Ilustrasi. (dok. situs hotels.com)
Sebanyak 357 properti dengan kata kunci hotel dijual di area Bandung. Kondisi ini perlu dicermati di tengah perubahan daya beli dan pola wisata masyarakat kelas menengah.
Berdasarkan penelusuran RMOL pada Jumat, 25 September 2026, terdapat 357 iklan properti dengan kata kunci hotel yang masih aktif di platform jual beli properti OLX untuk area Bandung. Harga yang ditawarkan beragam, mulai dari Rp4 miliar hingga Rp800 miliar.
Pakar Pariwisata sekaligus akademisi Universitas Padjadjaran (Unpad), Cipta Endyana mengatakan, banyaknya hotel yang ditawarkan untuk dijual belum dapat langsung disimpulkan sebagai tanda tekanan terhadap industri perhotelan Bandung.
Menurutnya, diperlukan sejumlah indikator untuk melihat kondisi tersebut, salah satunya perubahan daya beli masyarakat kelas menengah.
"Yang harus dibuktikan adalah daya beli atau perubahan masyarakat level menengah," kata Cipta saat dihubungi
Kantor Berita Ekonomi dan Politik RMOL, Jumat, 25 September 2026.
Cipta menjelaskan, perubahan kemampuan ekonomi masyarakat dapat memengaruhi pilihan destinasi wisata. Kenaikan harga berbagai komponen perjalanan berpotensi membuat wisatawan kelas menengah mengubah pilihan destinasi sesuai kemampuan finansial.
"Sehingga akan memilih destinasi yang sesuai dengan kemampuan masyarakat," ujarnya.
Perubahan pola wisata itu, lanjut Cipta, antara lain dapat dilihat dari berkembangnya destinasi glamping yang menawarkan pengalaman berbeda dengan biaya yang dinilai lebih terjangkau dibandingkan hotel.
"Salah satu contohnya banyak destinasi wisata glamping yang jauh lebih murah dari hotel dengan alasan lebih seru dan lebih efisien," tuturnya.
Meski demikian, Cipta menegaskan keterkaitan antara perubahan daya beli masyarakat, pergeseran pola wisata, tekanan terhadap okupansi hotel, dan banyaknya hotel yang ditawarkan untuk dijual masih perlu dibuktikan.
Menurutnya, hubungan tersebut tidak bisa hanya didasarkan pada banyaknya properti hotel yang masuk dalam daftar penjualan. Diperlukan data dan riset untuk melihat kondisi industri perhotelan Bandung secara lebih utuh.
Karena itu, pemerintah didorong melakukan pemetaan terhadap hotel-hotel yang mengalami dampak paling besar.
Pemetaan tersebut diperlukan agar pemerintah dapat menentukan bentuk intervensi maupun pemanfaatan properti secara lebih tepat. Salah satu opsi yang ditawarkan Cipta adalah mengarahkan kegiatan pemerintah maupun masyarakat ke hotel-hotel yang terdampak, di tengah kebijakan efisiensi anggaran.
"Jadi harus petakan terlebih dahulu hotel-hotel yang terdampak kemudian membuat acara atau kegiatan di hotel-hotel tersebut seperti sosialisasi atau FGD," katanya.
Cipta mengingatkan kegiatan pemerintah tidak semestinya hanya terpusat di hotel-hotel besar. Dengan pemetaan, kegiatan dapat diarahkan ke hotel yang memang membutuhkan dukungan.
"Jangan hanya membuat acara kegiatan di hotel-hotel besar," tutupnya.