Berita

Suasana sidang lanjutan kasus dugaan pemerasan disertai pengancaman yang digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Rabu, 14 Oktober 2026. (Foto: RMOL)

Hukum

Terdakwa Pemerasan Bangun Paulus Dijemput Paksa di Tempat Hiburan, Alasan Mangkir Sakit

RABU, 14 OKTOBER 2026 | 22:17 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Penyidik Polres Jakarta Pusat membeberkan kronologi penjemputan paksa Bangun Paulus Tudungta terkait kasus dugaan pemerasan dan pengancaman. Bangun diamankan setelah dua kali tidak memenuhi panggilan pemeriksaan saat berada di tempat hiburan di daerah Gajah Mada, Jakarta Pusat.

"Awalnya menerima surat perintah membawa saksi karena tidak memenuhi dua kali panggilan (pemeriksaan) dengan alasan sakit. Dilakukan penjemputan pada Rabu 15 April jam 02.40 di Malio Gajah Mada," kata Briptu Fajar Rahmatullah saat dihadirkan sebagai saksi dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Rabu, 14 Oktober 2026.

Bangun Paulus sedianya diperiksa sebagai saksi terlapor atas laporan polisi yang dibuat oleh korban Vinson Leocarlius. Bangun yang berprofesi sebagai pengacara magang dilaporkan dengan tuduhan melakukan pemerasan dan pengancaman.


"(Malio) lebih tepatnya bukan hotel tapi tempat hiburan. Dijemput pukul 02.40 nunggu closing agar tidak terjadi keributan. Terdakwa bersama temannya, sempat tidak terima kenapa dijemputnya di tempat tersebut," kata penyidik Polres lainnya, Brigadir Wanandra Eka, menjawab pertanyaan jaksa penuntut umum.

Briptu Fajar Rahmatullah dan Brigadir Wanandra juga memberikan kesaksian yang sama bahwa proses penjemputan paksa Bangun Paulus sudah sesuai prosedur hukum.

"Tim menunjukkan surat perintah penjemputan. Yang menjelaskan alasan penjemputan Bripka Eko. Benar suratnya penjemputan, bukan penahanan," tambah Wanandra menjawab pertanyaan tim hukum Bangun.

Bangun Paulus didakwa melakukan pemerasan dan pengancaman terhadap pengusaha muda Vinson Leocarlius. Atas perbuatannya Bangun dijerat dengan dakwaan kesatu Pasal 482 ayat (1) huruf a dengan ancaman maksimal 9 tahun penjara dan dakwaan kedua Pasal 483 huruf a Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP dengan ancaman 4 tahun penjara.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

UPDATE

Diam-diam Nusron Wahid Datang ke KPK Tanpa Penjadwalan Pemeriksaan

Rabu, 04 November 2026 | 10:26

Harga Minyak Dunia Turun ke 103 Dolar AS

Rabu, 04 November 2026 | 10:17

Skandal Listyo Sigit jadi Pintu Masuk Seret Jokowi-Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 10:13

Kapolri Terlama yang Sukses Tanam Jagung jadi Tersangka Penyadapan Presiden, Mahfud MD: Gila!

Rabu, 04 November 2026 | 09:51

Laporan Keuangan Danantara Ditarget Rampung November 2026

Rabu, 04 November 2026 | 09:45

PT Djarum Bayar Cukai Tak Semestinya, Negara Rugi Triliunan Rupiah

Rabu, 04 November 2026 | 09:45

Prabowo Saja Bisa Disadap Apalagi Rakyat Jelata

Rabu, 04 November 2026 | 09:41

Perkuat Hilirisasi, NTB Berpeluang Jadi Sentra Industri Kelapa

Rabu, 04 November 2026 | 09:33

Listyo Sigit Lakukan Kejahatan Paling Jahat

Rabu, 04 November 2026 | 09:30

IHSG Merah, Mayoritas Saham Berguguran

Rabu, 04 November 2026 | 09:20

Selengkapnya