Berita

Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Busyro Muqoddas (Foto: Istimewa)

Politik

PP Muhammadiyah: Pengelolaan Migas Tak Boleh Abaikan Konstitusi dan Rakyat!

KAMIS, 15 OKTOBER 2026 | 12:25 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Pengelolaan minyak dan gas bumi (migas) harus berlandaskan konstitusi dan berorientasi pada sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, sehingga pembentukan regulasi tidak mengabaikan partisipasi publik, keadilan sosial, dan kelestarian lingkungan.

Demikian disampaikan Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Busyro Muqoddas, dalam Focus Group Discussion (FGD) bertema “Rancangan Undang-Undang Minyak dan Gas Bumi: Mengembalikan Kedaulatan Migas dan Memastikan Pengelolaannya sesuai Konstitusi untuk Sebesar-besar Kemakmuran Rakyat” yang digelar Majelis Hukum dan HAM (MHH) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dikutip Kamis, 15 Oktober 2026.

Menurut Busyro, gerakan keagamaan dan kebangsaan harus diwujudkan melalui tindakan nyata. 


Muhammadiyah, kata dia, memandang gerakan profetik yang mencakup liberasi, humanisasi, dan transendensi sebagai landasan moral dalam mengawal kebijakan publik, termasuk pengelolaan sumber daya alam.

“Gerakan profetik Muhammadiyah bukan sekadar wacana keagamaan, melainkan harus hadir dalam kehidupan kebangsaan melalui upaya membebaskan masyarakat dari ketidakadilan, memanusiakan manusia, dan menjadikan nilai-nilai ketuhanan sebagai landasan moral dalam penyelenggaraan negara,” tegas Busyro.

Ia menegaskan, kebijakan publik harus disusun berdasarkan ilmu pengetahuan dan hasil kajian yang dapat dipertanggungjawabkan, bukan prasangka. Karena itu, pembahasan RUU Migas perlu mempertimbangkan dampak kebijakan terhadap masyarakat dan lingkungan.

Busyro juga menyoroti proses legislasi yang berlangsung cepat atau fast track, tetapi berisiko mengesampingkan partisipasi publik. Padahal, keterlibatan masyarakat diperlukan agar regulasi disusun secara terbuka dan memiliki legitimasi sosial yang kuat.

Pengalaman Muhammadiyah mengajukan judicial review terhadap sejumlah undang-undang, termasuk yang berkaitan dengan migas dan sumber daya alam, menjadi bagian dari upaya masyarakat sipil mengawal konstitusi. Pengawasan tersebut dinilai penting untuk memastikan kekuasaan dijalankan sesuai prinsip keadilan.

“Muhammadiyah tidak bisa mendiamkan kemaksiatan politik,” tegas Busyro.

Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) itu turut mengingatkan bahwa kebijakan hilirisasi yang dijalankan pemerintah bersama DPR telah menimbulkan dampak terhadap lingkungan dan kehidupan sosial masyarakat. 

Karena itu, kebijakan pengelolaan sumber daya alam, termasuk migas, harus dikaji secara menyeluruh agar pembangunan tidak mengorbankan keberlanjutan lingkungan maupun hak masyarakat terdampak.

FGD yang diselenggarakan MHH PP Muhammadiyah tersebut diharapkan menghasilkan rekomendasi konkret untuk disampaikan kepada para pemangku kebijakan sebagai masukan dalam pembahasan RUU Migas.

Melalui semangat ta’awun atau saling menolong, Muhammadiyah mendorong kolaborasi antara organisasi masyarakat sipil, akademisi, dan pemangku kebijakan guna mewujudkan tata kelola migas yang berpihak pada kepentingan publik.

“Berlandaskan konstitusi, serta menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan keadilan sosial,” pungkasnya.


Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

UPDATE

Baru 10 Jam, Tulisan SBY Soal Politik Liar Tembus 9 Juta Tayangan di X

Rabu, 04 November 2026 | 20:21

Menag Dorong PTKIN Jadi Pelopor Hilirisasi dan Inovasi Teknologi

Rabu, 04 November 2026 | 20:19

Polri Harus Jaga Integritas dan Kepercayaan Publik di Kasus Listyo Sigit

Rabu, 04 November 2026 | 20:17

Aturan Penyadapan Ilegal di Indonesia, Ini Ancaman Hukuman bagi Pelaku

Rabu, 04 November 2026 | 20:11

Ketum KNPI Minta Penegak Hukum Serius Usut Dugaan Penyadapan Presiden

Rabu, 04 November 2026 | 20:07

Tanggapan Allianz Setelah Digugat Rp5,2 Miliar di PN Jaksel

Rabu, 04 November 2026 | 20:02

Jorindo Indonesia Gandeng Mubarak Dubai Jalin Kerja Sama Operasi Salvage

Rabu, 04 November 2026 | 19:57

4 Kasus Penyadapan Presiden Indonesia, dari Habibie hingga Prabowo

Rabu, 04 November 2026 | 19:52

BRI Kukuhkan 35 Penerima Beasiswa BRI Fellowship Journalism 2026

Rabu, 04 November 2026 | 19:49

Kasus Intimidasi Meningkat, Dewan Pers Tegaskan Komitmen Lindungi Wartawan

Rabu, 04 November 2026 | 19:48

Selengkapnya