Berita

Ilustrasi. (Foto: Dokumentasi Penulis)

Publika

Kampung Nelayan Merah Putih: Potret Kecil Indonesia yang Besar

SELASA, 13 OKTOBER 2026 | 00:36 WIB | OLEH: RUSDIANTO SAMAWA

ADA pepatah lama di pesisir: "Lihat Indonesia, lihat lautnya. Lihat lautnya, lihat nelayannya."

Kalau kalimat itu benar, maka selama ini kita melihat Indonesia dari potret yang salah. Kita melihat Indonesia dari gedung-gedung tinggi di Jakarta, dari jalan tol, dari mall. Padahal 2/3 wilayah kita adalah laut. 3,25 juta nelayan menggantungkan hidup di sana. Kalau potret nelayan kecil, potret Indonesia pun ikut kecil.

Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) adalah upaya untuk membuat potret kecil itu menjadi besar kembali. Potret kecil Indonesia--kampung nelayan--yang dibesarkan melalui 22 fasilitas, Rp22 miliar, dan satu filosofi Merah Putih.


Ini adalah jilid 3 dari serial wajah baru pesisir, tentang bagaimana satu kampung kecil bisa mencerminkan kebesaran sebuah negara maritim.

Potret Kecil yang Selama Ini Kerdil

Mari jujur, potret kampung nelayan kita selama ini kerdil: Atap bocor, dinding seng karat, lantai tanah, tidak ada MCK layak, sampah di bawah kolong. Di Google Images, itulah yang muncul.

Bukan karena nelayan tidak bekerja keras. Nelayan kita paling berani menghadapi ombak. Tapi sistem yang membuat mereka kerdil: Kerdil karena Dingin yang Tidak Ada. Tidak ada pabrik es modern, tidak ada cold storage -40°C. Hasil tangkapan 100 kg harus laku jam 10 pagi, atau busuk. Nelayan jadi buruh harian, bukan pengusaha.

Kerdil karena Energi yang Langka. Tidak ada SPBN Nelayan. Solar harus antre di SPBU kota. Kadang habis untuk truk. Kerdil karena Limbah yang Menggunung. Tidak ada IPAL Biotech. Darah ikan dan oli dibuang ke laut yang sama tempat mereka cari makan. Laut tercemar, ikan menjauh, kampung bau. Potret kecil yang kerdil ini membuat anak nelayan malu. "Bapak saya nelayan" jadi kalimat yang pelan.

Potret Kecil yang Dibesarkan: Data

Presiden Prabowo Subianto mengubah pendekatan itu. Pada 9 Mei 2026, saat meninjau KNMP di Leato Selatan, Gorontalo, ia menegaskan bahwa potensi laut adalah karunia besar yang harus dikelola untuk kesejahteraan pesisir dan kedaulatan ekonomi nasional. Ekonomi biru harus dimulai dengan membesarkan potret kecil pesisir.

Dan datanya menunjukkan pembesaran itu nyata: 910 Potret Berebut Jadi Besar. Tahun 2025, KKP menerima 910 proposal. Yang dibangun tahap pertama hanya 100 titik. Tingkat persaingan 9:1. 

Artinya 910 kampung kecil ingin potretnya dibesarkan. Rp22 Miliar Untuk Membesarkan Satu Potret. Satu kampung lengkap dapat pagu Rp22 miliar, variatif Rp11 miliar, Rp13 miliar, hingga Rp22 miliar tergantung kelengkapan. Anggaran mencakup perumahan warga, perkantoran koperasi, tambatan perahu, air bersih, cold storage, bantuan kapal, dan fasilitas pendukung. 

Mahal? Tidak, karena yang dibesarkan bukan rumah, tapi masa depan. 22 Fasilitas = 22 Cara Membesarkan. Satu kampung dirancang sebagai satu kesatuan ekosistem industri kecil nelayan:

Untuk berlayar: Dermaga, shelter, docking, SPBN Nelayan.

Untuk bernilai: Pabrik Es Modern, Cold Storage -40°C & Gudang Beku, TPI higienis, kios perbekalan, sentra kuliner, gudang alat tangkap, jalan kawasan, penerangan, tangki air bersih. 

Untuk berdaulat: Kantor Koperasi Desa Merah Putih, KUSUKA Elektronik sebagai identitas nelayan untuk akses modal dan subsidi, Balai Pelatihan, IPAL Biotech. 17.550 Tenaga Kerja, 100 Kampung Jadi. Pembangunan 65 lokasi di 25 provinsi dan 60 kabupaten/kota menyerap 17.550 tenaga kerja, rata-rata 270 orang per titik. 

Per pertengahan 2026, 100 kampung telah dibangun. Target Besar: 1.386 Akhir 2026, 5.000 Sebelum 2029. Target Presiden di Sidang Tahunan MPR 14 Agustus 2026: 1.386 kampung beroperasi penuh akhir 2026. Target jangka menengah: 5.000 kampung sebelum 2029, dengan dukungan 1.582 kapal ikan baru untuk koperasi nelayan. KKP bahkan memproyeksikan potensi hingga 4.000 kampung untuk menjaga populasi perikanan.

Ini bukan sekadar membangun infrastruktur fisik, tetapi model pemberdayaan ekonomi pesisir yang inklusif melalui social engineering.

Potret Kecil yang Besar: Seperti Apa?

Datanglah ke tiga lokasi ini, kamu akan paham arti potret kecil yang besar: Di Lateng, Banyuwangi. Dipamerkan ke delegasi ASEAN-ID Blue sebagai model ekonomi biru. Dulu kampung kecil yang jual ikan mentah. Sekarang punya cold storage, ikan bisa jadi fillet ekspor. Potret kecil, nilai besar.

Di Bintaro, Mataram. Dirancang dengan shelter dan jalan kawasan plus IPAL. Dulu kampung kecil yang bau limbah. Sekarang bersih, air teluk jernih. Potret kecil, kesehatan besar.

Di Puday (425 KK) dan Sambuli (452 KK), Kendari. Dulu kampung kecil yang sendiri-sendiri. Sekarang di bawah Koperasi Desa Merah Putih, 877 KK bergabung, punya KUSUKA, bisa akses modal bersama. Potret kecil, kolektivitas besar.

Di Maluku, 71 kampung. Dengan Seram Bagian Timur terbanyak 16 kampung. Di wilayah terluar, potret kecil itu adalah potret kedaulatan. Ketika SPBN dan bendera Merah Putih ada di sana, itu pesan: negara hadir di ujung. Semua lokasi ini menata kampung agar lebih bersih, tertata, sehat, produktif, dan memiliki identitas nasional.

Kenapa Harus Besar?

Karena Indonesia adalah negara besar yang potretnya sering dikecilkan. Kita punya 17.000 pulau, tapi kita sering lupa 3,25 juta nelayannya. Kita bicara hilirisasi nikel, tapi lupa hilirisasi ikan di sentra kuliner kampung. Kita bicara IKN, tapi lupa kampung nelayan adalah IKN versi laut--Ibu Kota Nelayan.

Ketika satu kampung nelayan dibesarkan dengan atap merah, dinding putih, dermaga beton, lampu terang, cold storage berdengung, IPAL menyala, dan bendera Merah Putih berkibar di atas SPBN, yang besar bukan cuma kampung itu.

Yang besar adalah kepercayaan diri kita sebagai bangsa maritim. Merah artinya berani membesarkan yang kecil. Putih artinya bersih dalam membesarkan.

Jilid 3 ini ditutup dengan satu kesadaran: Kalau 1.386 potret kecil itu jadi besar akhir 2026 nanti, yang besar di laut Indonesia bukan cuma 1.386 kampung. Yang besar adalah 1.386 potret kecil Indonesia yang akhirnya menemukan ukuran aslinya: besar.


*Penulis adalah Ketua Front Nelayan Indonesia

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

UPDATE

Mantan Menpora Dito Ariotedjo Hadir Bersama Habib Jindan di Safari Sholawat Lombok

Senin, 12 Oktober 2026 | 22:08

PLN Siapkan Integrasi EBT PLTP Wayang Windu Unit 3 ke Sistem Kelistrikan Jabar

Senin, 12 Oktober 2026 | 21:54

Gaduh Dugaan Aturan Selundupan, Doli Sentil Hasyim: Jabatan Komisaris Hadiah dari Siapa?

Senin, 12 Oktober 2026 | 21:44

Sertijab Menlu, Arrmanatha Tegaskan Arah Polugri Indonesia Tidak Berubah

Senin, 12 Oktober 2026 | 21:28

Kades Ciangsana Bakal Mediasi Polemik Bangunan 480 Meter Persegi di Coatesville

Senin, 12 Oktober 2026 | 21:07

Bank Jakarta dan PAM Jaya akan Melantai di Bursa, Ini Respons Senator Fahira

Senin, 12 Oktober 2026 | 20:37

Berat Langkah IHSG Kembali ke 9.000, Saham Konglo Tak Akan Bangkit?

Senin, 12 Oktober 2026 | 20:28

Danantara Diandalkan Pacu Pertumbuhan Ekonomi 7 Persen

Senin, 12 Oktober 2026 | 20:22

AMDK dan Komoditas Mamin Harus Dikecualikan dalam Pelarangan Truk Sumbu 3

Senin, 12 Oktober 2026 | 20:21

Komisi II Buka Peluang RDP Bahas Putusan MK pada Gibran

Senin, 12 Oktober 2026 | 20:02

Selengkapnya