Berita

Wapres Gibran Rakabuming Raka. (Foto: Istimewa)

Politik

Perjuangan Pemakzulan Gibran Harus Diperkuat Lewat Partai

KAMIS, 15 OKTOBER 2026 | 13:12 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Kelompok masyarakat yang memperjuangkan pemakzulan Wapres Gibran Rakabuming Raka perlu memperkuat komunikasi politik dengan partai-partai di parlemen. Langkah tersebut dinilai lebih strategis daripada hanya menyampaikan tuntutan kepada pimpinan DPR.

Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah mengatakan, komunikasi terutama perlu dilakukan dengan partai politik yang telah menyampaikan komentar mengenai polemik Gibran, termasuk PDIP, PKB, PKS, Partai Demokrat dan Partai Golkar.

Ia mengingatkan, DPR saat ini sedang menjalani masa reses sehingga aktivitas persidangan reguler di kompleks parlemen tidak berlangsung seperti pada masa sidang.


“Reses DPR tidak boleh ada aktivitas persidangan reguler di DPR. Anggota dewan menjalankan kegiatan di daerah pemilihan masing-masing. Pada 9 November masa reses berakhir,” kata Amir, dikutip Kamis 15 Oktober 2026.

Berdasarkan jadwal yang diumumkan DPR, masa reses Masa Persidangan I Tahun Sidang 2026-2027 berlangsung mulai 9 Oktober hingga 9 November 2026. DPR dijadwalkan kembali memasuki masa sidang pada 10 November 2026.

Amir mengatakan, kelompok masyarakat yang menginginkan persoalan Gibran ditindaklanjuti melalui mekanisme konstitusional sebaiknya menggunakan waktu selama masa reses untuk membangun komunikasi dengan partai politik.

Menurut Amir, fraksi-fraksi di DPR merupakan saluran penting untuk menyampaikan aspirasi politik karena setiap fraksi merepresentasikan partai politik yang memiliki sikap dan pertimbangan masing-masing.

“Untuk menunggu masa reses selesai, kelompok yang memperjuangkan pemakzulan Gibran harus membangun komunikasi dengan partai politik. Bukan hanya berkomunikasi dengan DPR secara umum, tetapi terutama dengan fraksi-fraksi yang ada di DPR,” kata Amir.

Ia menyebut PDIP, PKB, Golkar, PKS dan Demokrat sebagai partai yang perlu diajak berdialog, terutama untuk mengetahui sejauh mana sikap politik mereka terhadap tuntutan masyarakat.

Amir menilai komunikasi tersebut perlu dilakukan secara terbuka, dengan argumentasi yang jelas dan berlandaskan ketentuan konstitusi. Dengan demikian, aspirasi pemakzulan tidak berhenti sebagai tuntutan di ruang publik, tetapi dapat dibahas melalui saluran politik dan kelembagaan yang tersedia.

Amir juga meminta pimpinan DPR memberikan penjelasan kepada masyarakat mengenai bagaimana aspirasi terkait polemik Gibran dapat disampaikan dan ditindaklanjuti secara konstitusional.

Menurutnya, masyarakat membutuhkan kejelasan mengenai saluran kelembagaan yang dapat ditempuh, termasuk peran fraksi-fraksi dan mekanisme pengawasan DPR.

“Fraksi-fraksi DPR harus bisa menjelaskan bagaimana tuntutan masyarakat itu diselesaikan secara konstitusional. Pimpinan DPR juga harus memberikan penjelasan kepada publik,” kata Amir.

Ia menilai keterbukaan penting agar masyarakat tidak terus berspekulasi mengenai sikap parlemen. Penjelasan yang jelas juga diperlukan untuk membedakan antara aspirasi politik masyarakat, sikap resmi partai, dan proses hukum yang diatur oleh konstitusi.

Dalam perkara yang menyangkut jabatan Wakil Presiden, menurut Amir, langkah yang ditempuh harus memiliki dasar hukum dan mengikuti prosedur yang berlaku.

Secara konstitusional, pemberhentian Presiden dan/atau Wakil Presiden diatur dalam Pasal 7A dan Pasal 7B UUD 1945. Pasal 7A menyebutkan bahwa pemberhentian dapat dilakukan apabila terbukti terjadi pelanggaran hukum tertentu atau apabila Presiden dan/atau Wakil Presiden tidak lagi memenuhi syarat sebagai pemegang jabatan tersebut.

Sementara itu, Pasal 7B mengatur tahapan yang harus dilalui. DPR terlebih dahulu menyampaikan pendapat dan mengajukan permintaan kepada Mahkamah Konstitusi untuk memeriksa serta memutus dugaan pelanggaran atau persoalan persyaratan jabatan tersebut.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

UPDATE

Baru 10 Jam, Tulisan SBY Soal Politik Liar Tembus 9 Juta Tayangan di X

Rabu, 04 November 2026 | 20:21

Menag Dorong PTKIN Jadi Pelopor Hilirisasi dan Inovasi Teknologi

Rabu, 04 November 2026 | 20:19

Polri Harus Jaga Integritas dan Kepercayaan Publik di Kasus Listyo Sigit

Rabu, 04 November 2026 | 20:17

Aturan Penyadapan Ilegal di Indonesia, Ini Ancaman Hukuman bagi Pelaku

Rabu, 04 November 2026 | 20:11

Ketum KNPI Minta Penegak Hukum Serius Usut Dugaan Penyadapan Presiden

Rabu, 04 November 2026 | 20:07

Tanggapan Allianz Setelah Digugat Rp5,2 Miliar di PN Jaksel

Rabu, 04 November 2026 | 20:02

Jorindo Indonesia Gandeng Mubarak Dubai Jalin Kerja Sama Operasi Salvage

Rabu, 04 November 2026 | 19:57

4 Kasus Penyadapan Presiden Indonesia, dari Habibie hingga Prabowo

Rabu, 04 November 2026 | 19:52

BRI Kukuhkan 35 Penerima Beasiswa BRI Fellowship Journalism 2026

Rabu, 04 November 2026 | 19:49

Kasus Intimidasi Meningkat, Dewan Pers Tegaskan Komitmen Lindungi Wartawan

Rabu, 04 November 2026 | 19:48

Selengkapnya