Berita

Plt Direktur Penyidikan KPK, Achmad Taufik Husein (kiri) Foto: RMOL/Jamaludin Akmal

Hukum

KPK Ungkap Potensi Asset Recovery Kasus Pemkot Bengkulu Bisa Lebih Besar dari Rejang Lebong

KAMIS, 24 SEPTEMBER 2026 | 12:03 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menilai potensi pemulihan aset (asset recovery) dalam pengembangan perkara dugaan suap proyek di wilayah Bengkulu masih sangat besar. 
Nilai tersebut bahkan berpotensi bertambah secara signifikan apabila praktik serupa terbukti terjadi pada proyek-proyek di Kota Bengkulu maupun daerah lainnya.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Penyidikan KPK, Achmad Taufik Husein, mengungkapkan bahwa dari satu kegiatan proyek saja dalam perkara Rejang Lebong, potensi pemulihan asetnya telah mencapai puluhan miliar Rupiah. Oleh karena itu, KPK kini tengah meneliti potensi serupa dari proyek-proyek lain yang sedang didalami.

"Karena tentunya asset recovery dari satu kegiatan proyek saja di Rejang Lebong itu mencapai sekitar puluhan miliar begitu, jadi kita mempertimbangkan bagaimana dengan proyek-proyek yang lain di daerah yang lain," kata Taufik kepada wartawan di Jakarta, Kamis, 24 September 2026.


Taufik menerangkan, cakupan pengembangan perkara ini tergolong luas. Sejak awal, KPK menemukan adanya pihak swasta yang diduga menjalankan modus operandi serupa dengan praktik yang terungkap dalam operasi tangkap tangan (OTT) Bupati Rejang Lebong.

"Jadi ini cukup banyak, sehingga kami butuh waktu dari tim penyidik menyampaikan untuk tidak terbuka ke publik terlebih dahulu karena ada strategi-strategi penyidikan yang akan dikemas oleh tim," ujarnya.

Selain itu, lembaga antirasuah ini juga masih mendalami peran sejumlah pihak, termasuk beberapa anggota DPRD dan kepala dinas yang telah masuk dalam radar pemeriksaan.

"Termasuk untuk peran-peran tadi yang sudah disebutkan ada beberapa anggota DPR dan kepala dinas juga, ini masih terus didalami, sehingga kami akan memaksimalkan," imbuh Taufik.

Besarnya potensi asset recovery tersebut tecermin dari rangkaian penyitaan yang telah dilakukan KPK dalam pengembangan kasus di Kota Bengkulu.

Penyitaan ini di antaranya mencakup sejumlah kendaraan yang diduga berkaitan dengan pemberian aset dari pengusaha Eno Bowo Susilo (EBS) kepada anggota DPRD Kota Bengkulu, Vinna Ledy Anggraheni. Pada Selasa, 22 September 2026, KPK menyita satu unit Toyota Kijang Innova Zenix milik Vinna yang diduga pemberian Eno, namun diatasnamakan serta digunakan sehari-hari oleh adik Vinna, Dian Andhini Anggraheni.

Sehari sebelumnya, KPK juga menyita satu unit Mercedes-Benz milik Vinna yang diatasnamakan Rani Sorayya, seorang kerabatnya. Sebelumnya, penyidik bahkan telah mengamankan satu unit Daihatsu Pajero Dakar milik Vinna serta menyita satu unit rumah mewah di Jakarta Selatan pada 31 Agustus 2026 yang diduga kuat berkaitan dengan perkara ini.

Kendati demikian, Taufik menegaskan bahwa deretan penyitaan tersebut baru permulaan dari proses pengembangan yang masih terus berjalan. KPK saat ini masih menghitung total keseluruhan aset yang terhubung dengan proyek-proyek lain di Bengkulu.

"Jadi akan sangat banyak, sehingga kemarin sudah dapat beberapa hasil penyitaan-penyitaan aset yang diduga ada kaitannya dengan proyek-proyek yang dilakukan oleh pihak swasta tersebut," pungkas Taufik.

Sebagai informasi, pengembangan perkara ini bermula dari OTT KPK di Kabupaten Rejang Lebong pada 9 Maret 2026. Dalam kasus awal tersebut, KPK menetapkan lima orang tersangka, yakni Bupati Rejang Lebong Muhammad Fikri Thobari, Kepala Dinas PUPRPKP Hary Eko Purnomo, serta tiga pihak swasta masing-masing Irsyad Satria Budiman, Edi Manggala, dan Youki Yusdiantoro.

Penyidikan kemudian dilebarkan ke Kota Bengkulu dan wilayah lain di Provinsi Bengkulu guna mendalami dugaan praktik suap ijon proyek, termasuk proyek Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), serta aliran dana dan aset kepada pihak-pihak terkait.


Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

UPDATE

Investasi Jakarta Tertinggi Nasional, Tumbuh 22,1 Persen

Rabu, 04 November 2026 | 00:34

Pemerintah Optimis Polri Bakal Bongkar Aktor Intelektual Penyadapan Presiden

Rabu, 04 November 2026 | 00:20

Geledah Pukul 03.20

Rabu, 04 November 2026 | 00:04

Peduli Karhutla, PKSS Salurkan Ribuan Masker dan Susu Steril

Selasa, 03 November 2026 | 23:43

Listyo Sigit Cs Salah Pilih Lawan, Akhirnya Masuk Penjara

Selasa, 03 November 2026 | 23:22

WNA China Praperadilkan BNN di PN Jaktim terkait Narkoba

Selasa, 03 November 2026 | 23:00

Ditanya soal Gibran Ikut Disadap, Yusril: Wallahu A'lam bish-Shawab

Selasa, 03 November 2026 | 22:45

TEI 2026 jadi Pintu Ekspor Produk Sawit dan Pangan Indonesia

Selasa, 03 November 2026 | 22:32

Ini Kronologi Penyadapan Prabowo oleh Listyo Sigit Dkk

Selasa, 03 November 2026 | 22:29

Prabowo Bekali 400 Calon Pemimpin BUMN dengan Nilai Integritas dan Nasionalisme

Selasa, 03 November 2026 | 22:13

Selengkapnya