan pasar tenaga kerja yang relatif stabil. Kondisi ini memberi ruang bagi bank sentral untuk tetap berfokus pada pengendalian inflasi.