Partai Solidaritas Indonesia (PSI). (Foto: Istimewa)
Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dinilai terlalu percaya diri dalam membela Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Padahal, kekuatan politik PSI dinilai belum sebanding dengan ambisi besarnya untuk menembus Senayan.
Pengamat politik Nurul Fatta menilai, sosok mantan Presiden RI Joko Widodo alias Jokowi menjadi tumpuan utama PSI untuk membangun kekuatan politik dan meraih kursi di DPR RI.
“Bagi PSI Jokowi bagaikan dewa penyelamat untuk melenggang ke Senayan dalam mimpinya,” katanya kepada RMOL, Kamis, 15 Oktober 2026.
Menurutnya, kedekatan Jokowi dengan PSI membuat kader partai berlambang gajah itu semakin percaya diri. Hal tersebut juga terlihat dari banyaknya kader PSI yang bersuara membela Gibran di tengah polemik syarat pendidikan wakil presiden.
“Lihat gelagat PSI. Hampir semua kadernya bersuara membela Gibran. Ya memang harus begitu perannya. Tapi memang betul sejak Jokowi terlibat di dalamnya, partai ini terus membusungkan dada. Termasuk dalam pembelaan Gibran ini,” ujarnya.
Fatta mengingatkan, kepercayaan diri PSI tersebut belum tentu mencerminkan kekuatan politik yang sesungguhnya. Ia mengibaratkan PSI sebagai gajah yang tampak besar, tetapi belum memiliki tenaga sepadan.
“Tanpa mereka sadari, partai berlogo gajah itu masih berupa gajah yang belum tumbuh. Hanya saja tubuhnya dibesar-besarkan, tapi tenaganya belum sesuai. Besar pasak daripada tiang, gaya melampaui kekuatan,” tuturnya.
Fatta menilai, pusat gravitasi politik nasional saat ini telah bergeser kepada Presiden Prabowo Subianto, bukan lagi Jokowi yang sudah tidak menjabat sebagai kepala negara.
Ia menyebut, posisi Jokowi saat ini ditopang oleh PSI yang masih berupaya memperkuat basis politiknya serta Gibran yang menjabat sebagai wakil presiden. Namun, menurutnya, dukungan terhadap Gibran mulai menunjukkan tanda-tanda melemah.
“Episentrum politik saat ini adalah Prabowo, bukan lagi Jokowi,” tegasnya.
Dia menambahkan, pergeseran kekuatan politik tersebut menjadi tantangan bagi PSI dan kelompok pendukung Jokowi. Sebab, menurutnya, Prabowo kini memiliki posisi strategis sebagai presiden sekaligus pusat kekuasaan pemerintahan.
“Sekali macam-macam, mata penghancur itu tinggal dihunuskan oleh Prabowo,” pungkasnya.