Berita

Mantan Jampidsus Febrie Adriansyah menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor Jakarta pada Rabu, 14 Oktober 2026. (Foto: YouTube PN Jakarta Pusat)

Hukum

Jaksa Dituntut Ekstra Hati-hati dalam Membaca Eksepsi Febrie Adriansyah

KAMIS, 15 OKTOBER 2026 | 17:32 WIB | LAPORAN: BONFILIO MAHENDRA

Nota pembelaan atau eksepsi yang disampaikan mantan Jampidsus Febrie Adriansyah di Pengadilan Tipikor Jakarta pada Rabu, 14 Oktober 2026, bisa membongkar berbagai celah krusial dalam surat dakwaan

Pandangan itu disampaikan pengamat kebijakan publik, Yanuar Wijanarko kepada wartawan pada Kamis, 15 Oktober 2026.

Yanuar menilai eksepsi Febrie bisa menguraikan perbuatan materiil hingga misteri rantai komando yang tidak tuntas ditarik secara linier, termasuk status hukum pihak ketiga, seperti Ferry Boboho.


"Rantai komando harus dibuktikan secara objektif, bukan sekadar berbasis asumsi,"  kata Yanuar.

Yanuar melihat kubu Febrie mampu membedah puluhan poin kelemahan formil maupun materiil dalam surat dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Sebab, kata Yanuar, dalam eksepsinya, tim pembela Febrie menegaskan bahwa dakwaan kasus dugaan pemerasan dan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) tersebut memenuhi unsur obscuur libel atau dakwaan yang diduga kabur.

Salah satu titik krusial mempertanyakan kejelasan hukum mengenai siapa yang sebenarnya memberikan perintah kepada Ferry Boboho untuk memeras para pengusaha yang berkasus di Kejaksaan Agung (Kejagung).

Tim hukum Febrie menilai, absennya penempatan pihak-pihak yang bersentuhan langsung di lapangan ke dalam kerangka dakwaan ini setara membuat klaim perintah langsung dari Febrie menjadi sangat spekulatif. 

Tentunya hal ini, kata Yanuar, menyisakan keraguan besar (reasonable doubt) atas kevalidan tuduhan yang dialamatkan kepada mantan petinggi Korps Adhyaksa tersebut.

"Jika penegakan hukum dilakukan dengan instrumen yang rapuh secara formil, dikhawatirkan justru melahirkan chilling effect -- membuat aparat penegak hukum lain menjadi ragu-ragu dan takut untuk bersikap tegas dalam memberantas korupsi besar di masa depan,"  pungkas Yanuar.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

UPDATE

Siapa di Balik Penyadapan Presiden Prabowo?

Kamis, 05 November 2026 | 06:29

Mengendus Pasal Makar

Kamis, 05 November 2026 | 06:14

DPRD Dukung Roadshow Pramono Anung ke 44 Kecamatan

Kamis, 05 November 2026 | 06:04

Mengenal Listyo Sigit, Eks Kapolri yang Jadi Raja Oknum

Kamis, 05 November 2026 | 05:57

Penyadapan Presiden Prabowo Bukan Kasus Biasa

Kamis, 05 November 2026 | 05:43

BPOM Buka Suara soal Vape Mengandung Obat Bius Etomidat dan Ketamin

Kamis, 05 November 2026 | 05:10

Intelektualisme Pemuda Kunci Memperkuat Persatuan Bangsa

Kamis, 05 November 2026 | 04:44

Kasus Listyo Sigit Imbas Sistem UUD 2002 yang Memproduksi Kegaduhan

Kamis, 05 November 2026 | 04:26

PAM Jaya Raih Penghargaan Pembayar Pajak Terbesar di Jakpus

Kamis, 05 November 2026 | 04:22

MUI: Penyadapan Presiden Kategori Tajassus dan Berdosa

Kamis, 05 November 2026 | 04:08

Selengkapnya