Berita

Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo. (Foto: RMOL/Alifia Dwi)

Pemerintahan

Pemerintah Mulai Terapkan Wajib Halal 18 Oktober, UMK Dapat Fasilitas Gratis

KAMIS, 15 OKTOBER 2026 | 10:42 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Kewajiban sertifikasi halal mulai berlaku pada 18 Oktober 2026, setelah batas akhir pemenuhan kewajiban pada 17 Oktober 2026. 

Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo mengatakan pemerintah akan menerapkan kebijakan tersebut secara bertahap dengan mempertimbangkan kesiapan pelaku usaha dan sistem Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH).

Menurutnya, penerapan kewajiban halal tidak bisa dilepaskan dari kemampuan pelaku usaha dalam memenuhi ketentuan yang berlaku.


“Penerapannya (wajib halal) itu adalah disesuaikan dengan kesiapan (pelaku usaha). Baik kesiapan pelaku usaha maupun kesiapan sistem di BPJPH. Dan tentu kita terapkan bertahap,” kata Dradjad kepada wartawan di acara Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026 di JICC Jakarta, dikutip Kamis, 15 Oktober 2026.

Dradjad menilai penerapan standar produk merupakan praktik yang lazim dilakukan berbagai negara. Meski demikian, ia tidak menampik akan adanya hambatan nontarif dalam perdagangan internasional.

“Di mana-mana kan kita masuk ke Eropa ada EUDR (European Union Deforestation Regulation) walaupun belum diterapkan. Kemudian ada sustainability dan segala macam. Masuk ke Amerika ada biological standard, macam-macam juga. Semua negara pakai standard,” jelasnya.

Menurut Dradjad, standar tersebut bukan menjadi persoalan selama diterapkan secara adil.

“Jadi bahwa itu menjadi barier, iya. Tapi semua negara memakai standard itu. Dan standard itu asal fair dan asal adil. Itu gak masalah,” tuturnya.

Untuk mendukung pelaku usaha, khususnya usaha mikro dan kecil (UMK), pemerintah menyiapkan 1,35 juta kuota sertifikat halal gratis melalui program Sertifikasi Halal Gratis (Sehati) pada 2026.

Pelaku usaha dapat mengajukan sertifikasi melalui sistem SiHalal. Fasilitas tersebut diharapkan membantu UMK memenuhi kewajiban halal sekaligus memperkuat daya saing produk lokal.

Pemerintah juga mendorong sertifikasi halal sebagai bagian dari pengembangan industri halal nasional. Selain memberikan kepastian bagi konsumen, sertifikasi diharapkan membuka peluang lebih luas bagi produk Indonesia untuk menembus pasar domestik maupun internasional.


Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

UPDATE

Diam-diam Nusron Wahid Datang ke KPK Tanpa Penjadwalan Pemeriksaan

Rabu, 04 November 2026 | 10:26

Harga Minyak Dunia Turun ke 103 Dolar AS

Rabu, 04 November 2026 | 10:17

Skandal Listyo Sigit jadi Pintu Masuk Seret Jokowi-Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 10:13

Kapolri Terlama yang Sukses Tanam Jagung jadi Tersangka Penyadapan Presiden, Mahfud MD: Gila!

Rabu, 04 November 2026 | 09:51

Laporan Keuangan Danantara Ditarget Rampung November 2026

Rabu, 04 November 2026 | 09:45

PT Djarum Bayar Cukai Tak Semestinya, Negara Rugi Triliunan Rupiah

Rabu, 04 November 2026 | 09:45

Prabowo Saja Bisa Disadap Apalagi Rakyat Jelata

Rabu, 04 November 2026 | 09:41

Perkuat Hilirisasi, NTB Berpeluang Jadi Sentra Industri Kelapa

Rabu, 04 November 2026 | 09:33

Listyo Sigit Lakukan Kejahatan Paling Jahat

Rabu, 04 November 2026 | 09:30

IHSG Merah, Mayoritas Saham Berguguran

Rabu, 04 November 2026 | 09:20

Selengkapnya