Berita

Anthony Norman Lianto. (Foto: Istimewa)

Politik

Nyaman di Australia, Anthony Norman Akhirnya Pulang Mengabdi di Indonesia

RABU, 23 SEPTEMBER 2026 | 23:16 WIB | LAPORAN: AHMAD KIFLAN WAKIK

Seindah apapun negeri orang, kampung halaman tetap dirindukan. Begitulah yang dihadapi politisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Anthony Norman Lianto yang akrab dipanggil Norman. 

Setelah menjalani kehidupan di luar negeri, Norman memilih kembali ke Indonesia dan terlibat dalam berbagai kegiatan sosial serta kemanusiaan. 

Norman cukup nyaman tinggal di Australia. Di negeri kangguru itulah jejaring Norman bersinggungan dengan partai yang baru berdiri di Indonesia, PSI. Dengan semangat mudanya, Norman memutuskan untuk pulang ke tanah air dan berjuang melalui PSI.


Norman mengatakan, kepulangannya ke Indonesia bukan semata-mata untuk membangun karier pribadi. Ia ingin menggunakan pengalaman dan jejaring yang dimilikinya untuk berkontribusi kepada masyarakat.

“Saya ingin pengalaman yang saya dapatkan di luar negeri digunakan untuk membantu masyarakat di negeri sendiri,” ujar Norman di Jakarta, Rabu 23 September 2026.

Keterlibatannya kemudian berkembang dari kegiatan sosial hingga penanganan bencana. Di lingkungan PSI, Norman dipercaya sebagai Direktur Tanggap Bencana DPP PSI. 

Menurut Norman, keputusan untuk kembali dan aktif di Indonesia memiliki konsekuensi tersendiri. Dunia sosial dan politik, kata dia, mempertemukannya dengan berbagai kepentingan dan perbedaan pandangan.

Di lapangan, Norman melihat realitas politik yang tak ideal. Dia menghadapi politik uang di mana-mana. Norman juga mengalami banyak serangan fitnah dan tuduhan tak berdasar. Namun dia tak patah arang dan terus berjuang sekuat tenaga untuk menghadirkan perubahan.

“Saya memahami bahwa ketika kita masuk ke ruang publik, tidak semua orang akan setuju dengan langkah yang kita ambil. Itu bagian dari konsekuensi yang harus saya terima,” katanya.

Salah satu tantangan yang cukup memusingkan adalah serangan politik. Menurut Norman, aktivitas sosial yang bersinggungan dengan ruang politik terkadang membuat dirinya menjadi sasaran kritik dan tudingan. Dia merasa dipojokkan.

“Yang paling berat bukan bekerja di lapangan. Yang lebih berat adalah ketika kerja yang kita lakukan kemudian ditarik ke kepentingan politik,” ujarnya.

Ia juga mengaku pernah menghadapi tudingan fitnah dan pencemaran nama baik yang tidak sesuai dengan kenyataan. Norman menyebut, tudingan semacam itu sebagai bagian dari upaya membelokkan persepsi publik terhadap dirinya.

“Saya tidak ingin membalas setiap tudingan dengan kemarahan. Kalau ada tuduhan, saya kira jawabannya harus fakta. Biarkan masyarakat menilai berdasarkan apa yang benar-benar kita kerjakan,” katanya.

Bagi Norman, persoalan tersebut tidak boleh menggeser perhatian dari tujuan awalnya kembali ke Indonesia. Ia mengatakan kegiatan kemanusiaan tetap menjadi salah satu ruang yang ingin dijalankannya.

“Kalau setiap serangan membuat kita berhenti, maka kita tidak akan pernah selesai melakukan sesuatu untuk masyarakat. Saya memilih tetap bekerja dan membuktikan melalui tindakan,” ujarnya.

Pengalaman menangani bencana juga memperkuat pandangannya mengenai pentingnya kerja kemanusiaan. Menurut dia, masyarakat yang terdampak bencana tidak membutuhkan perdebatan politik, melainkan bantuan yang cepat dan tepat.

Ia mengakui perjalanan pengabdiannya tidak selalu berjalan mulus. Namun, Norman mengatakan berbagai tantangan tersebut justru menjadi bagian dari proses yang harus dihadapi ketika seseorang memilih terlibat dalam kehidupan publik.

Ke depan, Norman menyatakan ingin memperluas keterlibatannya dalam kegiatan sosial, kemanusiaan, dan pemberdayaan masyarakat. Ia mengatakan pengalaman hidup di luar negeri justru membuatnya semakin memahami pentingnya memberikan kontribusi di negeri sendiri.

“Saya sudah memilih jalan ini. Saya ingin terus bekerja untuk Indonesia, terutama melalui kegiatan yang manfaatnya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat,” pungkasnya.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

KPK Terbitkan Sprindik Baru Terkait TPPU Wali Kota Madiun Maidi

Rabu, 23 September 2026 | 18:27

Pemerintah Sediakan Pendidikan Gratis Mulai TK hingga SMA Lewat Dana BOS

Rabu, 23 September 2026 | 18:19

IHSG-Rupiah Kompak Parkir di Zona Hijau Usai BI Tahan Suku Bunga

Rabu, 23 September 2026 | 17:58

Beli Tiket MotoGP Indonesia 2026 via wondr by BNI Diskon hingga Rp300 Ribu

Rabu, 23 September 2026 | 17:41

Anggota DPRD Hingga Petinggi LSM Diperiksa KPK dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 23 September 2026 | 17:38

Prabowo Bentuk Tim Khusus Kaji Rencana Gratiskan Kuliah di PTN

Rabu, 23 September 2026 | 17:34

Bos BI Ungkap Investasi Asing Masuk RI Rp7,1Triliun, Ditopang SBN

Rabu, 23 September 2026 | 17:18

Legislator Nasdem Dorong Pembenahan Pelayaran, Belajar dari Kereta Api

Rabu, 23 September 2026 | 17:09

Pemerintah Bisa Lebih Repot Bila Daya Beli Kelas Menengah Terus Tertekan

Rabu, 23 September 2026 | 17:01

Prabowo Pantau Karhutla Sumatra-Kalimantan, 209,78 Hektare Masih Dipadamkan

Rabu, 23 September 2026 | 16:52

Selengkapnya