Berita

Ilustrasi

Nusantara

BMKG: El Niño Bertahan hingga 2027, Dampaknya Mereda Seiring Datangnya Musim Hujan

KAMIS, 15 OKTOBER 2026 | 07:02 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Fenomena El Niño masih terpantau aktif dan diestimasikan bertahan sampai permulaan tahun 2027.  Meskipun demikian, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengatakan pengaruhnya diprediksi bakal terus berkurang seiring dengan berlangsungnya musim hujan.

“Walaupun El Niño akan bertahan sampai awal 2027, dengan masuknya Indonesia ke musim hujan, dampak El Niño akan berkurang,” ungkap Direktur Perubahan Iklim BMKG, Fachry Ridjab kepada media di Jakarta, Rabu 14 Oktober 2026. 

Fachry menjelaskan bahwa El Niño dan musim hujan merupakan dua fenomena berlainan yang saling memberikan pengaruh timbal balik. Menurutnya, musim hujan akan senantiasa melanda Indonesia terlepas dari ada atau tidaknya kemunculan fenomena El Niño.


“Yang perlu kita pahami, El Niño dan musim (hujan) itu dua fenomena yang tidak sama gitu ya, tapi saling memengaruhi. Musim kemarau, musim hujan akan selalu terjadi di Indonesia, ada atau tidaknya El Niño,” ujarnya.

Saat ini, BMKG mencatat bahwa sejumlah daerah seperti Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara telah mulai memasuki musim hujan sehingga dampak El Niño di kawasan tersebut tidak lagi signifikan. Sebaliknya, wilayah Bantul di Daerah Istimewa Yogyakarta justru mencatatkan rekor hari tanpa hujan terpanjang yang mencapai 160 hari berturut-turut.

Pihak BMKG memperkirakan bahwa pada November 2026 sebagian besar kawasan Kalimantan dan Sumatera akan mulai kedatangan musim hujan dengan intensitas menengah hingga tinggi. Kendati begitu, curah hujan di sejumlah titik di Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), serta Sulawesi terpantau masih relatif rendah.

“Untuk Desember, sebagian besar wilayah Indonesia sudah berwarna hijau, artinya sudah terjadi curah hujan tinggi,” ungkap Fachry.

Meskipun demikian, BMKG mengingatkan bahwa persebaran hujan tidak akan merata secara merata di seluruh wilayah. Perbedaan kondisi iklim dan cuaca ini menuntut penanganan mitigasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di lapangan agar senantiasa disesuaikan dengan tingkat kerawanan masing-masing daerah, khususnya bagi wilayah yang masih menghadapi dampak karhutla yang berat.


Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Gus Lilur Laporkan Dugaan Jual Beli Suara Muktamar NU ke KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 00:20

Ledakan Besar Guncang Pasar Cimanggis-Ciputat, 2 Orang Dikabarkan Tewas

Kamis, 15 Oktober 2026 | 00:00

Danantara Minta Maaf dan Ambil Alih PLN Batam Usai Listrik Padam

Rabu, 14 Oktober 2026 | 23:36

Pemerintah Diminta Gencar Sosialisasikan Beasiswa Pendidikan untuk Anak Papua

Rabu, 14 Oktober 2026 | 23:08

Ijazah Keluarga Jokowi itu Terus Melahirkan Masalah Bangsa

Rabu, 14 Oktober 2026 | 22:54

GoTo Gelar RUPSLB, Restui Pembatalan Saham Tresuri dan Perombakan Direksi

Rabu, 14 Oktober 2026 | 22:26

Terdakwa Pemerasan Bangun Paulus Dijemput Paksa di Tempat Hiburan, Alasan Mangkir Sakit

Rabu, 14 Oktober 2026 | 22:17

Kaya Omega-3, Bumi Wijaya Pilih Ikan Sidat untuk Gizidat

Rabu, 14 Oktober 2026 | 22:07

Indonesia-Malaysia Perkuat Kerja Sama Imigrasi, Pencegahan TPPO jadi Perhatian

Rabu, 14 Oktober 2026 | 22:05

Pertamina Patra Niaga Maksimalkan Langkah Pemulihan Layanan BBM di Bali

Rabu, 14 Oktober 2026 | 21:52

Selengkapnya