Berita

Ompreng MBG di sebuah sekolah di Jakarta Selatan (Foto: Reni Erina)

Nusantara

Sekolah Cukup Awasi MBG, Tak Perlu Kelola Dapur

SELASA, 22 SEPTEMBER 2026 | 07:19 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Gagasan mengalihkan pengolahan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) ke dapur berbasis sekolah dinilai perlu dikaji secara hati-hati. Alih-alih menyelesaikan persoalan, kebijakan tersebut berisiko memindahkan beban operasional ke sekolah yang belum memiliki infrastruktur dan sumber daya memadai.

Pengamat Kebijakan Publik sekaligus Direktur Eksekutif Policiate Indonesia, Redi Liana, menilai sekolah lebih tepat diperkuat sebagai pengawas akhir dan pemberi umpan balik, sementara pengolahan makanan tetap ditangani unit yang memang memiliki fungsi dan kapasitas untuk itu.

“Terkadang ide (pemindahan dapur) tidak selalu datang dari pemahaman masalah yang utuh, kadang juga datang dari imajinasi warung kopi semata. program MBG memiliki kompleksitas masalah yang luar biasa, kualitas dan keamanan pangan tentu sangat-sangat penting, namun untuk memastikan itu berjalan tidak semudah hanya dengan mengalihkan operasional," ujar Redi dalam pernyataannya di Jakarta, dikutip Selasa 22 September 2026. 


"Dengan kompleksitas masalah yang ada, yang harus diwaspadai justru jangan sampai - dengan dialihkan pada School Based Kitchen - yang terjadi hanya memindahkan masalah dari satu tempat ke tempat yang lain,” tambahnya.

Menurut Redi, penerapan konsep School Based Kitchen secara luas akan menimbulkan persoalan baru, terutama di tengah kesenjangan fasilitas antar sekolah di Indonesia.

“Hal pertama yang akan langsung terasa adalah beban infrastruktur, dengan konsep School Based Kitchen maka sekolah wajib memiliki fasilitas khusus untuk penyimpanan seperti freezer dan gudang, kemudian suplai air bersih yang memadai dan konsisten, dan tentunya sistem pembuangan limbah yang memadai,” tambahnya.

Karena itu, Redi menilai kedekatan sekolah dengan penerima manfaat tidak harus diikuti dengan pengambilalihan fungsi dapur. Sekolah dapat berperan memeriksa makanan saat diterima, mencatat ketidaksesuaian, melaporkan persoalan, dan menghentikan pembagian apabila ditemukan risiko keamanan pangan.

Arah tersebut sejalan dengan langkah Badan Gizi Nasional (BGN) yang menyiapkan aplikasi rating bagi sekolah untuk menilai layanan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Melalui mekanisme itu, sekolah dapat memberikan penilaian dan catatan terkait kualitas menu, ketepatan waktu pengiriman, maupun persoalan lain dalam pelaksanaan MBG.

Dalam skema pengawasan berlapis, SPPG tetap bertanggung jawab atas pengadaan bahan, pengolahan, pemenuhan gizi, kebersihan, dan distribusi. BGN mengawasi kinerja serta menindaklanjuti pengaduan, sementara sekolah menjadi pengawas di titik penerimaan.

Pengawasan teknis juga melibatkan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), termasuk melalui pencegahan, penelusuran dan tindak lanjut perbaikan, serta surveilans melalui sampling dan pengujian.

Dengan pembagian tersebut, pemerintah tidak harus menerapkan satu model dapur untuk seluruh wilayah. Dapur berbasis sekolah dapat menjadi pilihan di daerah yang memiliki kesiapan infrastruktur dan sumber daya, bukan kewajiban nasional.

Menurut Redi, yang lebih penting adalah memastikan setiap laporan dari sekolah memiliki tindak lanjut yang jelas dan terukur, sehingga pengawasan tidak berhenti pada pemberian rating atau keluhan, tetapi benar-benar menjadi bagian dari sistem pengendalian kualitas MBG.


Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Rencana Insentif MBG Rp1 Triliun Tuai Kritik dari DPR

Kamis, 29 Oktober 2026 | 15:47

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

UPDATE

Perempuan Tani HKTI Terapkan Teknologi IoT, Pangkas Penggunaan Pupuk hingga 50 Persen

Minggu, 01 November 2026 | 12:32

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

PTKIN Siapkan Langkah agar Inovasi Mahasiswa Tak Berhenti di Ajang Lomba

Minggu, 01 November 2026 | 11:56

Kloter Pertama Haji 2027 Terbang 11 April, Ini Jadwal Lengkapnya

Minggu, 01 November 2026 | 11:50

Imigrasi Sudah Cegah Ahmad Dedi ke Luar Negeri Atas Permintaan KPK

Minggu, 01 November 2026 | 11:36

Puluhan Orang Diamankan Polisi saat Gerebek Kampung Bahari

Minggu, 01 November 2026 | 11:30

Maroko Sambut Keputusan PBB Akhiri Misi MINURSO di Sahara Barat

Minggu, 01 November 2026 | 11:17

Citra Polri Bisa Rusak Akibat Dua Kejadian Ini

Minggu, 01 November 2026 | 11:05

Ombudsman Ingatkan Polri Jaga Etika dan Hormati HAM saat Penggeledahan

Minggu, 01 November 2026 | 10:48

PPK Ajak Masyarakat Berperan bersama Presiden Prabowo Wujudkan Kedaulatan

Minggu, 01 November 2026 | 10:42

Selengkapnya