Berita

Ilustrasi (RMOL via Gemini AI)

Bursa

FTSE Belum Turunkan Kelas Indonesia, Tapi Reformasi Pasar Masih Diuji

RABU, 07 OKTOBER 2026 | 07:35 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Indonesia belum kehilangan tempatnya sebagai pasar Secondary Emerging di FTSE Russell. Namun, status tersebut belum berarti persoalan pasar modal Indonesia sepenuhnya beres.

Penyedia indeks global itu masih mengamati reformasi integritas pasar modal Indonesia dan akan kembali mengevaluasi perkembangannya menjelang index review Desember 2026.

Dalam pengumuman tahunan klasifikasi negara yang dirilis Selasa 6 Oktober 2026, FTSE Russell memastikan Indonesia tidak masuk Watch List untuk kemungkinan penurunan status. Dengan demikian, Indonesia tetap berada dalam kelompok Secondary Emerging Market.


Meski tidak ada ancaman penurunan kelas untuk saat ini, FTSE Russell belum sepenuhnya melepas perhatiannya. Lembaga tersebut masih menilai seberapa efektif berbagai reformasi yang baru diterapkan, sekaligus mempertimbangkan masukan dari para pelaku pasar sebelum menentukan perlakuan terhadap saham-saham Indonesia pada Desember mendatang.

Penilaian itu menjadi bagian penting untuk memastikan Indonesia dapat kembali memasuki proses kajian indeks standar secara tertib dan stabil.

Dalam dokumen FTSE Equity Country Classification September 2026 Annual Announcement, FTSE Russell mencatat sejumlah perubahan yang telah dilakukan Indonesia untuk memperbaiki integritas dan transparansi pasar.

Reformasi tersebut antara lain mencakup peningkatan pengungkapan kepemilikan saham, perluasan kategori klasifikasi investor, penerapan persyaratan minimum free float, serta penguatan perangkat pengawasan pasar.

Langkah-langkah tersebut diarahkan untuk menjawab sejumlah persoalan yang sebelumnya menjadi perhatian FTSE Russell, terutama menyangkut transparansi data dan kemampuan pelaku pasar untuk mereplikasi indeks secara konsisten.

Namun, pekerjaan rumahnya belum dianggap selesai.

FTSE Russell menyatakan akan terus memantau implementasi sekaligus efektivitas reformasi tersebut. Masukan dari pelaku pasar juga akan menjadi bagian dari proses evaluasi.

“Status Indonesia sebagai Secondary Emerging Market tetap tidak berubah. FTSE Russell tidak memasukkan Indonesia ke dalam Watch List dan akan terus memantau perkembangan pasar serta berdiskusi dengan pelaku pasar sebagai bagian dari proses evaluasi yang berkelanjutan,” tulis FTSE Russell.

Perhatian terhadap Indonesia ini bukan tanpa latar belakang. Sepanjang 2026, FTSE Russell telah menunda sejumlah perubahan indeks untuk saham Indonesia dalam kajian Maret, Juni, dan September. Perlakuan tersebut merujuk pada FAQ FTSE Russell mengenai Treatment of Indonesian Securities.

Artinya, meski Indonesia tidak turun kelas, perlakuan terhadap saham-saham Indonesia masih menjadi isu yang belum sepenuhnya kembali normal. Hasil reformasi pasar dalam beberapa bulan ke depan akan menjadi salah satu faktor penting sebelum FTSE Russell menentukan langkah berikutnya pada kajian Desember.

Di sisi lain, peta pasar negara berkembang FTSE Russell juga berubah. Vietnam resmi naik kelas dari Frontier Market menjadi Secondary Emerging Market dan kini berada dalam kelompok yang sama dengan Indonesia.

Kenaikan status Vietnam dilakukan secara bertahap. Implementasinya dimulai sebesar 10 persen sejak pembukaan perdagangan Senin 21 September 2026 dan akan dilanjutkan melalui tiga tahap pada Maret, Juni, dan September 2027.

Sementara itu, Yunani resmi naik dari Advanced Emerging Market menjadi Developed Market mulai 21 September 2026. Nigeria juga naik dari status Unclassified menjadi Frontier Market pada tanggal yang sama.

Mesir tidak lagi berada dalam Watch List dan mempertahankan status Secondary Emerging Market setelah jumlah konstituen indeksnya kembali memenuhi persyaratan minimum.

Adapun Oman justru masuk Watch List untuk kemungkinan naik dari Frontier Market menjadi Secondary Emerging Market.

FTSE Russell akan mengevaluasi kembali posisi Oman berdasarkan data hingga akhir Desember 2026. Hasilnya akan diumumkan pada Maret 2027.

Untuk Indonesia, perhatian kini tertuju pada Desember. FTSE Russell akan memberikan pembaruan mengenai perlakuan terhadap efek Indonesia menjelang index review tersebut.

Pengumuman berikutnya, March 2027 Interim Review, dijadwalkan terbit pada Selasa 6 April 2027.


Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

Mantan Kadivhubinter Polri Napoleon Bonaparte Meninggal Dunia

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:30

UPDATE

Sambut Wacana Revisi UU Tipikor, Komisi III DPR: Perlu Dikaji Lebih Mendalam

Rabu, 28 Oktober 2026 | 18:32

Mahasiswa Bentangkan Poster Raksasa Tolak Karhutla

Rabu, 28 Oktober 2026 | 18:27

Asta Cita Sulit Berjalan Tanpa Stabilitas Keuangan dan Pemerintahan Bersih

Rabu, 28 Oktober 2026 | 18:22

Sahroni Minta Polisi Jaga Adik-adik Mahasiswa

Rabu, 28 Oktober 2026 | 18:11

Mahasiswa Demo Mabes Polri, Jangan Kriminalisasi Pegawai PLN

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:57

Nasdem Bedah Pemikiran Bung Hatta untuk Perkuat Etika Politik

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:51

Koperasi Sawit Didorong Bangun Pabrik CPO hingga Kilang Minyak Goreng

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:45

Massa Tertahan di Depan Gedung UOB, Desak Polisi Buka Jalan

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:41

IHSG Menguat Tipis Usai RUPSLB BEI Setujui Dividen Rp1,56 T

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:24

Massa Berbaju Hitam Lewat Kantor KPU RI Menuju Bundaran HI

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:14

Selengkapnya