Berita

Kelompok Houthi menyerang Bandara Riyadh, Saudi Arabia pada Minggu 11 Oktober 2026. (Foto: Istimewa)

Publika

Houthi Merudal Saudi, 13 Tewas

Saudi Membalas Kerahkan 100 Jet Tempur
SELASA, 13 OKTOBER 2026 | 13:21 WIB

DALAM negeri, persoalan ijazah Wapres Gibran Rakabuming Raka masih berputar-putar di udara. Mau hinggap di DPR masih abu-abu. Bagus kita ke luar negeri lagi menengok perang sesama Muslim, Houthi vs Arab Saudi. 

Dulu Houthi bisa disebut tentara sandal jepit. Yang penting bisa menembak, bisa ikut perang. Sekarang, siapa sangka, pasukan ini sanggup membuat Arab Saudi kelabakan. 

Rudal menghantam bandara Riyadh, korban bergelimpangan, penerbangan lumpuh. Namun, Houthi rupanya lupa. Kalau menampar singa, jangan kaget kalau singanya bangun membawa satu skuadron jet tempur!


Pada 10 Oktober 2026, serangan di Bandara Internasional King Khalid, Riyadh, menewaskan sedikitnya 12 orang dan melukai lebih dari 300 lainnya. 

Korban tewas terdiri atas empat warga Saudi, dua Bangladesh, serta masing-masing satu warga Amerika, Mesir, Yordania, Suriah, Palestina, dan Sudan. Seorang warga India kemudian meninggal akibat luka-lukanya, sehingga jumlah korban tewas mencapai 13 orang. 

Keesokan harinya, proyektil kembali menghantam terminal, menewaskan seorang warga Pakistan dan melukai 11 orang. Bandara pun ditutup. Pesawat batal terbang, penumpang batal berangkat, rudal malah rajin masuk kerja.

Houthi mengumumkan bandara dan ruang udara Saudi, kecuali Mekkah dan Madinah, menjadi “teater operasi”. Mereka menyebut serangan itu sebagai balasan atas agresi Saudi di Yaman.

Saudi menjawab bukan dengan pantun, melainkan Operasi Dawn of Yemen.  Pada 5 Oktober, sekitar 100 jet tempur dikerahkan untuk mendukung pasukan pemerintah Yaman. 

Koalisi mengklaim menghancurkan 324 target bernilai tinggi. Pada 7 Oktober, 82 target lagi diklaim dihancurkan, termasuk 11 gudang rudal balistik di Saada. 

Pada 9-10 Oktober, koalisi mengumumkan penghancuran 136 target tambahan. Totalnya sekitar 542 target menurut klaim mereka.

Serangan menyasar Sanaa, Saada, Taiz, Marib, Al-Jawf, Hajjah, Ibb, hingga kawasan Bab el-Mandeb. Houthi mengklaim Saudi melancarkan 124 serangan udara dalam 24 jam dan lebih dari 2.000 serangan sejak eskalasi. Di darat, pasukan pemerintah Yaman pimpinan Rashad al-Alimi mengincar wilayah Houthi, termasuk Sanaa.

Angka operasi darat juga bikin kalkulator minta pensiun. Pihak pemerintah mengklaim 2.103 operasi pada 8 Oktober, menetralkan 1.860 pejuang. 

Pada 9 Oktober, mereka menyebut lebih dari 2.750 serangan dalam 24 jam, lebih dari 1.400 pejuang dinetralkan, serta 250 kendaraan militer dirusak atau dihancurkan. 

Pada 11 Oktober, mereka mengumumkan 1.732 serangan, lebih dari 900 pejuang dinetralkan, dan lebih dari 287 kendaraan serta peralatan dirusak atau dihancurkan. Semua angka tersebut merupakan klaim pihak bertikai belum seluruhnya terverifikasi independen.

Lalu dunia ikut bersuara. Presiden Amerika Donald Trump menyebut serangan itu “terrible” dan “not acceptable”, sembari mempertimbangkan keterlibatan AS. Menteri Luar Negeri Marco Rubio mengutuk serangan yang menewaskan warga Amerika. Sekretaris Jenderal PBB António Guterres mengaku sangat terkejut dan mendesak semua serangan terhadap warga sipil segera dihentikan.

Rusia menyerukan diplomasi, sementara Iran menyatakan keprihatinan dan menawarkan diri menjadi mediator, meskipun selama ini mendukung Houthi. Dunia pun seperti reuni keluarga besar, semuanya mengaku ingin damai, tetapi masing-masing datang membawa persoalan sendiri.

Houthi menghantam Saudi, Saudi membombardir Yaman, pemerintah Yaman menyerbu wilayah Houthi. Semua punya alasan, semua mengumumkan keberhasilan.

Namun, ada yang tak pernah menang, rakyat sipil. Mereka tidak punya jet tempur, rudal balistik, atau konferensi pers. Mereka hanya punya rumah, keluarga, dan doa agar esok masih bernapas.

Rudal bekerja lembur, diplomat sibuk mengutuk, pemimpin berpidato tentang perdamaian. Sementara rakyat menjadi korban pertunjukan yang tiketnya tidak pernah mereka beli.

“Kalau nonton video Houthi, sering teriak Allahu Akbar saat meluncurkan rudal. Ia tidak tahu yang kena rudal itu warga sipil, warga negara lain pula. Sepertinya tentara Saudi meneriakkan Allahu Akbar juga saat ia ngebom markas Houthi. 

“Ente tak nanya, kalau sama-sama teriak Allahu Akbar, siapa yang masuk surga? Biasanya pertanyaan itu muncul kalau membicarakan perang dua negara Muslim itu, wak!” Ups

Rosadi Jamani
Mantan wartawan

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

UPDATE

Bursa Asia Ambruk, Saham Teknologi Berguguran

Selasa, 13 Oktober 2026 | 08:30

Nasdaq Tertekan, Investor Wall Street Waspadai Inflasi AS

Selasa, 13 Oktober 2026 | 08:17

Bidik Pasar Modal, Dua BUMD DKI Konsultasikan Rencana IPO ke OJK

Selasa, 13 Oktober 2026 | 08:06

Delta Tunda Penerbangan ke Arab Saudi Usai Serangan Riyadh hingga 2027

Selasa, 13 Oktober 2026 | 07:46

Logam Mulia Tertekan Dolar Jelang Rilis Inflasi Amerika Serikat

Selasa, 13 Oktober 2026 | 07:29

Pasar Eropa Hijau Didorong Saham Perbankan

Selasa, 13 Oktober 2026 | 07:13

Drone Seeder Solusi Reklamasi Lahan Pascatambang, SOP Masih Digodok

Selasa, 13 Oktober 2026 | 06:56

Republik Konoha dan Krisis Ketiga

Selasa, 13 Oktober 2026 | 06:23

Olahan Sagu Inovasi TEP IPB University Ramaikan Festival Kali Maro IV Merauke

Selasa, 13 Oktober 2026 | 05:57

Ijazah bagi Kekuasaan

Selasa, 13 Oktober 2026 | 05:27

Selengkapnya