Berita

Anggota Komisi VII DPR RI Fraksi PDIP Novita Hardini (Foto: Dokumen pribadi)

Politik

Komisi VII DPR Tekankan Keseimbangan Industri dan Lingkungan, Jangan Kehilangan Daya Saing

JUMAT, 25 SEPTEMBER 2026 | 13:22 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Komisi VII DPR RI menyoroti sejumlah persoalan krusial yang masih membayangi sektor industri nasional. Mulai dari kepastian pasokan bahan baku, tingginya biaya operasional, arah kebijakan ekspor, hingga aspek pengawasan lingkungan.

Anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Novita Hardini, menilai bahwa pemerintah perlu memastikan seluruh kebutuhan industri terpenuhi dengan biaya kompetitif. Namun, hal tersebut harus berjalan tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan maupun kepentingan masyarakat luas.

Novita menegaskan bahwa ketersediaan bahan baku, khususnya crude palm oil (CPO), menjadi faktor krusial bagi keberlangsungan industri dalam negeri.


Ia mempertanyakan sejauh mana kapasitas perkebunan lokal mampu mencukupi kebutuhan industri, sekaligus mendorong penguatan sinergi dengan berbagai sumber pasokan agar rantai pasok tetap berkelanjutan serta berdaya saing tinggi.

Di sisi lain, ekspansi sektor industri wajib selaras dengan upaya perlindungan lingkungan. Novita menekankan pentingnya pengawasan dini terhadap potensi pencemaran yang dilakukan secara sinergis antara pemerintah dan pelaku usaha.

“Industri harus tumbuh, tetapi pertumbuhan itu tidak boleh dibayar dengan kerusakan lingkungan. Pengawasan harus berjalan sejak awal, bukan baru bergerak setelah muncul persoalan pencemaran,” tegas Novita kepada wartawan di Jakarta, Jumat, 25 September 2026.

Selain itu, ia turut mengapresiasi program industri yang terbukti mampu menggerakkan ekonomi daerah, sembari mendesak adanya evaluasi berkala agar program tersebut berdampak jangka panjang bagi penguatan industri lokal serta masyarakat.

Terkait sektor perdagangan luar negeri, Komisi VII meminta Kementerian Perindustrian untuk memaparkan proyeksi ekspor secara transparan. Hal ini mencakup kapasitas serapan pasar internasional hingga arah kebijakan strategis pemerintah.

Transparansi data tersebut dinilai vital bagi DPR dalam mengawal kebijakan ekspor dari sudut pandang kepentingan nasional, peningkatan daya saing, serta perluasan penetrasi pasar global.

Menanggapi persoalan kelangkaan serta tingginya biaya operasional yang dikeluhkan pelaku usaha, Novita mendesak pemerintah untuk segera merumuskan langkah mitigasi yang konkret.

Kebijakan yang dihadirkan negara harus mampu menjamin ketersediaan bahan baku sekaligus menekan efisiensi biaya.

“Jangan sampai biaya operasional yang terus meningkat membuat industri nasional kehilangan daya saing. Negara harus hadir memberikan kepastian bahan baku, efisiensi biaya, dan kebijakan yang menjaga industri tetap produktif,” ujarnya.

Sebagai penutup, Novita menegaskan bahwa seluruh aspirasi dari pelaku industri akan diintegrasikan ke dalam fungsi pengawasan DPR. Tujuannya agar setiap kebijakan pemerintah benar-benar solutif dalam menjawab tantangan di lapangan.

“Industri harus tetap tumbuh, ekspor harus meningkat, ekonomi daerah harus bergerak, tetapi lingkungan dan kepentingan masyarakat juga harus terlindungi. Titik keseimbangannya harus ditemukan melalui kebijakan yang berbasis data dan kebutuhan nyata industri,” pungkasnya.


Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Jamaika Nilai Otonomi Sahara Maroko Solusi Paling Layak Ditempuh

Jumat, 25 September 2026 | 10:16

Dibayangi Ketidakpastian Global, Rupiah Dekati Rp18.000 per Dolar AS

Jumat, 25 September 2026 | 10:15

Wacana Pileg dan Pilpres Dipisah, Pengamat Ingatkan Konsekuensi Konstitusional

Jumat, 25 September 2026 | 10:06

KPK Telusuri Aset TPPU Milik Walikota Madiun Maidi, Periksa Sejumlah Saksi

Jumat, 25 September 2026 | 09:58

Syahganda Nazar Gunduli Kepala dan Umrah Jika Gibran Didiskualifikasi MK

Jumat, 25 September 2026 | 09:50

Impor Produk Halal Capai 31 Miliar Dolar AS, Indonesia Kejar Pasar Global

Jumat, 25 September 2026 | 09:48

IHSG Kembali Menguat, Tembus Level 6.300

Jumat, 25 September 2026 | 09:34

Gibran Masih Bocil, Lebih Cocok Jadi Camat Ketimbang Wakil Presiden

Jumat, 25 September 2026 | 09:30

Prabowo Bangga Indonesia Raih Emas Pertama di Asian Games 2026

Jumat, 25 September 2026 | 09:28

Bertemu Trump, Xi Jinping Ingatkan Bahaya Jebakan Thucydides

Jumat, 25 September 2026 | 09:00

Selengkapnya