Berita

Menteri Luar Negeri Nepal Shisir Khanal (Foto: Instagram)

Global

Nepal Desak Negara Kaya Ikut Bayar Kerugian Akibat Bencana Iklim Rp89 Triliun

JUMAT, 25 SEPTEMBER 2026 | 16:09 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Menteri Luar Negeri Nepal Shisir Khanal mendesak negara-negara kaya ikut menanggung biaya bencana akibat perubahan iklim yang melanda negara-negara paling rentan.

Pernyataan itu disampaikan dalam wawancara dengan AFP, Jumat, 25 September 2026 di tengah upaya Nepal menangani bencana banjir dahsyat yang terjadi pada akhir Agustus lalu.

"Yang ingin kami sampaikan kepada dunia adalah ini: isu-isu perubahan iklim ini bukan lagi sekadar teori,” kata Khanal di sela Sidang PBB di New York.


Banjir yang dipicu runtuhnya gletser di kawasan pegunungan tinggi sepanjang perbatasan Nepal-Tiongkok itu menewaskan lebih dari 1.400 orang, sementara sekitar 6.000 lainnya masih dinyatakan hilang. 

Pemerintah Nepal memperkirakan kerugian ekonomi akibat bencana tersebut mencapai 5 miliar dolar AS atau sekitar Rp89 triliun.

Khanal menegaskan, Nepal hanya menyumbang 0,1 persen emisi gas rumah kaca global. Lebih dari 90 persen kebutuhan listrik Nepal berasal dari tenaga air, sementara lebih dari 70 persen mobil baru yang terjual merupakan kendaraan listrik.

“Lantas mengapa kita, yang tidak memberikan kontribusi apa pun terhadap masalah ini, hanya harus menanggung bebannya saja?” ujar Khanal. 

Dia juga menilai negara kaya tidak cukup hanya memberikan bantuan ketika bencana terjadi, tetapi perlu menyediakan pendanaan untuk membantu negara rentan membangun masyarakat yang lebih tangguh terhadap perubahan iklim.

Nepal telah mengajukan permintaan 20 juta dolar AS kepada dana Loss and Damage PBB, namun jumlah tersebut hanya sebagian kecil dari kebutuhan pemulihan. 

Sementara itu, Amerika Serikat mengumumkan bantuan pemulihan banjir sebesar 31 juta dolar AS, sedangkan Inggris dan negara-negara G7 juga menyatakan dukungan.

Di luar bantuan pemulihan, Nepal membutuhkan dukungan finansial dan teknis untuk membangun sistem pemantauan pencairan gletser serta peringatan dini berbasis satelit.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

UPDATE

Baru 10 Jam, Tulisan SBY Soal Politik Liar Tembus 9 Juta Tayangan di X

Rabu, 04 November 2026 | 20:21

Menag Dorong PTKIN Jadi Pelopor Hilirisasi dan Inovasi Teknologi

Rabu, 04 November 2026 | 20:19

Polri Harus Jaga Integritas dan Kepercayaan Publik di Kasus Listyo Sigit

Rabu, 04 November 2026 | 20:17

Aturan Penyadapan Ilegal di Indonesia, Ini Ancaman Hukuman bagi Pelaku

Rabu, 04 November 2026 | 20:11

Ketum KNPI Minta Penegak Hukum Serius Usut Dugaan Penyadapan Presiden

Rabu, 04 November 2026 | 20:07

Tanggapan Allianz Setelah Digugat Rp5,2 Miliar di PN Jaksel

Rabu, 04 November 2026 | 20:02

Jorindo Indonesia Gandeng Mubarak Dubai Jalin Kerja Sama Operasi Salvage

Rabu, 04 November 2026 | 19:57

4 Kasus Penyadapan Presiden Indonesia, dari Habibie hingga Prabowo

Rabu, 04 November 2026 | 19:52

BRI Kukuhkan 35 Penerima Beasiswa BRI Fellowship Journalism 2026

Rabu, 04 November 2026 | 19:49

Kasus Intimidasi Meningkat, Dewan Pers Tegaskan Komitmen Lindungi Wartawan

Rabu, 04 November 2026 | 19:48

Selengkapnya