Berita

Tersangka OTT Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). (Foto: Istimewa)

Hukum

Adik Kepala BNPB Suharyanto Cs Diduga Selewengkan Dana Siap Pakai

RABU, 14 OKTOBER 2026 | 19:00 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Adik Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto, Bima Setiawan, bersama empat tersangka lainnya diduga terlibat dalam penyalahgunaan dana siap pakai (DSP) untuk kebencanaan, serta pengondisian bersama sejumlah perusahaan swasta dalam penyaluran hingga pemanfaatan anggaran tersebut.

Ketua KPK, Setyo Budiyanto mengatakan, dugaan penyimpangan terjadi dalam proses pengadaan barang dan jasa yang menggunakan DSP di lingkungan BNPB. Penyidik mendalami indikasi kerja sama antara sejumlah oknum dengan pihak swasta untuk memperoleh keuntungan pribadi.

"Ya, dari dana siap pakai inilah kemudian ada proses-proses yang seharusnya dilakukan sesuai dengan ketentuan. Meskipun kami juga melihat ada beberapa persyaratan untuk bisa menggunakan dana siap pakai ini," kata Setyo kepada wartawan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Rabu, 14 Oktober 2026.


Menurut Setyo, penyidik menemukan indikasi adanya pengondisian dalam penyaluran anggaran, pemanfaatan, hingga penggunaannya. Sebagian dana tersebut diduga disalahgunakan oleh oknum untuk kepentingan pribadi.

"Dari dana siap pakai itu kan melibatkan ada perusahaan-perusahaan swasta. Ini yang sedang kemudian didalami, yang terindikasi bahwa ada kerja sama, ada semacam pengkondisian, ya terutama dalam penyaluran anggaran, kemudian pemanfaatan, penggunaannya, yang sebagian disalahgunakan oleh beberapa oknum untuk keuntungan dirinya sendiri," ujar Setyo.

Setyo juga menjelaskan, salah satu tersangka Richard Erlangga diduga memanfaatkan posisinya untuk menjalin kerja sama dengan sejumlah vendor atau penyedia jasa yang dibutuhkan BNPB.

Ketika ditanya mengenai dugaan pemufakatan jahat yang diinisiasi Richard, Setyo membenarkan bahwa terdapat indikasi kerja sama tersebut.

"Bahwa dengan posisinya dia berada di situ, memanfaatkan statusnya, kemudian melakukan pendekatan dengan beberapa pihak yang saya sebut mungkin sebagai vendor atau penyedia jasanya, melakukan kegiatan-kegiatan sebagaimana yang dibutuhkan oleh badan tersebut," kata Setyo.

Setyo mengungkapkan, dugaan penyimpangan tersebut diduga telah berlangsung selama beberapa tahun. KPK tengah menelusuri periode kejadian, termasuk kemungkinan berlangsung sejak 2022 atau 2023 hingga 2026, serta menghitung total anggaran yang diduga disalahgunakan dan jumlah yang dinikmati untuk kepentingan pribadi.

Ia menambahkan, penyidik masih mendalami nilai keseluruhan anggaran dalam perkara tersebut, termasuk jumlah yang diduga digunakan atau dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi para pihak yang terlibat.

Terkait mekanisme pengadaan, Setyo menjelaskan bahwa DSP diperuntukkan bagi kebutuhan mendesak dan darurat dalam penanganan bencana. Karena sifatnya darurat, pengadaan untuk kebutuhan tersebut dapat dilakukan melalui mekanisme penunjukan langsung.

"Mungkin ya pasti banyak hal yang berhubungan dengan bencana. Kan beberapa waktu terakhir ini kan ada beberapa musibah yang terjadi," kata Setyo.

Dalam perkara ini, KPK menetapkan lima tersangka, yakni Gabriel Purwaka Sigit selaku Kepala Subdirektorat (Kasubdit) Pengelolaan Bantuan dan Kedaruratan BNPB sekaligus Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), Bima Setiawan selaku tenaga ahli sekaligus adik Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto, Richard Erlangga selaku tenaga ahli Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto, serta dua pihak swasta berinisial Gery Prasetiawan dan Syifa Nrika Ghifarian.

Sebelumnya, KPK mengamankan 14 orang dalam operasi tangkap tangan (OTT) di sejumlah lokasi di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek), Selasa, 13 Oktober 2026.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

UPDATE

Investasi Jakarta Tertinggi Nasional, Tumbuh 22,1 Persen

Rabu, 04 November 2026 | 00:34

Pemerintah Optimis Polri Bakal Bongkar Aktor Intelektual Penyadapan Presiden

Rabu, 04 November 2026 | 00:20

Geledah Pukul 03.20

Rabu, 04 November 2026 | 00:04

Peduli Karhutla, PKSS Salurkan Ribuan Masker dan Susu Steril

Selasa, 03 November 2026 | 23:43

Listyo Sigit Cs Salah Pilih Lawan, Akhirnya Masuk Penjara

Selasa, 03 November 2026 | 23:22

WNA China Praperadilkan BNN di PN Jaktim terkait Narkoba

Selasa, 03 November 2026 | 23:00

Ditanya soal Gibran Ikut Disadap, Yusril: Wallahu A'lam bish-Shawab

Selasa, 03 November 2026 | 22:45

TEI 2026 jadi Pintu Ekspor Produk Sawit dan Pangan Indonesia

Selasa, 03 November 2026 | 22:32

Ini Kronologi Penyadapan Prabowo oleh Listyo Sigit Dkk

Selasa, 03 November 2026 | 22:29

Prabowo Bekali 400 Calon Pemimpin BUMN dengan Nilai Integritas dan Nasionalisme

Selasa, 03 November 2026 | 22:13

Selengkapnya