Berita

Almarhum Sjamsul Kahar. (Foto: Istimewa)

Publika

Selamat Jalan Pak Sjamsul Kahar, Wartawan yang Menjaga Ingatan Aceh

JUMAT, 25 SEPTEMBER 2026 | 03:47 WIB

KABAR duka itu datang dari Aceh. H. Sjamsul Kahar, wartawan senior, tokoh pers Aceh, sekaligus ayahanda Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria, telah berpulang ke rahmatullah pada Kamis, 24 September 2026, pukul 02.20 WIB di RSUD dr. Zainoel Abidin, Banda Aceh.

Dunia jurnalistik Indonesia kehilangan salah seorang sosok yang perjalanan hidupnya tidak dapat dipisahkan dari sejarah pers di Aceh.

Bagi banyak orang, nama Sjamsul Kahar mungkin lebih dikenal sebagai tokoh di balik harian Serambi Indonesia. 


Namun, bagi dunia pers, jejaknya jauh lebih panjang. Ia adalah wartawan yang menjalani profesinya dalam rentang sejarah yang Panjang -- melewati perubahan zaman, pergolakan politik, konflik Aceh, hingga bencana tsunami 2004 yang nyaris menghapus seluruh jejak fisik Serambi Indonesia.

Serambi Indonesia dirintis dan didirikan oleh M. Nourhalidyn dan H. Sjamsul Kahar. Pada 9 Februari 1989, Mimbar Swadaya bertransformasi menjadi harian Serambi Indonesia, dengan Nourhalidyn sebagai Pemimpin Umum dan Sjamsul Kahar sebagai Pemimpin Redaksi. Saat itu, Sjamsul juga dikenal sebagai wartawan Kompas di Aceh. 

Dari situlah sebuah sejarah besar pers Aceh kemudian tumbuh. Tetapi perjalanan itu sama sekali tidak mudah.

Serambi Indonesia pernah menghadapi tekanan akibat konflik Aceh. Kemudian tsunami 26 Desember 2004 menghantam kantor dan fasilitas produksinya. Sejumlah wartawan dan karyawan menjadi korban. Koran itu bahkan sempat berhenti terbit. Namun, pers mempunyai naluri untuk bertahan.

Beberapa hari setelah tsunami, Serambi Indonesia kembali hadir. Dalam situasi ketika Aceh sedang berduka dan masyarakat membutuhkan informasi, surat kabar itu kembali menjalankan fungsi jurnalistiknya. Pengalaman tersebut kemudian menjadi salah satu catatan penting dalam sejarah pers Indonesia. 

Di tengah sejarah itulah nama Sjamsul Kahar menjadi penting.

Ia bukan sekadar orang yang bekerja di sebuah perusahaan pers. Ia adalah bagian dari generasi wartawan yang mengalami langsung bagaimana pers bekerja ketika keadaan tidak normal -- ketika sebuah berita bukan sekadar komoditas informasi, tetapi juga menjadi cara masyarakat memahami apa yang sedang terjadi di sekeliling mereka.

Karena itu, menyebut Sjamsul Kahar sebagai wartawan senior rasanya belum cukup. Ia adalah saksi tiga zaman.

Ia menyaksikan perubahan Indonesia dari masa Orde Baru, Reformasi, hingga era demokrasi digital. Ia melihat bagaimana teknologi mengubah wajah media, bagaimana surat kabar bertransformasi, dan bagaimana profesi wartawan terus berhadapan dengan tantangan baru.

Yang lebih penting, ia meninggalkan sebuah warisan. Warisan itu bukan hanya Serambi Indonesia. Warisan itu adalah tradisi jurnalistik, keberanian untuk menjaga ruang informasi, dan keyakinan bahwa masyarakat membutuhkan pers yang hadir di tengah kehidupan mereka.

Hari ini, ketika kabar tentang kepergiannya sampai kepada kita, ingatan tentang sosoknya pun kembali mengemuka.

Ada kalimat Aceh yang terasa begitu tepat untuk melepas kepergiannya: “Donya nyoe asoe peunawa, akhirat nyoe asoe keu abadi.” Dunia ini tempat bertanam. Akhirat adalah tempat keabadian.

Pak Sjamsul Kahar telah menanam. Di dunia jurnalistik, ia menanam kata, berita, keberanian, pengalaman, dan sebuah tradisi yang kemudian tumbuh menjadi bagian dari sejarah pers Aceh. Kini tibalah waktunya beliau menuju keabadian.

Hormat kita yang mendalam untuk seorang wartawan tangguh yang telah melewati zaman dan meninggalkan jejak panjang dalam sejarah pers Indonesia.

Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa dan kekhilafan almarhum, menerima seluruh amal ibadahnya, melapangkan kuburnya, serta menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya.

Dan untuk keluarga yang ditinggalkan, khususnya Bapak Nezar Patria dan keluarga besar, semoga diberikan kekuatan dan ketabahan.

Selamat jalan, Pak Sjamsul Kahar. Jalan panjang itu telah selesai. Kenangan dan warisan jurnalistik Anda akan tetap hidup.

Satrio Arismunandar
Mantan jurnalis Harian Kompas (1988-1995)

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Diburu Kolektor, BI Cetak Lagi Rupiah Tanda Tangan Purbaya

Jumat, 25 September 2026 | 00:17

DPRD DKI: Perkuat Fungsi Edukasi dan Kebudayaan di TIM

Jumat, 25 September 2026 | 00:04

Pelunasan BLBI Jadi Tonggak Penyelesaian Krisis 1997-1998

Kamis, 24 September 2026 | 23:37

Tim Hukum: Tak Ada Saksi Sebut Heri Susanto Terima Suap

Kamis, 24 September 2026 | 23:19

Sufmi Dasco akan Kukuhkan Pengurus APKLI Merah Putih

Kamis, 24 September 2026 | 23:00

Tagihan Cicilan Kopdes Merah Putih Rp37,7 Triliun Jatuh Tempo Besok

Kamis, 24 September 2026 | 22:59

Warisan Kwik Kian Gie untuk Indonesia

Kamis, 24 September 2026 | 22:48

DPR Minta Basarnas Lanjutkan Pencarian Jurnalis Hilang di Selat Sunda

Kamis, 24 September 2026 | 22:26

Tokoh Adat Papua Kecam Penembakan Tiga Warga Sipil di Muliama

Kamis, 24 September 2026 | 22:23

Menko Yusril Pastikan Media Bebas Meliput di Lapas Cibinong

Kamis, 24 September 2026 | 22:11

Selengkapnya