Berita

Diskusi Publik bertajuk “Dinamika Nilai dan Orientasi Seksual Generasi Muda: Perspektif Perubahan Sosial” di Balai Sidang Universitas Indonesia (UI), Depok. (Foto: Dok UI)

Politik

MUI Ingatkan Hubungan Sesama Jenis di Luar Fitrah Keagamaan

RABU, 23 SEPTEMBER 2026 | 11:43 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Perbedaan orientasi seksual di tengah masyarakat tidak boleh menjadi pembenaran untuk melakukan perundungan, diskriminasi, apalagi kekerasan terhadap sesama manusia.

Penegasan itu disampaikan Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam Diskusi Publik bertajuk “Dinamika Nilai dan Orientasi Seksual Generasi Muda: Perspektif Perubahan Sosial” di Balai Sidang Universitas Indonesia (UI), Depok, Senin, 21 September 2026.

Diskusi yang diselenggarakan Forum Mahasiswa Sekolah Pasca Sarjana Pembangunan Berkelanjutan (Forma SPPB) UI ini membedah pergeseran nilai, identitas, dan relasi sosial generasi muda. 


Direktur SPPB UI, Prof. Dr. MT. Supriatna, menyampaikan bahwa pemahaman terhadap dinamika nilai generasi muda memerlukan pembacaan data yang cermat, pendampingan keluarga, serta ruang dialog di lingkungan akademis. Forum ini mempertemukan sudut pandang akademisi, lembaga hak asasi manusia, otoritas keagamaan, psikolog, dan praktisi hukum pidana.

Wakil Sekretaris Jenderal MUI, Dr. K. H. Arif Fahrudin, M.Ag., menjelaskan bahwa ajaran Islam menuntut umatnya untuk mengedepankan prinsip kasih sayang atau rahmatan lil 'alamin dan menolak segala bentuk pemaksaan maupun kekerasan dalam interaksi sosial.

"Saya sangat setuju bahwa tidak boleh adanya perundungan, tidak boleh adanya diskriminasi. Tidak boleh adanya kekerasan yang didasarkan atas perbedaan orientasi seksual. Itu clear. Karena bagaimanapun juga, Islam itu diturunkan hanya satu, yaitu menebarkan kasih sayang untuk seluruh umat manusia," ujar Kiai Fahrudin.

Dalam pemaparannya, Kiai Fahrudin membedakan antara ranah batin (forum internum) dan tindakan nyata di ruang publik (forum eksternum). Berdasarkan kaidah teologi Islam Nahnu nahkumu bidzwahir wallahu ya'lamu bisarair, manusia hanya memiliki kapasitas menilai hal-hal yang bersifat fisik dan terlihat. 

Sementara itu, perasaan, pikiran, dan keyakinan di dalam batin seseorang merupakan ranah pribadi antara individu dengan Tuhan yang tidak boleh dihakimi oleh manusia lain.

Kiai Fahrudin menyebutkan bahwa norma agama dan fatwa MUI berfokus pada pengaturan perilaku konkret di ruang publik. Dalam kerangka syariat Islam, hubungan seksual yang sah secara hukum agama hanya berlaku bagi pasangan suami istri dalam ikatan pernikahan antara laki-laki dan perempuan. Pandangan MUI menempatkan hubungan seksual sesama jenis di luar kerangka fitrah keagamaan.

"Orientasi masih dalam forum internum, di dalam diri seseorang, itu tidak bisa dihakimi. Yang bisa dilihat oleh norma adalah ketika sudah masuk ke forum eksternum, yaitu berinteraksi dengan orang lain di ranah sosial, misalnya hubungan seksual," kata Kiai Fahrudin.

Kiai Fahrudin juga mengingatkan bahwa penerapan hak asasi manusia di Indonesia memiliki pijakan konstitusional tersendiri. Merujuk Pasal 28J UUD 1945, pelaksanaan HAM di tanah air dibatasi oleh undang-undang dengan mempertimbangkan moralitas, nilai-nilai keagamaan, keamanan, dan ketertiban umum. Ia mendorong agar setiap silang pendapat di masyarakat diselesaikan melalui dialog yang santun, elegan, dan penuh kebijaksanaan (wisdom).

Diskusi publik ini turut diperkaya oleh pandangan narasumber lain. Komisioner Komnas Perempuan RI, Dr. Raden Roro Sri Agustini, S.H., M.H., menekankan pentingnya membedakan jenis kelamin biologis, gender, identitas gender, dan orientasi seksual untuk mencegah timbulnya stigma serta kekerasan berbasis gender online yang marak menimpa perempuan muda.

Dari sudut pandang mahasiswa Islam, Ketua Umum PB Kopri PMII, Wulansari Alius Shihah, S.Si., M.I.Kom., menyampaikan bahwa organisasinya memegang teguh nilai keislaman wasathiyah (moderat). Sikap tersebut diwujudkan melalui prinsip tegas menjaga nilai-nilai keagamaan, namun tetap memperlakukan setiap individu secara manusiawi tanpa kebencian.

Direktur PT Youth Personal Consulting sekaligus dosen psikologi, Muhammad Reza, M.Psi., Psikolog, menguraikan pentingnya pendampingan kesehatan mental dan edukasi bagi remaja yang sedang dalam fase pencarian identitas agar terhindar dari depresi akibat pengucilan sosial. 

Dari sisi hukum, Ketua Umum Asosiasi Advokat Anak Indonesia Emas (AAAIE), Aldi Rizki Khairuddin, S.H., M.H., mengingatkan agar persoalan sosial dan moralitas diselesaikan melalui pendekatan hukum yang holistik, dengan sanksi pidana penjara sebagai opsi terakhir.

Diskusi publik ini diakhiri dengan kesepahaman mengenai pentingnya menjaga ruang dialog yang terbuka, objektif, dan bermartabat. Seluruh pemateri sepakat bahwa penanganan dinamika nilai generasi muda membutuhkan pendekatan multidimensi yang memprioritaskan perlindungan kemanusiaan, penegakan hukum yang adil, serta penghormatan terhadap norma keagamaan dan budaya di Indonesia.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

UPDATE

Jaga Produktivitas dan Kelestarian, Agrinas Palma-BNPB Sinergi Tangkal Karhutla

Selasa, 03 November 2026 | 14:10

Kerja Sama Korea-Indonesia Perkuat Transformasi Digital Koperasi

Selasa, 03 November 2026 | 14:06

Gibran Selalu Dibela Mati-matian oleh Barisan Pendukungnya

Selasa, 03 November 2026 | 14:01

KPK Lepas Dua Pejabat Asal Kejagung, Mungki Hadipratikto Bakal Bertugas di BGN

Selasa, 03 November 2026 | 14:00

Babak Baru Piala Asia 2027, Alasan dan Jadwal Terbaru Penundaan Turnamen

Selasa, 03 November 2026 | 13:56

Kemlu Benarkan Dua WNI Tewas Saat Memancing di Jepang

Selasa, 03 November 2026 | 13:49

Fraksi Gerindra Belum Bersikap soal Putusan MA terkait Gibran

Selasa, 03 November 2026 | 13:45

Ketua KPK Pastikan Dalam Waktu Dekat Panggil Nusron Wahid

Selasa, 03 November 2026 | 13:35

PKS Minta Pemerintah Bebaskan PPN Produk Pembalut

Selasa, 03 November 2026 | 13:29

Soal Boikot Raffi Ahmad, Sosiolog Ingatkan Tanda Kehancuran Negara Bersumber dari Internal

Selasa, 03 November 2026 | 13:11

Selengkapnya