Ikan sidat bukan sekadar ikan bertubuh panjang yang kerap disamakan dengan belut. Kandungan gizinya menjadi alasan CV Bumi Wijaya memilih ikan ini sebagai salah satu bahan utama dalam formulasi Gizidat, produk berbahan madu, temulawak, dan ikan sidat.
Bumi Wijaya adalah manufaktur jamu lokal yang beroperasi di Desa Gentasari Kecamatan Kroya Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.
Pilihan Bumi Wijaya sejalan dengan sejumlah penelitian yang menunjukkan potensi nutrisi ikan sidat.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Gadis Sri Haryani, mengungkapkan ikan sidat memiliki kandungan omega-3 berupa DHA dan EPA yang tinggi.
Bahkan, berdasarkan data yang disampaikan BRIN, kandungan omega-3 sidat disebut lebih tinggi dibandingkan salmon dan ikan gabus. Sidat juga mengandung vitamin A, vitamin B kompleks, zat besi, protein, kalori, dan fosfor.
DHA atau docosahexaenoic acid merupakan salah satu jenis asam lemak omega-3 yang berperan dalam perkembangan dan fungsi otak.
Sementara EPA atau eicosapentaenoic acid berkaitan dengan fungsi tubuh antara lain dalam proses peradangan dan kesehatan jantung.
Potensi nutrisi inilah yang juga menjadi pertimbangan Bumi Wijaya ketika mengembangkan Gizidat.
Apoteker Penanggung Jawab Bumi Wijaya, Muji Widodo, mengatakan sidat dipilih karena komposisi nutrisinya tidak berhenti pada protein dan lemak.
“Yang paling utama ada tiga kandungan di ikan sidat, yaitu protein, lemak, dan mikronutrien,” kata Muji dalam keterangannya, Rabu 14 Oktober 2026.
Menurut Muji, keberadaan mikronutrien menjadi salah satu kelebihan yang dipertimbangkan dalam pemilihan bahan baku.
“Mikronutrien ini termasuk vitamin dan lain-lain, seperti vitamin A dan vitamin D,” ujarnya.
Bagi Bumi Wijaya, dikatakan Muji, profil nutrisi itu yang kemudian membedakan sidat dengan bahan ikan lain yang dapat digunakan dalam pengembangan produk.
“Kalau ikan lain mungkin cukup tinggi di protein dan lemak. Di sidat ini ada mikronutriennya juga. Jadi kita pilih ikan sidat karena kandungannya cukup lengkap,” kata Muji.
Dalam Gizidat, sidat tidak berdiri sendiri. Bumi Wijaya memadukannya dengan madu dan temulawak.
Muji menjelaskan, madu dipilih sebagai basis formulasi dengan mempertimbangkan karakter rasa yang dapat diterima anak. Sementara temulawak digunakan karena secara tradisional dikenal untuk membantu memelihara nafsu makan.
Sidat kemudian ditempatkan sebagai komponen pendukung nutrisi dalam formulasi tersebut.
“Ikan sidat ini di Gizidat digunakan sebagai nutrition support. Tiga kombinasi ini yang kami formulasikan di Gizidat,” ujarnya.
Namun, memiliki bahan baku kaya nutrisi tidak otomatis membuat seluruh kandungannya bertahan setelah diolah.
Muji mengatakan proses produksi menjadi tahapan penting, terutama berkaitan dengan penggunaan suhu.
“Yang paling utama terkait proses pemanasan atau suhu. Suhu pada proses pengolahan ikan sidat sangat menentukan apakah nutrisinya masih terjaga atau tidak,” pungkasnya.