Ilustrasi. (Foto: Dokumentasi RMOL/AI)
Ilustrasi. (Foto: Dokumentasi RMOL/AI)
PADA suatu malam di akhir pekan, saya berkunjung ke Yogyakarta untuk suatu kegiatan. Setiba di Stasiun Tugu, saya memesan ojek online (ojol) untuk menuju tempat tujuan. Dalam perjalanan, pengemudi ojol yang mengantar saya tiba-tiba berkata, “Mas, saya sebenarnya sudah tidak mau narik lagi karena ini malam Kliwon, saya takut di jalan kenapa-kenapa, ini saya ngangkut Masnya yang terakhir.”
Mendengar pernyataan tersebut, saya hanya bisa mengiyakan ucapan sang bapak. Saya memang menyadari bahwa Kliwon memiliki makna khusus dalam penanggalan Jawa. Kliwon kerap kali dikaitkan dengan berbagai ritual dan kepercayaan yang berkembang di masyarakat. Namun, saya kemudian tergelitik oleh satu pertanyaan: apakah benar kecelakaan lebih banyak terjadi pada hari Kliwon?
Kebetulan, saya bekerja di Jasa Raharja, BUMN yang menyelenggarakan asuransi sosial terkait kecelakaan lalu lintas jalan. Berangkat dari pengalaman tersebut, saya mencoba menjawab pertanyaan itu melalui data, bukan semata-mata berdasarkan kepercayaan yang berkembang di masyarakat.
Menguji Tingkat Kecelakaan di Hari Kliwon
Riset saya mulai dengan mengumpulkan data klaim yang telah tersalurkan kepada masyarakat dari tahun 2023 sampai dengan 2025. Pada periode tersebut, rata-rata Jasa Raharja telah menyalurkan dana sebesar 3.150 triliun kepada masyarakat dengan manfaat perawatan maksimal 20 juta rupiah untuk korban luka-luka dan 50 juta rupiah untuk korban meninggal dunia sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan No.16/PMK.010/2017. Dari data klaim tersebut, saya mencoba mengidentifikasi jumlah korban yang dibayarkan santunannya dan melakukan pemetaan berdasarkan tanggal kejadian yang tersedia ke dalam penanggalan Jawa.
Penanggalan Jawa terdiri dari lima hari pasaran yaitu Wage, Pahing, Kliwon, Pon, dan Legi. Apabila kita mengasumsikan bahwa peluang kecelakaan pada kelima hari tersebut sama, maka setiap pasaran memiliki peluang sebesar 1/5 atau 20%. Dari pengumpulan data yang saya lakukan, saya mendapatkan data proporsi jumlah korban sebagai berikut: Wage 20.01 persen, Pahing 19.86 persen, Kliwon 19.91 persen, Pon 20.14 persen, dan Legi 20.08 persen. Secara sekilas, kelima angka tersebut sangat mendekati angka harapan sebesar 20 persen secara sempurna.
Lebih lanjut, saya menggunakan uji statistik Chi-Square untuk menguji apakah distribusi jumlah korban pada kelima pasaran berbeda dari distribusi seragam. Dengan tingkat signifikansi 1 persen, diperoleh nilai kritis Chi-Square sebesar 13.28. Sementara itu, hasil pengujian menunjukkan nilai Chi-Square sebesar 12.29 dengan p-value 0.015.
Karena nilai tersebut belum melewati batas signifikansi 1 persen, tidak terdapat bukti statistik yang cukup untuk menyatakan bahwa distribusi jumlah korban berbeda pada kelima pasaran. Dengan demikian, data yang dianalisis tidak menunjukkan bukti bahwa Kliwon lebih rawan kecelakaan dibandingkan Wage, Pahing, Pon, maupun Legi.
Menguji Tingkat Kecelakaan 7 Hari dalam Seminggu
Setelah mendapatkan hasil tersebut, saya kemudian mencoba melihat dari sudut pandang yang berbeda. Jika bukan penanggalan Jawa, bagaimana dengan hari dalam seminggu? Apakah terdapat pola tertentu pada hari Senin sampai dengan Minggu?
Dari data yang saya peroleh, proporsi korban berdasarkan hari adalah sebagai berikut: Senin 14.56 persen, Selasa 13.95 persen, Rabu 14.09 persen, Kamis 13.81 persen, Jumat 14.28 persen, Sabtu 15.08 persen, dan Minggu 14.24 persen. Apabila jumlah kecelakaan diasumsikan tersebar secara merata sepanjang minggu, maka angka harapan untuk masing-masing hari adalah sekitar 14.29 persen (1/7 hari).
Secara sekilas terlihat ada kenaikan tingkat kecelakaan di akhir pekan dan kemudian melandai menuju hari kerja. Kemudian saya kembali melakukan uji statistik Chi-Square untuk melihat apakah perbedaan tersebut hanya merupakan variasi biasa atau memang terdapat perbedaan distribusi antarhari.
Untuk melihat apakah terdapat pola berdasarkan hari dalam seminggu, saya kembali menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 1 persen dengan nilai kritis Chi-Square sekitar 16,81.
Hasil pengujian menunjukkan nilai Chi-Square sekitar 350,7, jauh di atas nilai kritis tersebut. Dengan demikian, terdapat bukti statistik yang kuat bahwa distribusi jumlah korban tidak merata pada ketujuh hari dalam seminggu.
Dari ketujuh hari tersebut, Sabtu merupakan hari dengan proporsi korban tertinggi, yaitu 15.08 persen. Angka tersebut apabila dibandingkan dengan angka harapan sebesar 14.29 persen hasilnya adalah 1.055 kali atau sekitar 105.5 persen dari angka harapan. Dengan kata lain, jumlah korban pada hari Sabtu sekitar 5.5 persen lebih tinggi dibandingkan angka yang diharapkan. Temuan ini lebih tepat disebut sebagai kecenderungan bahwa Sabtu memiliki proporsi kecelakaan yang lebih tinggi, bukan berarti risiko kecelakaan pada Sabtu meningkat secara drastis.
Menariknya, kecenderungan Sabtu sebagai hari dengan proporsi kecelakaan tertinggi juga muncul secara konsisten pada data tahun 2023, 2024, dan 2025. Hal ini juga sejalan dengan hasil pendataan National Safety Council (US). Dalam pendataan tahun 2024, National Safety Council menyebutkan bahwa kecelakaan fatal lebih sering terjadi pada akhir pekan dan mencapai puncaknya pada hari Sabtu, “On average in 2024, fatal car crashes were more frequent on weekends, peaking on Saturday.” Data tersebut dapat dilihat pada Injury Facts milik National Safety Council.
Pada akhirnya, kembali kepada pertanyaan awal: apakah di hari Kliwon lebih rawan kecelakaan?
Dari data yang saya analisis, jawabannya adalah tidak terdapat bukti yang cukup untuk mengatakan bahwa Kliwon lebih rawan kecelakaan. Kelima pasaran Jawa memiliki proporsi yang sangat dekat dengan angka harapan 20 persen.
Sebaliknya, ketika data dikelompokkan berdasarkan hari dalam seminggu, terdapat perbedaan distribusi yang lebih jelas secara statistik. Sabtu menjadi hari dengan proporsi korban tertinggi. Namun, peningkatannya hanya sekitar 5 persen dibandingkan angka harapan, sehingga secara praktis bukan merupakan perbedaan yang luar biasa besar.
Tidak Ada Hari Sial di Kalender
Dari penelitian sederhana ini, setidaknya kita dapat melihat bahwa kepercayaan yang berkembang di masyarakat tidak selalu tercermin dalam data. Dalam kasus hari Kliwon, data yang dianalisis tidak menunjukkan bukti yang cukup untuk mendukung anggapan bahwa hari tersebut lebih rawan kecelakaan.
Pada akhirnya, mungkin kita tidak perlu terlalu khawatir terhadap hari apa yang sedang kita jalani. Yang jauh lebih penting adalah menjaga kondisi fisik, berkendara dengan hati-hati, dan menaati peraturan lalu lintas.
Sebab, keselamatan di jalan bukan ditentukan oleh pasaran dalam kalender, melainkan juga oleh berbagai faktor nyata yang perlu kita perhatikan setiap kali berkendara.
Michael Vidianto
Pekerja industri Lembaga Jasa Keuangan Non-Bank (LJKNB)
Populer
Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07
Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41
Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35
Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50
Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33
Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20
Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06
UPDATE
Rabu, 14 Oktober 2026 | 03:43
Rabu, 14 Oktober 2026 | 03:17
Rabu, 14 Oktober 2026 | 02:46
Rabu, 14 Oktober 2026 | 02:20
Rabu, 14 Oktober 2026 | 01:57
Rabu, 14 Oktober 2026 | 01:40
Rabu, 14 Oktober 2026 | 01:16
Rabu, 14 Oktober 2026 | 00:59
Rabu, 14 Oktober 2026 | 00:43
Rabu, 14 Oktober 2026 | 00:20