Berita

Ilustrasi (Foto: RMOL/Reni Erina)

Bisnis

Kredit Investasi Melaju 25,11 Persen, Jadi Motor Penguatan Intermediasi Bank

KAMIS, 24 SEPTEMBER 2026 | 10:14 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Ekspansi pembiayaan untuk investasi menjadi penopang utama pertumbuhan kredit perbankan pada Agustus 2026. Bank Indonesia (BI) mencatat kredit investasi tumbuh 25,11 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), menjadi yang tertinggi dibandingkan jenis kredit lainnya.

Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan pertumbuhan kredit investasi tersebut menjadi bagian dari penguatan intermediasi perbankan yang secara keseluruhan mencapai 13,65 persen (yoy) pada Agustus 2026. Angka tersebut meningkat dibandingkan pertumbuhan pada Juli 2026 yang sebesar 13,58 persen.

Selain kredit investasi, pertumbuhan juga terjadi pada kredit modal kerja dan kredit konsumsi. Kredit modal kerja tumbuh 11,45 persen (yoy), sedangkan kredit konsumsi meningkat 5,07 persen (yoy).


"Perkembangan positif intermediasi perbankan didukung oleh kebijakan makroprudensial longgar yang terus ditempuh Bank Indonesia melalui optimalisasi Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM)," ujar Destry dalam keterangannya, dikutip di Jakarta, Kamis 23 September 2026.

Dukungan likuiditas tersebut terus diperkuat melalui penyaluran insentif KLM. Hingga pekan pertama September 2026, insentif yang telah disalurkan mencapai Rp461,2 triliun.

Dari jumlah tersebut, Rp338,2 triliun merupakan alokasi KLM financing channel dan Rp123 triliun untuk KLM Pendalaman Pasar Uang (PPU).

Di sisi lain, kemampuan perbankan dalam menyalurkan pembiayaan turut ditopang pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang mencapai 10,94 persen (yoy).

Penguatan kredit tersebut berlangsung di tengah kondisi industri perbankan yang tetap solid. Rasio kecukupan modal atau CAR tercatat 23,84 persen pada Juli 2026.

Sementara itu, rasio kredit bermasalah atau NPL berada pada level 2,10 persen secara bruto dan 0,81 persen secara neto. Rasio alat likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) juga masih terjaga di level 23,04 persen pada Agustus 2026.

BI memastikan kebijakan makroprudensial yang akomodatif akan terus diarahkan untuk menjaga momentum penyaluran kredit, khususnya dalam mendukung aktivitas ekonomi.

"Ke depan, Bank Indonesia akan terus mengoptimalkan kebijakan makroprudensial yang akomodatif untuk mendorong pertumbuhan kredit/pembiayaan dalam rangka mendukung pertumbuhan ekonomi dengan tetap menjaga stabilitas sistem keuangan," kata Destry.

Untuk keseluruhan 2026, BI memperkirakan pertumbuhan kredit tetap berada dalam kisaran 8-12 persen. Proyeksi tersebut mencerminkan upaya menjaga keseimbangan antara dorongan terhadap pertumbuhan ekonomi dan stabilitas sistem keuangan.

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Menelusuri Perjalanan Baru Vision dalam Serial VisionQuest

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:29

Usai Mandek, Harga Emas Antam Langsung Anjlok Hari Ini

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:22

Polisi Rilis 13 Korban Ledakan Pertokoan Pasar Cimanggis Tangsel

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:17

COP31 Jadi Momentum Prabowo Percepat Transisi Energi

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:08

PM Baru Maroko Temui Raja, Bahas Pembentukan Pemerintahan Baru

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:03

Pertamina Kerahkan Armada Tambahan dan Terminal 24 Jam untuk Normalisasi BBM di Bal

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:54

4,4 Juta Sertifikat Halal Terbit Jelang Batas Akhir, Didominasi UMKM

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:46

Pengamat Dorong Percepatan Jargas dan CNG untuk Tekan Impor LPG

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:42

Rupiah Nyaris Tembus Rp18.000 per Dolar AS, BI Langsung Buka Suara

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:38

Badai PHK Melanda Netflix Saat Pertumbuhan Melambat

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:27

Selengkapnya