Wamenko Perekonomian Dradjad Hari Wibowo. (Foto: RMOL/Alifia Dwi)
Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo mengingatkan investor domestik agar tidak menelan mentah-mentah penilaian penyedia indeks global MSCI Inc. terkait pasar modal Indonesia.
Hal tersebut dikatakan Dradjad menyusul langkah MSCI yang mempertimbangkan penurunan status Indonesia dari pasar berkembang (emerging market) menjadi pasar mandiri (standalone market).
Dradjad mengakui MSCI memiliki reputasi tinggi. Namun, menurutnya, keputusan MSCI tidak selalu memberikan gambaran terbaik bagi investor dalam menentukan pilihan investasi.
“MSCI itu punya reputasi tinggi, ini iya, bahwa kita juga perlu memperhatikan apa yang mereka sampaikan, iya. Tapi satu yang ingin saya sampaikan, mereka tidak selalu benar,” kata Dradjad di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta pada Jumat, 16 Agustus 2026.
Dradjad menyinggung analisis Deutsche Börse, operator bursa saham Jerman, yang membandingkan kinerja indeks DAX Jerman dengan MSCI World, saham-saham yang direkomendasikan MSCI.
Menurutnya, analisis tersebut menunjukkan bahwa ketika indeks DAX menguat, kinerja MSCI World justru dapat mencatat hasil negatif. Kondisi itu, kata dia, memperlihatkan bahwa mengikuti indeks MSCI tidak selalu menghasilkan keuntungan yang lebih baik.
"Mereka (Deutsche Börse) bisa menunjukkan bahwa ketika DAX, itu apa namanya, bursa Jerman, itu naik tinggi, MSCI World, yang betul-betul dianggap dunianya MSCI, ya saham-saham yang direkomendasikan MSCI, malah negatif. Artinya apa? Artinya tidak semua yang dilakukan oleh MSCI itu menguntungkan bagi investor," tuturnya.
Dia juga menyoroti komposisi MSCI World yang didominasi saham-saham Amerika Serikat dan sektor teknologi. Menurutnya, besarnya bobot kedua kelompok tersebut dapat memengaruhi kinerja indeks secara keseluruhan.
"Karena memang MSCI ini saham-sahamnya itu 70 persen didominasi saham Amerika, kemudian 30 persen didominasi oleh saham teknologi. Jadi ada bias Amerika di situ, maksudnya bukan bias, ada terlalu bobot Amerika terlalu besar di situ," katanya.
Karena itu, Dradjad menilai investor perlu memahami karakteristik indeks yang dijadikan acuan dan tidak sekadar mengikuti rekomendasi atau keputusan penyedia indeks.
Dia meminta investor domestik melakukan perhitungan secara mandiri dengan mempertimbangkan potensi saham-saham di pasar modal Indonesia, alih-alih hanya mengikuti penilaian lembaga penyedia indeks global.
"Satu hal yang ingin saya sampaikan kepada teman-teman investor domestik, ini tolong lakukan sendiri, hitung-hitungannya sendiri," tutur dia.
Meski mengkritisi penilaian MSCI, Dradjad menegaskan bahwa pemerintah tetap perlu melakukan pembenahan pasar modal, terutama dari sisi tata kelola dan implementasi regulasi.
“Betul apa yang dilakukan MSC, kita memang harus melakukan reformasi di pasar modal kita, tata kelola harus kita perbaiki, tapi tolong teman-teman investor hitung sendiri. Anda lebih tahu mengenai pasar modal kita,” tandasnya.