Berita

Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang Selatan, Banten, Rabu, 14 Oktober 2026. (Foto: RMOL/Ahmad Satryo)

Pemerintahan

Bahlil Lahadalia:

Hilirisasi Ditargetkan Hasilkan 618 Miliar Dolar AS pada 2040

RABU, 14 OKTOBER 2026 | 18:46 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia mengungkapkan, hilirisasi dan industrialisasi sumber daya alam menjadi strategi utama Indonesia untuk meningkatkan nilai tambah ekspor, memperkuat kemandirian ekonomi, serta meningkatkan daya saing produk nasional di pasar global.

Hal tersebut disampaikan Bahlil saat mewakili Presiden Prabowo Subianto menyampaikan sambutan dalam acara Pembukaan atau Opening Ceremony Trade Expo Indonesia (TEI) 2026, di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang Selatan, Banten, Rabu, 14 Oktober 2026.

Dalam sambutannya, Bahlil menekankan pentingnya pengelolaan sumber daya alam secara optimal untuk kemakmuran rakyat. Pemerintah juga mendorong ekspor produk bernilai tambah tinggi melalui pengembangan industri dalam negeri.


“Hilirisasi merupakan kunci untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam Indonesia sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi nasional,” demikian sambutan Presiden yang dibacakan Bahlil.

Setelah membacakan sambutan Presiden, Bahlil menyampaikan pandangannya mengenai strategi hilirisasi nasional. Ia mengungkapkan bahwa pemerintah menargetkan nilai hilirisasi Indonesia mencapai 618 miliar dolar AS pada 2040.

Target tersebut mencakup berbagai sektor, mulai dari mineral dan batu bara, minyak dan gas bumi, kehutanan, perikanan, hingga pertanian.

“Saya ingin menyampaikan bahwa master plan ke depan hilirisasi Indonesia pada tahun 2040, target kita mencapai 618 miliar dolar AS,” kata Bahlil.

Menurutnya, pengembangan industri pengolahan di dalam negeri akan mendorong Indonesia beralih dari eksportir bahan mentah menjadi produsen barang bernilai tambah tinggi. Strategi ini juga diharapkan memperkuat struktur industri nasional dan membuka peluang investasi di berbagai sektor.

Bahlil mencontohkan perkembangan industri nikel sebagai gambaran potensi hilirisasi. Ia menyebut nilai ekspor nikel Indonesia pada 2017-2018 berada di kisaran 3,3 miliar dolar AS. Setelah pemerintah mendorong penghentian ekspor bijih nikel dan pembangunan industri pengolahan, nilai ekspor komoditas tersebut meningkat signifikan.

“Begitu kita menyetop ekspor nikel, kita membangun industrialisasi, kita membangun hilirisasi, kita membangun ekosistem baterai mobil dari hulu ke hilir sampai dengan battery pack,” kata Bahlil.

Bahlil menyatakan, nilai ekspor sektor mineral nikel mencapai 34 miliar dolar AS pada 2023 dan telah melampaui 40 miliar dolar AS pada 2024. Ia juga menyampaikan target ekspor sektor tersebut minimal 45 miliar dolar AS pada 2025.

Selain hilirisasi, Bahlil mengajak investor internasional untuk memanfaatkan peluang investasi di Indonesia, terutama pada sektor energi baru terbarukan dan industri hijau.

Menurutnya, perkembangan perdagangan global semakin meningkatkan perhatian terhadap produk yang dihasilkan melalui proses produksi rendah karbon. Karena itu, Indonesia berupaya memanfaatkan potensi energi bersih untuk mendukung daya saing produk ekspor.

“Kita akan mendorong memberikan dengan energi baru terbarukan karena produk global sekarang itu akan lebih cenderung untuk mencari produk yang green energy dan green industry,” kata Bahlil.

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Golkar: Putusan MK soal Gibran jadi Pukulan Telak

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 12:00

UPDATE

Wajib Halal Oktober 2026, Kesiapan UMKM dan Literasi Konsumen Jadi Tantangan

Rabu, 14 Oktober 2026 | 14:19

BBCA Pimpin Transaksi Saham, Nilainya Tembus Rp353 Miliar saat IHSG Menguat

Rabu, 14 Oktober 2026 | 14:06

Tiru LPDP, Pemprov DKI Siapkan Beasiswa Luar Negeri

Rabu, 14 Oktober 2026 | 14:01

SBY Bercanda soal Batuk Prabowo dan Nasib Rupiah

Rabu, 14 Oktober 2026 | 13:54

CUAN Ramai Diperdagangkan, Nilai Transaksi Tembus Rp196 Miliar

Rabu, 14 Oktober 2026 | 13:47

Ketika Pelaku Tidak Ditemukan, Bagaimana Nasib Barang Bukti yang Disita?

Rabu, 14 Oktober 2026 | 13:42

IPC TPK Buka Direct Call Penghubung RI-Tiongkok-Thailand

Rabu, 14 Oktober 2026 | 13:41

Saat Karhutla Membara, Mereka Malah Korupsi

Rabu, 14 Oktober 2026 | 13:25

56 Tahun INACA dan Misi Historis Penerbangan Indonesia

Rabu, 14 Oktober 2026 | 13:15

BNPB: Penanggulangan Bencana Tak Terpengaruh OTT KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 13:15

Selengkapnya