Berita

Partai Solidaritas Indonesia (PSI). (Foto: Istimewa)

Politik

PSI Kepedean Bela Gibran

KAMIS, 15 OKTOBER 2026 | 13:35 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dinilai terlalu percaya diri dalam membela Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Padahal, kekuatan politik PSI dinilai belum sebanding dengan ambisi besarnya untuk menembus Senayan.

Pengamat politik Nurul Fatta menilai, sosok mantan Presiden RI Joko Widodo alias Jokowi menjadi tumpuan utama PSI untuk membangun kekuatan politik dan meraih kursi di DPR RI.

“Bagi PSI Jokowi bagaikan dewa penyelamat untuk melenggang ke Senayan dalam mimpinya,” katanya kepada RMOL, Kamis, 15 Oktober 2026.


Menurutnya, kedekatan Jokowi dengan PSI membuat kader partai berlambang gajah itu semakin percaya diri. Hal tersebut juga terlihat dari banyaknya kader PSI yang bersuara membela Gibran di tengah polemik syarat pendidikan wakil presiden.

“Lihat gelagat PSI. Hampir semua kadernya bersuara membela Gibran. Ya memang harus begitu perannya. Tapi memang betul sejak Jokowi terlibat di dalamnya, partai ini terus membusungkan dada. Termasuk dalam pembelaan Gibran ini,” ujarnya.

Fatta mengingatkan, kepercayaan diri PSI tersebut belum tentu mencerminkan kekuatan politik yang sesungguhnya. Ia mengibaratkan PSI sebagai gajah yang tampak besar, tetapi belum memiliki tenaga sepadan.

“Tanpa mereka sadari, partai berlogo gajah itu masih berupa gajah yang belum tumbuh. Hanya saja tubuhnya dibesar-besarkan, tapi tenaganya belum sesuai. Besar pasak daripada tiang, gaya melampaui kekuatan,” tuturnya.

Fatta menilai, pusat gravitasi politik nasional saat ini telah bergeser kepada Presiden Prabowo Subianto, bukan lagi Jokowi yang sudah tidak menjabat sebagai kepala negara.

Ia menyebut, posisi Jokowi saat ini ditopang oleh PSI yang masih berupaya memperkuat basis politiknya serta Gibran yang menjabat sebagai wakil presiden. Namun, menurutnya, dukungan terhadap Gibran mulai menunjukkan tanda-tanda melemah.

“Episentrum politik saat ini adalah Prabowo, bukan lagi Jokowi,” tegasnya.

Dia menambahkan, pergeseran kekuatan politik tersebut menjadi tantangan bagi PSI dan kelompok pendukung Jokowi. Sebab, menurutnya, Prabowo kini memiliki posisi strategis sebagai presiden sekaligus pusat kekuasaan pemerintahan.

“Sekali macam-macam, mata penghancur itu tinggal dihunuskan oleh Prabowo,” pungkasnya.


Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Menelusuri Perjalanan Baru Vision dalam Serial VisionQuest

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:29

Usai Mandek, Harga Emas Antam Langsung Anjlok Hari Ini

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:22

Polisi Rilis 13 Korban Ledakan Pertokoan Pasar Cimanggis Tangsel

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:17

COP31 Jadi Momentum Prabowo Percepat Transisi Energi

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:08

PM Baru Maroko Temui Raja, Bahas Pembentukan Pemerintahan Baru

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:03

Pertamina Kerahkan Armada Tambahan dan Terminal 24 Jam untuk Normalisasi BBM di Bal

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:54

4,4 Juta Sertifikat Halal Terbit Jelang Batas Akhir, Didominasi UMKM

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:46

Pengamat Dorong Percepatan Jargas dan CNG untuk Tekan Impor LPG

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:42

Rupiah Nyaris Tembus Rp18.000 per Dolar AS, BI Langsung Buka Suara

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:38

Badai PHK Melanda Netflix Saat Pertumbuhan Melambat

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:27

Selengkapnya