Berita

Ilustrasi (Artificial Intelligence)

Bursa

Wall Street Terseret ke Zona Merah, Saham Chip dan Bank AS Tertekan

RABU, 14 OKTOBER 2026 | 08:09 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Tekanan saham chip dan perbankan menyeret Wall Street ke zona merah pada perdagangan Selasa, 13 Oktober 2026, waktu Amerika Serikat (AS).

Indeks Nasdaq Composite turun 0,15 persen ke 27.204,38, sedangkan Dow Jones Industrial Average melemah 0,35 persen ke 51.670,10. Sementara S&P 500 turun tipis 0,02 persen ke 7.805,45.

Saham perusahaan semikonduktor menjadi salah satu sumber tekanan setelah kekhawatiran terhadap persaingan dari China kembali mencuat. Laporan mengenai kemajuan teknologi CXMT, produsen chip memori asal China, menambah kecemasan investor terhadap persaingan di industri tersebut.


Indeks semikonduktor Philadelphia (PHLX) telah merosot lebih dari 8% dalam lima sesi perdagangan terakhir. Saham Micron Technology turun 3,6 persen, sedangkan Applied Materials anjlok hampir 7 persen. Broadcom juga melemah 0,23 persen, memperpanjang penurunan selama lima sesi berturut-turut.

Tekanan berlanjut ke sektor perbankan meski beberapa bank besar AS mencatat laba di atas perkiraan analis. Saham Citigroup turun 5,6 persen dan Goldman Sachs melemah 0,2 persen. Wells Fargo merosot 3,1 persen setelah pendapatan bunga bersihnya tidak memenuhi ekspektasi, sementara JPMorgan Chase turun 0,9% setelah labanya meleset dari target.

Di luar sektor teknologi dan perbankan, saham Johnson & Johnson anjlok 5,7 persen meski labanya melampaui perkiraan. Sebaliknya, saham Bumble melonjak hampir 57 persen setelah perusahaan pengelola aplikasi kencan tersebut menyepakati transaksi senilai 1,3 miliar Dolar AS untuk menjadi perusahaan tertutup. Saham Apple naik tipis 0,1 persen setelah sempat mencetak rekor tertinggi intraday di 348,15 Dolar AS.

Di tengah tekanan tersebut, prospek laba perusahaan masih menjadi perhatian investor. Data LSEG menunjukkan analis memperkirakan laba perusahaan dalam indeks S&P 500 tumbuh lebih dari 30 persen pada kuartal III 2026, terutama ditopang perusahaan teknologi yang berkaitan dengan kecerdasan buatan (AI).

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

UPDATE

Jaga Produktivitas dan Kelestarian, Agrinas Palma-BNPB Sinergi Tangkal Karhutla

Selasa, 03 November 2026 | 14:10

Kerja Sama Korea-Indonesia Perkuat Transformasi Digital Koperasi

Selasa, 03 November 2026 | 14:06

Gibran Selalu Dibela Mati-matian oleh Barisan Pendukungnya

Selasa, 03 November 2026 | 14:01

KPK Lepas Dua Pejabat Asal Kejagung, Mungki Hadipratikto Bakal Bertugas di BGN

Selasa, 03 November 2026 | 14:00

Babak Baru Piala Asia 2027, Alasan dan Jadwal Terbaru Penundaan Turnamen

Selasa, 03 November 2026 | 13:56

Kemlu Benarkan Dua WNI Tewas Saat Memancing di Jepang

Selasa, 03 November 2026 | 13:49

Fraksi Gerindra Belum Bersikap soal Putusan MA terkait Gibran

Selasa, 03 November 2026 | 13:45

Ketua KPK Pastikan Dalam Waktu Dekat Panggil Nusron Wahid

Selasa, 03 November 2026 | 13:35

PKS Minta Pemerintah Bebaskan PPN Produk Pembalut

Selasa, 03 November 2026 | 13:29

Soal Boikot Raffi Ahmad, Sosiolog Ingatkan Tanda Kehancuran Negara Bersumber dari Internal

Selasa, 03 November 2026 | 13:11

Selengkapnya