Berita

Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti. (Foto: RMOL/Alifia Dwi)

Bisnis

Bos BI Ungkap Biang Kerok Kredit Nganggur Tembus Rp2.548 Triliun

JUMAT, 25 SEPTEMBER 2026 | 03:05 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Bank Indonesia (BI) mencatat fasilitas kredit perbankan yang belum disalurkan atau undisbursed loan (UL) mencapai sekitar Rp2.548 triliun pada Juli 2026.

Gubernur BI Destry Damayanti menjelaskan, tingginya UL tidak bisa dilihat hanya dari sisi perbankan. Kondisi tersebut, menurutnya berkaitan dengan dua faktor sekaligus, yakni permintaan (demand) dari debitur dan kemampuan atau minat perbankan dari sisi penawaran (supply).

"Kita memang melihat Rp2.500an itu relatifly flat. Angkanya di situ dan memang kalau kita lihat kenapa undisbursed loan-nya seperti itu Rp2.500an triliun, kan ada dua sisi, sisi supply sama sisi demand," kata Destry dalam konferensi pers di Kantor Pusat BI, Jakarta, Kamis 24 September 2026.


Menurut Destry, BI bersama Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) terus mencermati perkembangan UL yang masih berada di kisaran Rp2.500 triliun tersebut.

Dari sisi permintaan, pertumbuhan kredit hingga kuartal II 2026 masih banyak ditopang oleh pemerintah (government led). Namun, kondisi mulai berubah karena aktivitas sektor swasta mulai menunjukkan peningkatan.

"Tapi data terakhir, kita melihat sektor swasta itu sudah mulai bergerak. Sudah mulai bergerak naik,” kata Destry.

"Jadi artinya dari sisi demand-nya, itu sudah mulai ada. Geliat untuk melakukan kredit," lanjut dia.

Pergerakan tersebut turut menjadi salah satu pertimbangan BI dalam menentukan kebijakan suku bunga. BI melihat adanya potensi penguatan aktivitas ekonomi apabila permintaan kredit dari sektor swasta terus meningkat.

"Nah, inilah yang membuat kenapa juga kami kemarin menahan suku bunga, ya, BI Rate kami, karena kami melihat ini ada potensi,” kata Destry.

Di sisi lain, persoalan UL juga berkaitan dengan perilaku perbankan dalam menyalurkan kredit. 

Menurutnya, ketika permintaan kredit masih lemah, sebagian bank memilih menempatkan dananya pada surat-surat berharga (SSB), termasuk Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

"Nah, kita melihat memang banyak bank instead of, karena demand-nya juga kemarin masih agak lemah, instead of menyalurkan kredit, dia menempatkan pada surat-surat berharga, baik itu SBN ataupun SRBI," tandas Destry.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

UPDATE

Diam-diam Nusron Wahid Datang ke KPK Tanpa Penjadwalan Pemeriksaan

Rabu, 04 November 2026 | 10:26

Harga Minyak Dunia Turun ke 103 Dolar AS

Rabu, 04 November 2026 | 10:17

Skandal Listyo Sigit jadi Pintu Masuk Seret Jokowi-Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 10:13

Kapolri Terlama yang Sukses Tanam Jagung jadi Tersangka Penyadapan Presiden, Mahfud MD: Gila!

Rabu, 04 November 2026 | 09:51

Laporan Keuangan Danantara Ditarget Rampung November 2026

Rabu, 04 November 2026 | 09:45

PT Djarum Bayar Cukai Tak Semestinya, Negara Rugi Triliunan Rupiah

Rabu, 04 November 2026 | 09:45

Prabowo Saja Bisa Disadap Apalagi Rakyat Jelata

Rabu, 04 November 2026 | 09:41

Perkuat Hilirisasi, NTB Berpeluang Jadi Sentra Industri Kelapa

Rabu, 04 November 2026 | 09:33

Listyo Sigit Lakukan Kejahatan Paling Jahat

Rabu, 04 November 2026 | 09:30

IHSG Merah, Mayoritas Saham Berguguran

Rabu, 04 November 2026 | 09:20

Selengkapnya